"Dek, mau makan ini ya?"
"Dek, minum vitamin ini, gih."
"Dek, jangan angkat itu. Aku aja."
"Pelan-pelan, dek. Jalannya pelan-pelan aja."
"Jangan naik tangga, biar aku aja, dek."
"Dek, jangan loncat-loncat. Kasian bayinya."
"Itu aku ambilin aja, dek!"
"Dek, sarapan dulu!"
"Dek!"
"Dek!"
"Dek-"
Arfa menghembus nafasnya berat. Fakta baru yang dia dapet hari ini, Angga itu cerewet juga ternyata. "Iya, An. Udah diem aja sini, duduk."
Angga menarik nafasnya dalam-dalam. Kandungan Arfa sudah memasuki udah delapan bulan lebih, jadi wajar aja dia khawatir.
Bahkan jam kerjanya selalu dikurangi dengan alasan harus nemenin Arfa dirumah. Itupun karena si Robert-alias ayahnya Angga mau ngegantiin posisi Angga sementara diperusahaan lumayan besar itu.
"Maaf, dek. Aku cuman khawatir." Arfa mengangguk paham. Malahan seharusnya dia bersyukur dapet laki modelan kayak Angga, yang perhatian ke dia setiap hari. "Mm hm, aku ngerti. Tenang aja, aku bakal jaga diri baik-baik."
Angga ketawa kecil aja, malu juga ternyata. Hari ini dia baru kekantor siang nanti, karena ada meeting juga sih. Jadinya mau gamau dia harus dateng, mana ga bisa digantiin lagi.
Dan sekarang udah jam sembilang pagi, tinggal sekitar tiga jam lagi dia bisa santai dirumah. Dan otomatis ya, ngurusin si ibu negara. "Nanti makan siangnya mau apa, dek? Dipesenin aja ya?"
Arfa nampak mikir bentar. Sebenernya dia lagi ga mood makan, tapi pasti sama Angga ga dibolehin. "Aku masak sendiri aja deh, yang simpel."
Lima detik Angga mengerjap, lalu baru sadar. "Masak sendiri? Aku masakin aja ya, sekarang? Kamu istirahat aja."
Lagi. Arfa memutar bola matanya malas. "Engga, sayang. Aku bisa kok kalo cuman masak. Palingan bikin ceplok telor."
Angga menderu, pingin dibantah tapi pasti Arfa bakal kekeuh juga buat masak. Karena gamau dianggap nyebelin, Angga ngalah. "Habis itu istirahat, oke?"
Arfa mengangguk patuh. "Iya, mas."
!?!?!?!?!?!? ASDFGHJKL
Angga menoleh cepat. "Apa dek!?"
"Hah, apa?" Arfa menggeleng ribut, sialan dia keceplosan. Bibirnya ia bungkam, ngeri juga si Angga kayak nyari-nyari celah buat dia bilang 'mas'.
Angga menghela nafasnya, dia kaget aja waktu Arfa bilang gitu. Soalnya selama ini Arfa belum pernah tuh manggil dia sebutan kayak begono.
"Engga dek, yaudah. Aku mau siap-siap ke kantor." Cowok itu menghampiri Arfa, mencium kening yang lebih muda.
"Masih sama ayah, kan?" Arfa tersenyum lega kala Angga menjawabnya dengan anggukan. Setidaknya ada Robert yang mengawasi pria yang beranjak dewasa ini.
*
Jam dua siang, langit berubah cerah. Pagi tadi memang sempat berawan, bahkan angin cukup terasa kencang sayup-sayup menemani udara pagi hari.
Arfa celingukan didepan pagar, tetangganya tidak ada yang keluar sama sekali. Ini saatnya yang tepat untuknya beli soto ayam didepan gang sana. Emang bandel dianya.
Pria kecil itu mengambil hoodienya yang memang berukuran oversize, menutupi perutnya yang nampak buncit itu.
Tangannya sudah siap untuk mengunci pintu, kemudian perlahan jalan kearah pagar. Dirasa situasi sudah aman, Arfa pun melancarkan rencananya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AnggArfa
Ficção AdolescenteArfa; anak geng plus berandalan ini harus bisa menerima kalau kejadian itu mengubah hidupnya 180 derajat. Siapa lagi kalau bukan dengan Angga, cowok dingin yang bikin kepala Arfa pusing setiap ketemu!! WARNING! Ini cerita BxB alias homo, yang gasuka...
