⚠️WARNING !Diawal ada anu anu, jadi yang umurnya kurang dari 18 bisa diskip yah⚠️
.
.
.
Zeno meremas pundak Rei erat. Tubuhnya yang diletakkan dimeja kerja Rei itu terus bergerak menggelinjang.
"AANGGHH SHHH G-GURU REIIHHH. P-PELANNHH." Desahan keras Zeno itu malah membuat Rei bergerak lebih cepat. Penis miliknya menghujam lubang Zeno agresif.
Zeno yang sedari tadi mendesah hebat itu sesekali meminta Rei untuk menciuminya. Tangannya juga tidak diam saja, tangannya terus menerus mencakar punggung Rei, membuat jejak disana.
"Argh." Rei mengerang kecil waktu miliknya dijepit kuat oleh Zeno.
"Lemaskan lubangmu, Zeno. Saya tidak bisa masuk." Rei menciumi leher Zeno, sambil kembali menusuk-nusuk lubang itu dengan tempo yang direndahkan. Tujuannya untuk mencari spot puncak kenikmatan milik Zeno sekaligus merilekskan pemuda yang daritadi mendesahkan namanya itu.
"Nnngghh Lagihh percepatthh lagihhh." Zeno kembali mendesah nikmat. Lubangnya yang masih berusaha beradaptasi lama-kelamaan semakin kendor, mengimbangi ukuran milik Rei.
Rei kembali memeluk Zeno, sambil memegangi pinggangnya dan kembali memasukkan miliknya perlahan.
"Kamu kenapa, hm? Badan kamu jadi sensitive begini." Rei dengan sengaja meremas kecil bongkahan pantat Zeno.
"Nngghh. Zeno g-gatau nnggghh!" Zeno melenguh seksi waktu tau-tau Rei kembali memasukkan junior miliknya sekali hentakan. Tubuh Zeno memerah, lehernya yang penuh tanda itu juga memerah.
Rei mengusap dahi Zeno yang berkeringat karena aktifitas panas mereka, dia khawatir Zeno sedang mabuk atau apapun itu. Karena biasanya Zeno tidak sebinal ini.
"Aaangghhh nnggghhh ci-ciummh." Zeno mengangkat kedua tangannya, bak seorang bayi yang meminta sesuatu pada ibunya. Nahkan, pemuda ini yang minta duluan.
Tangan Rei dengan cekatan membuka satu persatu kaos yang terpasang pada tubuhnya. Zeno melirik Rei sekilas, memandangi dari atas hingga kebawah dimana milik Rei itu sedang terhubung dengan lubang miliknya.
"Ada apa, hm?" Rei yang menyadari salah satu muridnya menatap dengan mata bergairah itu tersenyum menggoda.
"Nnnggh?" Zeno menatap milik Rei lagi. Kali ini penis besarnya itu menghantam lubangnya keras.
"AAKKHH! NNGGHH!" Tubuh Zeno menggeliat hebat. Dirinya tak habis-habisnya meremas kertas-kertas atau apapun itu yang bisa ia remas, sebagai ganti rasa keenakan ini.
"Mmmphh G-GURU REIIHHH Nngghh." Zeno memejamkan matanya kuat. Rasa panas dan dingin yang bercampur aduk ini tidak bisa ia tahan lagi. Kakinya melayang-layang, ingin ia berhenti tapi hasratnya ingin tetap lanjut.
Rei menuntun kaki ramping itu mengapit masing-masing samping pinggulnya. "Call me Daddy." Zeno mengangguk cepat, ia langsung menuruti perintah dominan didepannya yang tengah mempersiapkan benda besar itu.
"Moree Moreee nnnghh Dad-Daddyhhh mmmhhh." Pemuda itu benar-benar sudah gila. Ia meremat punggung Rei keras. Meninggalkan jejak cakaran disana.
Rei menyeringai ganas. "Good boy." Ia mengecup kening Zeno sejenak. Pria itu melanjutkan kegiatan panas itu, membuat Zeno kembali mengeratkan lubangnya tegang.
"Nghh." Rei memegangi pinggang Zeno kuat, tak mau melepaskan tautan mereka. Sesekali Rei mencium bibir Zeno. Membiarkan dua lidah itu saling bertarung dan merasakan kehangatan dimulut pasangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
AnggArfa
Teen FictionArfa; anak geng plus berandalan ini harus bisa menerima kalau kejadian itu mengubah hidupnya 180 derajat. Siapa lagi kalau bukan dengan Angga, cowok dingin yang bikin kepala Arfa pusing setiap ketemu!! WARNING! Ini cerita BxB alias homo, yang gasuka...
