Ruvha duduk diujung rooftop gedung olahraga sambil menatap keatas langit yang cerah. Keputusan malam itu sudah mutlak, ia dan Zeris sekarang tidak terikat hubungan apapun. Senang tentu saja, namun ia masih tidak tahu apa alasan sebenarnya pertunangan itu dibatalkan karena jika hanya alasan seperti yang Raflan katakan seharusnya pertunangan itu sudah tidak dilanjutkan sejak dirinya meminta pembatalan pertunangan waktu itu.
Masih berkutat dengan pikiran yang terus berputar sampai seseorang menepuk bahunya pelan. Ia menoleh dan mendapati Reiro berdiri dengan senyuman manis diwajah tegasnya.
"Ngapain disini sendirian?" Tanya Reiro ikut duduk disebelah Ruvha.
"Gapapa. Lo sendiri, ga ada rapat?" Ruvha balik bertanya karena seingatnya Reiro selalu disibukkan oleh rapat osis, sementara laki-laki itu tertawa ringan mendengarnya sambil menggeleng sebagai jawaban.
"Kantik yuk." Ajak Reiro setelahnya yang langsung disetujui oleh Ruvha. Mereka berjalan besisian menuju kantin dan setelah sampai disana tetap seperti biasa bisik-bisik memuakkan itu kembali terdengar. Entah apa yang mereka dapatkan dengan menggunjing orang lain, namun seolah kegiatan itu sangat menyenangkan dan menguntungkan bagi mereka.
Tapi ia sedikit bersyukur karena saat ini ada Reiro didekatnya sehingga orang-orang itu tidak berani menganggunya secara langsung, walaupun Reiro merupakan salah satu alasan bisikan yang terdengar jelas itu.
"Ruvhaaa..." Ditengah bisingnya sekitar, terdengar seseorang memanggilnya dengan teriakan ceria, sudah dapat dipastikan siapa pemilik suara itu. Foral mendekat dengan berlari serta senyum sumringah tanpa beban yang selalu menghiasi wajahnya.
"Buk, baksonya satu yaa sama es teh." Hal pertama yang dilakukan gadis itu setelah duduk kesebelah Ruvha.
"Lo hari ini masuk ga ngabarin gue! Parah banget sih." Protesnya membuang wajah bahagianya tadi, sangat cepat perubahan mood temannya satu ini.
"Nanti lo keganggu, kan olimpiadenya bentar lagi." Jawab Ruvha jujur, dirinya juga tahu bahwa Foral sedang belajar mati-matian untuk membawa kemenangan bagi sekolah mereka. Gadis itu sibuk dengan semua kegiatannya yang sangat padat.
"Gapapa kali, gue jadi punya alasan buat keluar perpus. Bosen tiap hari disana, dipaksa belajar cuma buat olimpiade doang." Gerutu Foral terlihat sebal entah dengan siapa.
'Karena itu gue ga ngabarin lo.' Batin Ruvha meringis karena ia juga sangat paham bagaimana sifat Foral, bukannya fokus dia malah akan mengabaikan semua pelajaran dan berlari menghampirinya seperti sekarang. Namun kemudian deheman Reiro mengalihkan pandangan mereka berdua.
"Nah! antek-antek dia ini yang maksa gue belajar tiap hari. Lo pikir kalo gue jenuh pelajaran bisa masuk gitu? Gue juga butuh hiburan kali. Kalo kepala gue sakit waktu olimpiade emang kalian mau tanggung jawab. Dikira robot apa yang bisa kalian atur semaunya." Ocehan Foral meluapkan emosinya selama beberapa hari ini karena digembleng habis-habisan oleh anggota osis yang bertanggung jawab menyusun jadwal belajar para peserta olimpiade.
Begitulah faktanya, osis yang terbagi dibeberapa bidang akademik maupun non akademik mengawasi semua kegiatan yang membawa nama sekolah, tidak jarang mereka terlalu ikut campur pada prestasi masing-masing siswa. Meski berdampak bagus dan membawa perubahan signifikan setelah Reiro menjabat sebagai ketua osis, namun beberapa siswa sempat protes karena sistem yang mereka gunakan terlalu keras untuk mencapai suatu tujuan dan guru pun angkat tangan karena mereka menganggap hal itu demi kebaikan para siswa dan nama sekolah.
Dan ocehan Foral berlangsung sangat lama, bahkan beberapa kali gadis itu dan ketua osis mereka berdebat sampai Ruvha turun tangan untuk menengahi keduanya.
Halayacrep
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi dan semua siswa berhamburan keluar, begitu juga dengan Ruvha. Ia berjalan santai menyusuri koridor yang mulai sepi, hanya beberapa orang yang berjalan tidak jauh darinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Genç KurguJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
