Fakta

186 4 2
                                        

"Penerbanganmu ke Kanada pukul 10.00, jangan kembali sebelum aku memintanya." Ucap Raflan dingin menatap lurus kepada istrinya yang menatap dengan tidak percaya.

"Kenapa? Kau mengusirku lagi demi anak perempuan itu?!" Bentak Miltha dengan menunjuk Ruvha yang tidak mengerti maksudnya.

"Jangan melewati batas Miltha!!" Dengan suara meninggi Raflan membuat Miltha semakin marah.

"Kau yang sudah melewati batas!!"

"Ingat apa yang kau lakukan 17 tahun lalu?! Kau membawanya pulang dan memaksaku mengurusnya seolah dia anakku!" Mencoba untuk mencerna pembicaraan kedua orang tuanya yang saling membentak, Ruvha tetap tidak mengerti apa yang mereka katakan.

Menunjuk tepat didepan wajah Ruvha, Miltha kembali bersuara "Kau membunuh putraku!! Kau yang seharusnya mati!! Dasar-" Kalimatnya dengan cepat langsung dipotong oleh Raflan.

"DIAM!!" Bentakan keras keluar dari mulut pria paruh baya itu membuat Miltha terdiam dengan air mata yang jatuh menggambarkan emosinya selama ini.

"Ravan meninggal hari itu bukan karena kesalahan Ruvha. Sudah cukup selama ini aku menahan diri, membiarkanmu meluapkan semua emosimu kepada Ruvha didepan mataku karena aku kira... seiring berjalannya waktu kau akan luluh dan menyerah dengan ego mu. Tapi aku salah, kau justru semakin menyakitinya dan dirimu sendiri. Kau tenggelam dalam penyesalanmu dan meluapkannya pada Ruvha. Sekarang tidak lagi... menjauh dari kehidupan putriku dan jangan pernah kembali." Untuk pertama kalinya Raflan membelanya dihadapan Miltha, namun tetap saja Ruvha tidak mengerti apa yang mereka berdua katakan. Ia hanya diam mematung dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Raflan memanggil asistennya dan menyuruhnya membawa Miltha yang mengamuk dan diderai air mata untuk diseret keluar. Pada akhirnya hening menguasai ruangan.

Perlahan Raflan berjalan mendekati Ruvha yang masih bingung dan hanya diam, ia meraih tangan mungil putrinya yang mengeluarkan darah. Ia meringis membayangkan betapa sakitnya itu bagi Ruvha. Namun, tidak bertahan lama gadis itu melepaskan genggamannya.

"Tidak usah khawatir, dia tidak akan mengganggumu lagi... papa minta maaf karena selama ini hanya diam. Semua ini salah papa, seharusnya dari awal Ruvha tidak papa percayakan untuk diurusnya. Sekali lagi papa minta maaf." Raflan berusaha mendekat tapi Ruvha malah mundur selangkah menghindarinya tanpa menatap orang dihadapannya. Ribuan pertanyaan berputar dikepala yang membuatnya hampir gila.

"Maksudnya apa?" Ujarnya merangkum semua tanya yang sangat memusingkan.

"Miltha, dia bukan mama kandungmu." Gadis itu sangat terkejut dengan fakta yang baru saja Raflan katakan. Ia tidak bisa berkata bahkan kebingungan tergambar jelas diwajahnya. Namun kalimat itu menjawab semua perilaku Miltha kepadanya selama ini.

Melihat Ruvha yang tidak berkomentar, Raflan kembali bersuara. "Kamu dan Ravan berbeda ibu, kalian tidak kembar. Papa dan Miltha menikah karena perjodohan, papa tidak pernah mencintainya namun rasa tanggung jawab dan menghargainya membuat papa tidak pernah sanggup untuk meminta pisah." Raflan mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sambil mengarahkan Ruvha untuk duduk di sofa tak jauh dari mereka.

"Setelah empat tahun pernikahan kami masih belum dikaruniai seorang anak, dan tidak tahu sejak kapan papa mulai menyukai sekretaris papa, mama kamu Ruvha. Kami menikah diam-diam, tanpa keluarga papa dan Miltha tahu. Setelah dua tahun akhirnya Miltha hamil kemudian mama kamu menyusul. Papa sangat senang mendengar kabar itu, namun setelah Ravan lahir ternyata ada masalah pada kandungan mama kamu yang membuat kamu lahir prematur dan mama kamu meninggal saat itu. Kamu yang masih sangat kecil papa bawa pulang. Tentu saja Miltha tidak mau menerima kamu hadir ditengah keluarga yang dia anggap mulai memiliki kebahagiaan karena kehadiran Ravan. Dia tidak mau menganggapmu sebagai anaknya, bahkan dia hampir mencelakaimu." Raflan terus menatap Ruvha yang masih diam mendengarkan walau tergambar jelas diwajahnya rasa tidak percaya dan bingung yang menjadi satu.

HalayacrepTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang