Khawatir

156 5 0
                                        

Foral berlari tergesa setelah sampai didepan rumah sakit yang dikatakan Zeris, disusul Ruan yang kembali setelah memarkirkan mobilnya. Dengan perasaan cemas dan khawatir yang meliputi, Foral terus berdoa dengan penuh harap akan keselamatan Ruvha.

Ia belum mengetahui sepenuhnya bagaimana kondisi temannya itu, namun apa yang Zeris katakan melalui telpon berhasil membuatnya kalut, dan disaat dirinya panik, Ruan tiba dikediamannya entah untuk urusan apa. Ketika mengetahui apa yang terjadi laki-laki itu langsung menarik Foral untuk pergi bersama.

Disinilah mereka sekarang, berdiri tidak jauh dari seseorang yang tampak kacau terduduk dengan baju yang dipenuhi darah dan rambut yang masih terlihat sedikit basah, serta raut cemas yang tergambar jelas diwajah tampannya.

Foral berdiri dihadapan Zeris membuatnya menoleh keatas memastikan siapa yang datang.

"Ruvha kenapa?" Pertanyaan yang keluar pertama kali dari mulutnya membuat Zeris harus menjelaskan. Bagaimanapun juga ia yang menghubungi Foral.

"Dia lompat ke kolam dari lantai kamarnya." Kalimat itu berhasil membuat Foral syok dan sedikit limbung,  untungnya Ruan ada didekat mereka sehingga menuntunnya untuk duduk disebelah Zeris.

Perlahan airmatanya mengalir dengan rasa tidak percaya, bagaimana bisa temannya itu mencoba mengakhiri hidupnya. Apa yang ia lewatkan, apa yang tidak ia ketahui, selama ini gadis itu selalu terlihat baik-baik saja dengan sikapnya yang seolah acuh menghadapi semua masalah yang ada.

"Itu darah Ruvha dibaju lo?" Kali ini Ruan yang bersuara membuat Foral menoleh dan menyadari milik siapa darah itu.

Zeris melihat bajunya dan baru menyadari banyaknya darah dikaos putihnya.

Kemudian tiba-tiba pintu ruangan dihadapan mereka terbuka dengan seorang dokter diiringi beberapa perawat yang mendorong ranjang dengan Ruvha diatasnya yang masih memejamkan mata. Mereka reflek berdiri dan mendekati Ruvha memastikan keadaannya.

Dokter yang baru saja menanganinya mencoba mengatakan kondisi Ruvha yang sebelumnya cukup mengkhawatirkan apalagi dengan benturan keras dikepalanya, namun untungnya ia dengan cepat dibawa kerumah sakit membuat keadaannya kini sudah mulai stabil. Mereka bertiga bernapas lega serta Foral yang kembali menangis.

Kini Ruvha sudah dibawa keruang rawat inap, masih setia memejamkan mata. Foral dan Zeris tidak berhenti menatapnya berharap gadis itu cepat sadar dan pulih. Foral yang duduk dikursi samping ranjangnya dan Zeris yang duduk bersandar disofa tak jauh dari mereka, sementara Ruan keluar membeli makanan untuk mereka bertiga.

Hening terus meliputi sampai Foral buka suara, "Lo pulang aja ganti baju, biar gue sama Ruan disini jagain Ruvha." Sarannya membuat Zeris kembali menatap bajunya, rasa enggan meninggalkan Ruvha meski ia tahu tidak ada yang dapat dipercaya selain Foral disini. Bahkan dirinya sendiri.

Dengan berat hati ia bangkit dan beranjak keluar. "Gue pulang dulu, nanti balik lagi." Ujarnya yang dijawab anggukan oleh Foral.

Setelah menutup pintu terlihat Ruan yang baru saja kembali. "Lo mau pulang?" Ruan bertanya dan dijawab anggukan ringan dari Zeris. "Gue titip mereka berdua." Ujarnya, sementara Ruan mengiyakan dan berkata. "Gue jagain mereka disini gausah terlalu lo pikirin." Kalimat itu mengakhiri pembicaraan keduanya dengan Ruan yang masuk kedalam dan Zeris yang melangkah pulang.

Halayacrep

Pintu yang masih tertutup rapat hanya ditatapnya dalam diam. Setiap perawat yang melihatnya memberitahu dengan ramah untuk dirinya langsung masuk saja karena ini memang jam besuk rumah sakit. Ia hanya mengangguk menanggapi.

Setelah beberapa waktu berlalu, ia menghela napas dan mencoba membuka knop pintu dengan perlahan. Terlihat didalam sana seorang gadis cantik terbaring lemah dengan wajah pucatnya. Tangan yang diinfus serta kepala yang sedikit dibalut perban menambah kesan rapuh yang selama ini tidak pernah terlihat. Kemana gadisnya yang kuat dan tidak pernah mengeluh yang ia kenal.

HalayacrepTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang