Tidak ada yang tertidur meski mereka terlihat sangat lelah, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang. Reina duduk disofa tak jauh dari ranjang Reiro, begitu juga dengan Zeris. Sementara Ruvha dan Alise duduk disisi yang berlawanan disebelah laki-laki itu. Keduanya sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, bahkan Reina dan Zeris sudah lelah membujuknya hanya untuk sekedar makan.
Forgan sendiri sudah sampai rumah sakit sekitar dua jam yang lalu dan saat ini sedang mengurus semua administrasi serta pemindahan Reiro ke rumah sakit milik Rafonso.
Reiro masih setia memejamkan matanya terlihat tenang dan damai seolah enggan untuk bangun sekedar membuat tenang semua orang yang menunggunya disana.
"Ma... makan dulu yaa, nanti mama sakit." Bangkit dari duduknya, Reina kembali berusaha membujuk Alise untuk makan. Ia sangat khawatir mamanya akan jatuh sakit, bahkan saat ini wanita itu sudah terlihat pucat. Namun, sama seperti sebelumnya Reina hanya mendapat gelengan kepala perlahan sebagai jawaban membuatnya menghembuskan napas pasrah.
Ia beralih mendekati Ruvha yang terlihat sama pucatnya dengan Alise, "Vha makan dulu yaa, nanti kamu sakit loh." Lagi-lagi jawaban yang sama ia dapatkan, sangat sulit membujuk dua perempuan itu.
Ia memilih kembali duduk dan menatap Zeris lelah. Meski ia memiliki kebencian tersendiri dengan laki-laki itu, namun ia berterimakasih karena berkatnya ia dan mamanya dengan cepat tahu kondisi Reiro dini hari tadi.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka dan Forgan masuk dengan asistennya yang menunggu diluar. Ia duduk disebelah putrinya dan mendapat aduan kalau istrinya tidak mau makan sampai saat ini.
Ia beranjak dan mencoba membujuk Alise meski tetap mendapat penolakan. Wanita itu terus memandangi Reiro tidak lepas barang sedetikpun, dan dengan segala kalimat yang Forgan ucapkan pada akhirnya Alise mengalah dan mau keluar untuk makan bersama suaminya.
Reina bernapas lega setelahnya, dan saat ini tinggal membujuk Ruvha. Ia menarik bangku yang tadi diduduki oleh Alise dan mendekat kearah Ruvha. Ia membawa serta bubur ayam yang sebelumnya Zeris beli untuk gadis itu.
Perlahan ia menyendoknya dan memberi instruksi untuk gadis itu membuka mulutnya. Ruvha tetap menggeleng enggan namun Reina terus mengarahkan sendok itu kedekat mulutnya membuat gadis itu mau tidak mau membuka mulut dan membiarkan kakak Reiro itu untuk menyuapinya.
Reina senang akhirnya usahanya berhasil, meski Ruvha terlihat enggan menelan bubur itu tetapi Reina tetap sabar terus membujuknya sampai Ruvha menghela napas pelan dan mengambil alih mangkuknya dan menyuap sendiri. Reina tersenyum begitupun dengan Zeris, meskipun itu hanya bubur setidaknya perut gadis itu terisi dan tidak kosong.
Ditengah kegiatannya tiba-tiba monitor yang tidak jauh darinya berbunyi tidak teratur menandakan keadaan Reiro yang tidak baik-baik saja. Kedua gadis itu panik dan langsung berdiri melihat Reiro yang masih diam dengan Ruvha yang memencet tombol merah didekatnya berkali-kali, sementara Zeris langsung berlari keluar memanggil dokter maupun perawat yang ada disekitar ruangan.
Setelah dokter masuk bersama beberapa perawat mereka menjauh memberi ruang untuk Reiro ditangani dan dokter terus berusaha memulihkan keadaan Reiro yang semakin kritis.
Halayacrep
Disinilah mereka berdiri dengan payung yang melindungi dari air hujan yang kembali mengguyur bumi. Terlihat beberapa orang menangis disamping pusara seseorang yang sudah terkubur didalam sana. Tanah merah yang dibasahi hujan menambah kesan menyedihkan yang sangat pekat.
Raungan kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya menghiasi pemakaman yang tidak pernah terpikir oleh mereka. Begitu tiba-tiba dan tidak memberi mereka ruang untuk kehadirannya yang lebih lama.
Tetapi semua ini sudah takdir dan tidak ada yang dapat memperkirakannya apalagi mencegahnya. Mereka mencoba tabah dan menerima meski semuanya terasa berat.
Banyaknya murid berseragam SMA berdiri disekitar makam, semuanya adalah siswa SMA AKSA. Mereka semua menangis merasa kehilangan seseorang yang begitu ceria dan suka membantu sesama.
Salah satu murid SMA AKSA yang dimakamkan disana, mengundang tangis kesedihan semua orang yang mengantarkannya ketempat peristirahatan terakhirnya. Bahkan kali ini hujan juga tidak mau kalah menumpahkan semua kesedihan yang seolah tidak bisa lagi dibendung.
Ruvha berdiri dengan Zeris yang memegang payung disebelahnya, payung hitam menambah kesan kelam yang melingkupi mereka. Berdiri tidak jauh dari nisan yang bertuliskan nama seseorang yang selalu menemaninya disaat senang maupun sedih dan memeluknya juga membantunya disaat semua orang menghakiminya.
Aery dan Lusita juga hadir disana terlihat seolah hanya sebatas formalitas, namun Lusita menunduk lesu. Terdapat sedikit penyesalan yang melingkupinya karena belum sempat meminta maaf dan meluruskan beberapa hal padanya.
Bahkan Gema terlihat hadir meski dengan jarak yang cukup jauh, menghindari kekacauan yang mungkin terjadi jika orang disana menyadari kehadirannya. Ia menyesal belum sempat menyampaikan permintaan maafnya dengan tulus dan layak. Sekilas dari kejauhan ia tidak sengaja melihat Mona yang berdiri dibalik pohon yang cukup jauh. Ia yakin, seperti dirinya gadis itupun merasa bersalah dan juga kehilangan.
Sejak kejadian waktu itu, Gema dan Mona tidak lagi memiliki hubungan apapun. Mereka benar-benar menyesal dan bertekat untuk berubah, juga berusaha sebisa mungkin menjauh dari semua orang yang terlibat.
Beberapa waktu berlalu, satu-persatu orang mulai meninggalkan pemakaman namun hujan masih setia menemani dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti, menyisakan Ruvha dan Zeris yang masih diam ditempatnya.
Ruvha terduduk lemas tidak kuat menopang tubuhnya yang sudah terasa sangat hancur. Zeris terkejut melihatnya namun ia hanya diam membiarkan gadis itu sejenak larut dalam kesedihannya. Ia tahu tidak mudah melepas kepergian seseorang secara tiba-tiba dan ia mengerti betapa berharganya orang itu bagi Ruvha. Zeris tetap setia berdiri dengan payung ditangannya, setidaknya gadis itu masih terlindungi dari air hujan diatas kepalanya meski baju yang Ruvha kenakan sudah basah oleh air yang mengalir disekitarnya.
Kesedihan yang begitu mendalam ia rasakan namun air matanya tidak bisa keluar, ia tidak tahu kenapa tekanan dalam dadanya tidak dapat ia keluarkan lewat tangisan. Rasanya ia masih tidak percaya dengan duka yang menghantamnya kali ini. Begitu tiba-tiba dan dirinya tidak siap menerimanya.
Bagaimana hidupnya setelah ini?
Kepada siapa ia akan membagi kebahagiaannya nanti?
Meski ia juga tidak yakin kalau kebahagiaan itu akan hadir.
Tapi tetap saja, kenapa harus orang terdekatnya yang pergi?
Kenapa harus orang yang paling ia percaya selama ini?
Batinnya terisak seolah ditekan beban yang sangat berat, merintih tanpa bisa telinganya dengar, berteriak kencang meski ia hanya terlihat diam.
Tatapan sendunya membuat siapapun ikut merasakan kesedihannya. Kali ini ia benar-benar hancur, hari ini menjadi hari terberat yang ia rasakan sepanjang hidupnya melebihi semua masalah yang pernah ia hadapi.
Pikirannya penuh dengan tanda tanya dan ketidakpercayaan yang terasa sangat bising dikepalanya.
Ia marah, kesal, benci, dan kecewa... tapi kepada siapa?
Sekali lagi batinnya bertanya...
'Kenapa harus Foral?'
.
.
.
.
.
.
Next~
KAMU SEDANG MEMBACA
Halayacrep
Teen FictionJangan bertanya apa kesalahanmu. Karena aku yang salah... percaya bahwa kau akan memperbaiki segalanya ~Ruvha Wethaloria Gadis manis itu diam dengan tatapan terluka, mati-matian menahan air mata yang akan tumpah jika saja lelaki itu tak menatapnya...
