"Gue cuma mau ngasih ini. Semoga cepet sembuh." Ujar Zeris dengan tersenyum lembut sembari menaruh buket mawar yang ia bawa diujung brangkar. Gadis itu menarik kakinya ketika bunga Zeris letakkan, dan laki-laki itu menghela napas menyadarinya.
Tidak menunggu lama ia berpamitan dan berniat pergi sebelum seseorang tiba-tiba masuk dengan wajah sok polosnya. Reiro tambah emosi dibuatnya, ia tertawa remeh.
"Ternyata lo bawa cewe udik ini." Sarkas Reiro menatap Aery dari atas sampai bawah seolah ia makhluk rendahan yang menjijikan.
"Maaf. Aku cuma mau ngasih tau Zeris, kalo masih lama kita bakal telat ke sekolah." Kalimatnya yang terdengar seolah ketakutan dan bersiap akan menangis semakin membuat Reiro jengah.
Zeris kesal mendengarnya, bukan karena Aery tapi karena menurutnya Reiro sudah kelewatan. Ia berbalik mendekati Reiro yang masih menampilkan wajah meremehkannya.
"Lo punya masalah apa sih sama Aery?" Tanya Zeris masih mencoba sabar dan hanya menatap Reiro datar.
"Pikir aja. Kalo lo masih waras seharusnya sikap lo sama kaya gue." Kenapa setiap kalimat yang keluar dari laki-laki itu menjengkelkan dan membuat emosi. Setidaknya bagi Zeris begitu.
"Jaga mulut lo." Menunjuk wajah tanpa dosa Reiro yang tersenyum lebar. Ruvha sempat berpikir apakah Reiro sudah mulai gila, atau pengendalian emosinya memang sangat bagus.
"Lagian apasih yang dia kasih sampe lo sama sekali ga liat kebusukannya. Harta? dia ga punya. Cantik? masih banyak kok yang lebih cantik. Perhatian? Cewe yang ngejer lo banyak dan jauh lebih perhatian dari pada princess udik lo satu ini. Hmm... atau jangan-jangan dia udah-" Lagi-lagi wajah menjengkelkannya membuat siapapun kesal apalagi dengan kalimat jahatnya itu seolah menimbang hal yang tidak perlu.
Bughh
Pukulan keras mendarat dirahang Reiro membuatnya sedikit limbung. Zeris sudah sangat kesal mendengar penuturannya yang terkesan sangat merendahkan Aery didepan gadis itu sendiri. Ruvha terkejut tidak menyangka Zeris benar-benar memukul Reiro, meskipun ia akui perkataan Reiro sudah kelewatan.
Aery maju dan menahan Zeris yang akan kembali memukul, menenangkannya dan berkata "Udah Zeris aku gapapa."
"What?! Apa katanya barusan?" Batin Ruvha tak habis pikir, sedikit heran dengan gadis bernama Aery itu.
Sambil memegang rahangnya yang sedikit ngilu Reiro bukannya kesal atau berniat membalas ia malah tersenyum mengejek. Kali ini Ruvha yakin laki-laki itu sudah benar-benar sudah gila.
"Gue belum selesai ngomong, kenapa lo emosi. Atau apa yang mau gue omongin itu... bener ya?" Saking gilanya ia justru melanjutkan ocehannya yang menyulut emosi, menatap Aery dengan pandangan rendah itu lagi serta senyuman khasnya masih terpatri jelas tidak mau lepas.
Semakin kesal Zeris kembali akan memukulnya namun tentu saja Reiro tidak akan membiarkan wajahnya dipukul lebih dari ini, dan keduanya pun saling memukul satu sama lain.
Ruvha hanya menonton tanpa niat memisahkan biarkan saja Aery yang sedari tadi terus mencoba memisahkannya meski gagal. Toh Reiro terlihat tidak kewalahan justru dirinya lebih mendominasi dalam perkelahian mereka. Sejujurnya meski sedikit takut Ruvha masih sangat kesal dengan Zeris, ia senang melihat wajah itu lebam serta darah yang terlihat diujung bibir dan hidungnya. Ia bahkan bersuara dalam hati berharap Reiro lebih brutal lagi, kalau bisa sampai laki-laki brengsek itu pingsan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Teen FictionJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
