"BANGSAT!!"
Pagi-pagi ada saja yang mengumpat.
Siapa lagi kalau bukan Tegar, dan Yohan yang lagi menyembunyikan sepatu Adi di pembuangan sampah dekat markas mereka.
Dan yang berteriak, tentu saja si korban sekaligus pelaku kejar kejaran itu dimulai.
Dilan dan Fei tetap santai duduk di salah satu pojokan dengan kegiatan mereka masing-masing.
Fei yang membaca buku mengenai manajemen, dan Dilan yang sedang menscroll atau lebih tepatnya men-stalking akun ig pacarnya.
Arfa yang baru masuk markasnya sudah dibuat pusing oleh semua anggotanya.
Ya gimana enggak, Arfa jadi berasa ga ada image ketua kalau didepan mereka. Asukan. Mana ga ada yang nge-notice dia dari tadi.
"Woi, anggota gue pada kumat semua?" jeritnya pasrah.
Dilan langsung cekikikan dilanjut dengan Fei yang langsung menutup bukunya.
"Kembaliin gak? Jingan!!!" Adi masih saja ribut soal sepatunya yang sekarang malah dilempar-lempar sama Yohan dan Tegar.
"Coba tangkep sendiri, cebol!"
Coba kalo Adi lebih tinggi, mungkin dia sudah mendapatkan sepatunya dari tadi.
Pasalnya, tingginya hanya 170 cm, beda 3 cm dengan ketua. Sedangkan Yohan 183 cm, dan Tegar 180 cm.
Bukannya Adi tidak bisa meraih ditinggi segitu, tapi tangan mereka sama-sama panjang. Bisa-bisa, total tinggi sepatunya sekarang bisa mencapai 190 cm.
"Siniin, bego!" Adi jadi makin kesal.
Seluruh anak markas memperhatikan mereka bertiga, tak terkecuali si ketua.
"Tangkep, han!" Tegar malah melempar kembali ke arah Yohan.
"Nih, cebol!"
Yohan melakukan hal yang sama dengan Tegar, dia mengangkat tinggi-tinggi sepatu Adi hingga tangan mungil nya tidak bisa meraih sepatunya sendiri.
"Oi, udahlah. Mau mulai, woi!" Dilan mulai terganggu.
"Balikin! Woi, itu sepatu gue!" Adi kembali mencoba menggapainya, berjinjit, sambil melompat-lompat.
"Han, balikin aja udah!" Fei ikut berkomentar, pasalnya dia tak suka melihat muka Adi yang kelihatan terpaksa dan seperti mau menangis itu.
"Nih, tangkep woi!" Yohan melempar balik ke Tegar.
Jarak antar keduanya sebenarnya tidak jauh, tapi jika daritadi bolak-balik sih ya menguras tenaga juga.
Apalagi, Adi kudu berjinjit, melompat, sampai teriak-teriak.
"Haha, ayo di!" Tegar itu orangnya agak sadis.
Makin kesel orang ke dia, dia makin suka. Kayak yang dialamin Adi ini. Mukanya kayak udah bete banget, tapi masih aja digangguin.
"Eh, udah ah. Gar, Han. Balikin dong." Arfa mencoba bernegosiasi.
Tapi sayangnya suara Arfa terlalu kecil untuk sampai ditelinga keduanya.
"Jingan! Balikin woi! Itu sepatu gue!" Adi sudah tidak tahan.
Kalau sepatu itu bukan dari neneknya, mungkin dia tidak masalah jika sepatu itu dipermainkan oleh keduanya.
Tapi, sepatu itu buah perjuangan dari nenek Adi yang tinggal didaerah persawahan.
"Oi, udah woi!" Dilan makin meninggikan suara.
KAMU SEDANG MEMBACA
AnggArfa
Teen FictionArfa; anak geng plus berandalan ini harus bisa menerima kalau kejadian itu mengubah hidupnya 180 derajat. Siapa lagi kalau bukan dengan Angga, cowok dingin yang bikin kepala Arfa pusing setiap ketemu!! WARNING! Ini cerita BxB alias homo, yang gasuka...
