Zeno yang terduduk di kursi kantin itu termenung.
Aslinya sih, nungguin si ketua yang katanya ada janjian sama si Angga di taman belakang.
Tapi ini jam pelajaran mau masuk 5 menit lagi. Mana belom keliatan itu berdua nongol.
"Haah, mereka pada kemana sih? Jangan-jangan gue ditinggal TwT." Gusarnya kesal.
Tanpa sadar, seseorang menepuk pundaknya. Guru Rei.
Zeno diam saja, dia tidak mau cari gara-gara di depan banyak orang karena orang ini.
"Mana crush mu?" tanyanya tanpa beban.
[ZENO POV]
"Mana crush mu?"
What!? Seriusan dia tanya itu?
"Lagi sama pacar." Ujar gue sebel.
Kesel sumpa kalo mbahas dia didepan guru rei ini.
"Ditolak ceritanya?"
Anjir, dia nanya atau nyindir sih. Gue udah mundur, tapi rasanya masih sakit tau!
Gue diem aja sih, males nanggepinnya. Tapi seriusan, Guru Rei ini kayaknya tau tentang gue sama Rian deh.
Apa perlu gue tanyain ya?
"Guru Rei tau tentang gue sama Rian ya?" plis jawab enggak.
"Iya, saya tau. Masalah ya?" dia membenarkan posisi kacamatanya.
Beberapa murid cewek ada yang menyapa sih, tapi hanya dibalas lambaian aja.
"Banget." Jawabku singkat.
Guru Rei tiba-tiba terdiam.
[Author POV]
"Kamu itu, kalau emang itu mengganggu banget, kenapa ga diomongin dulu?" Rei mencoba mendekatkan dirinya disamping Zeno.
Zeno meringkuh kesal. Dia tidak mau ikut terpelosok di perasaan terlarangnya ini, dia tidak mau merasakan jatuh yang pahit.
Dia takut, takut kehilangan Kyrian.
"Emang guru tau apa!? Guru Rei kan gatau apa-apa tentang saya! Guru Rei kan cuma sekedar guru di sekolah. Guru Rei ga ngerti kehidupan saya biasanya. Guru Rei ga ngerti perasaan saya! Guru Rei ga bakal ngerti posisi saya sekarang!" tiba-tiba saja Zeno menukarkan kata ganti 'aku' menjadi 'saya'.
Rei juga kaget dengan sikapnya yang berubah barusan.
Dia bahkan tidak mengerti kenapa emosi Zeno bisa melunjak pesat seperti ini.
Ini seperti Zeno memang sengaja memendam semuanya, lalu ditumpahkan didepan Rei.
Teriakan Zeno barusan bukan kecil lagi. Beberapa murid yang jaraknya sekitar 3 meter-an langsung menoleh ke arah keduanya.
"Ah, engga papa. Kalian kembali ke kelas saja."
Rei bertindak cepat dengan membubarkan perhatian mereka. Syukur saja, mereka tidak membuat keramaian.
Zeno langsung berdiri, hendak pergi dari Rei. Tapi tangannya di tahan, dan digenggam erat hingga Zeno sendiri tidak bisa beranjak satu meter pun.
"Mau kemana dengan muka kayak gitu?" Rei berucap, tapi tidak memandang Zeno.
Ketua salah satu tim gengnya Arfa itupun hanya bisa menurut.
Muka dengan penuh isak tangis begitu mau ditunjukkan dikelas? Ya mana mau.
Sepanjang perjalanan, Rei mendahului dengan tangan kanannya masih menggenggam erat tangan kiri Zeno.
Keduanya tidak ada yang berbicara. Takut akan melukai satu sama lain lebih dalam lagi.
Sesampainya di UKS, benar saja ruangan itu kosong. Karena sebenarnya kebetulan juga, hari ini UKS dijaga oleh Guru Rei sendiri.
"Duduk aja di kasur. Tiduran, tenangin pikiranmu dulu. Saya ga bakal ngapa-ngapain. Saya duduk di meja ini, jadi kamu bisa tenang." Ucap Rei, membuka jas putihnya lalu kembali duduk di kursi kerja nya.
Zeno langsung saja duduk di salah satu ranjang di UKS itu.
Pikirannya tampak kacau. Beberapa hari ini, Zeno memang lagi banyak pikiran.
Pikiran geng-nya, masalah keluarganya, apalagi Kyrian dan Guru Rei yang terus masuk di kehidupannya. Apalagi barusan dia seperti 'menyalahkan' guru Rei diposisi ini.
Nyingkirin perasaan 'suka' pada Kyrian itu ga gampang. Mana bisa dia bisa lupa gitu aja, toh Kyrian juga selalu bikin dia makin berharap.
Zeno bingung gimana mau nanggepin semuanya.
"Guru Rei, pernah suka sama seseorang?" tanyanya sambil merenungkan semua kejadian beberapa hari terakhir ini.
"Hm? Oh, pernah. Sekarang pun saya masih menyukai orang yang sama." Jawab guru Rei jujur.
Walau Rei menjawabnya masih dengan mengecek jurnal didepannya, tapi Zeno tau kalau orang itu menjawab dengan jujur dan sesuai kata hatinya.
"Gitu doang? Ga pernah diungkapin?" Zeno kan jadi penasaran siapa yang menjadi orang beruntung disukai guru Rei ini.
"Ga ada niatan sih, memangnya kenapa?" malah guru Rei balik bertanya.
"Yah, kok cemen gitu sih, guru? Terobos aja langsung." Zeno malah manas-manasi. Capek deh.
"Kamu kalau bukan murid saya, sudah saya tinggal sendirian loh tadi." Balas Guru Rei yang memperlihatkan tanda perempatan alias sebal didahinya.
"Dih, guru pelit ah." Balasnya tak mau kalah sambil menutup keras gorden di UKS itu.
Rei yang melihat tindakan salah satu muridnya barusan langsung geleng-geleng kepala. Kok bisa ada aja ya anak kayak dia.
Rei tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Dengan lembut, dia mengintip dari balik gorden melihat apakah Zeno beneran tidur atau alasan saja.
Nyatanya, dia beneran tidur. Rei tersenyum lembut melihat murid kesayangannya itu tertidur lelap di ranjang UKS.
Dia memberanikan diri untuk membuka sedikit gordennya, dan duduk disamping tubuh Zeno yang terlentang.
Dikecupnya kening Zeno halus. Andai guru Rei lebih berani untuk mengungkapkan perasaanya, pasti dia sudah bisa memeluk orang disampingnya ini dengan erat.
Tapi, dia tau. Perasaannya hanya akan membuat orang ini menderita.
Sudah cukup Zeno menderita dengan perasaan tak terbalaskannya, dia tidak mau Zeno hanya akan tambah kepikiran mengenai perasaannya saat ini.
Renungan sejenak Rei dibuyarkan dengan gerakan kecil tangan Zeno yang menggenggam erat tangannya yang sedang terletak disamping bantal.
"Haha." Tawanya kecil melihat Zeno yang tertidur nyenyak dengan tangan Rei yang digenggam erat.
'Kalau begini, bagaimana aku bisa untuk melepaskanmu?'
Tbc.
-gimana menurut kalian ceritanya sampe sini?
KAMU SEDANG MEMBACA
AnggArfa
Teen FictionArfa; anak geng plus berandalan ini harus bisa menerima kalau kejadian itu mengubah hidupnya 180 derajat. Siapa lagi kalau bukan dengan Angga, cowok dingin yang bikin kepala Arfa pusing setiap ketemu!! WARNING! Ini cerita BxB alias homo, yang gasuka...
