.
.
.
.
Zeno ngehembus nafasnya lelah. Dia bete. Dari pagi, dia mesen makan online. Tapi ga ada yang mau ngambil pesenannya dia. Sebenernya ada sih beberapa, tapi entah kenapa malah dibatalin. Mau gamau, dia beranjak dari kasur ukurang king size itu.
"Huft, kangen Rei." Dia mengeluh. Tangannya terus mengelus-elus perutnya yang terlihat membesar sedikit.
Dia beneran kangen sama Rei. Oh ya, for your information Rei udah gajadi guru lagi. Cowok itu udah keluar dan memutuskan untuk kerja sama agensinya Andra. Posisinya juga lumayan tinggi disana. Lio juga kerja disana, sebagai pusat kesehatan—tapi dia ga keluar kok dari rumah sakitnya, cuman nambah lokasi kerja aja.
Zeno ngebuka kulkas. Ada beberapa bahan yang bisa dimasak. Dan karena ini juga udah mau siang, dia sekalian mau masak buat Rei dikantor.
Pemuda itu ngeluarin bahan-bahannya. "Bikin ayam bakar aja kali, ya? Sama sayur asem. Bawain pudding juga, ah." Tangannya sibuk mengemasi pudding coklat yang kemaren dia beli.
Zeno itu pinter masak, tapi kadang males aja—jadi biasanya si Rei yang masak kalo Zeno lagi ga mood. Ugh, suamiable banget. Ah, mereka udah sah loh. Iya, kasian banget kalian ga diundang, wkwk. By the way, mereka mutusin buat langsung nikah aja ya karena ngeliat si Angga sama Arfa main gas aja. Acara lumayan mewah, karena Rei itu punya banyak koneksi sama perusahaan besar. Yang dateng juga lumayan banyak—jangkauannya lebih luas dari nikahannya si Angga sama Arfa.
"Dah, siap." Cowok itu senyum-senyum bangga. Dia udah bawa satu tepak full lauk dan nasi. Dan dia sendiri langsung makan dimeja makan dengan anteng. Ga lama, dia ganti baju. Udah rapi, cowok itu ngambil bungkusan isi bekal makan sama kunci mobil miliknya.
Lima belas menit berlalu, dan Zeno sekarang udah berdiri didepan gedung besar nan tinggi. Dia langsung nyelonong masuk aja, karena security disana juga udah tau kalo cowok itu adalah istrinya Rei. Ditengah jalan, mata Zeno langsung nangkep sosok Lio yang lagi ngomong sama seseorang.
"Dokter Lio!" panggil cowok itu. Dia dengan segera menghampiri dokter yang tersenyum kearahnya. "Oh, Zeno. Mau ketemu Rei?"
Zeno ngangguk. "Eh, maaf ganggu dok. Hehe." Dia agak menunduk sopan sesekali menyapa cowok yang sedang berbicara dengan Lio. "Ini rekan saya. Oh ya, Rei ada dilantai tujuh. Nanti kamu bakal ketemu sekretarisnya disana. Bilang aja kamu istrinya Rei." Zeno mengangguk paham. Dia langsung aja berterima kasih dan berpamitan dengan keduanya.
Sesuai dengan instruksi Lio, Zeno langsung masuk ke lift. Liftnya sepi, jadi cuman dia yang ada didalem. Cowok itu langsung aja menekan tombol lantai tujuh. Dan benar aja, waktu pintu terbuka matanya langsung bertatapan dengan cewek yang sedang sibuk ditelepon.
Zeno celingukan. Ruangannya cuman sedikit. Tapi perkiraannya sih setiap ruangan disana bakal lebar banget. "Kamu siapa, ya?"
Cowok dengan tinggi 174 cm itu menoleh. Oh, ternyata mbak nya udah selesai nelpon. Zeno berdeham, "Saya mau ketemu dengan Rei."
"Tuan Rei? Ada perlu apa?" Cewek itu kembali bertanya. Sembari tangannya mengecek ke laptop didepannya. "Nih, mau ngasih bekal." Cowok itu mengangkat bingkisan yang tadi ia siapkan.
Cewek itu berdiri. "Kalau begitu, saya saja yang memberi ke tuan Rei." Baru aja cewek itu mau ngambil bingkisan dari tangannya, Zeno langsung menyembunyikan bingkisan itu ke balik badannya. "Saya juga ada urusan."
Cewek itu memutar matanya malas. "Tapi tuan Rei tidak bisa bertemu dengan sembarang orang. Kamu kan masih anak-anak, tidak usah mengganggu tuan Rei."
"—siapa yang kau panggil sembarang orang, Lidya?" suara rendah itu menggema. Zeno tersenyum sumringah, dia hafal dengan nada suara ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
AnggArfa
Teen FictionArfa; anak geng plus berandalan ini harus bisa menerima kalau kejadian itu mengubah hidupnya 180 derajat. Siapa lagi kalau bukan dengan Angga, cowok dingin yang bikin kepala Arfa pusing setiap ketemu!! WARNING! Ini cerita BxB alias homo, yang gasuka...
