29.Tangisnya

4.1K 285 9
                                        

"Menangis lah jika itu melegakan mu, Menangis lah sekencang kencangnya. Teriakkan duka dan kecewamu.
Menangis adalah tanda bahwa kau tabah, kau lebih kuat dari dugaan mu.
Lalu tersenyumlah untuk meredakan pilu mu, itu akan lebih baik.
Sebab, hujan tidak turun kala kelabu awan digantikan pelangi."

~Im only human

.
.
.
Happy Reading♡︎
Enjoy Our Imaginationシ︎
.
.
.








"Lan?"

"Mas?"

"Ayo masuk, adek udah nyariin lo, tuh," ajakan lembut Kayafas justru membuat Kalandra semakin terdiam menahan tangis.

Melihat itu, Kayafas segera mendekat. Merengkuh tubuh sang adik berharap dapat menenangkan kekhawatiran yang dirasakan Kalandra.

"Gue takut Mas... gue gak sanggup liat reaksi  Jian nanti."

Satu fakta yang sukses menghancurkan segala nya. Satu fakta yang mampu membuatnya dan saudara nya yang lain merasa gagal menjadi seorang kakak.

Bahkan sedari tadi, dirinya tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri karena telah lalai sampai penyakit ganas itu bisa bersarang ditubuh bungsu mereka.

"Dengerin gue. Lo yakin 'kan adek kita itu kuat? Dia superhero terkuat nya Bimantara." Yakin Kayafas sembari tersenyum meyakinkan.

Disaat seperti ini, dia harus benar benar menjalankan peran kakak yang baik, bukan? Dirinya harus terlihat kuat untuk menopang adiknya.

Kalandra mengangguk membenarkan ucapan itu, Kenzi itu kuat. Kenzian anak yang hebat. Sosok bintang yang paling terang sinarnya diantara Bimantara yang lain.

"Jadi kita harus lebih kuat buat Jian, oke?" ujar Kayafas ceria membuat Kalandra mengangguk sembari tersenyum semangat.

Kayafas, sinar mentari pemberi kehangatan Bimantara. Segera berdiri dari duduknya.

Mengulurkan tangan di depan Kalandra yang disambut hangat pula oleh sang adik sulungnya.

'Cklek'

Kenzi menoleh ketika suara knop pintu terbuka. Matanya tampak berbinar saat mendapati sosok kakak yang sedari tadi dicarinya.

"Abanggg!!" pekiknya pelan.

Kalandra tersenyum lembut pada adik satu satunya itu. Tanpa berkata apa apa, Kalandra segera mengambil duduk di kursi sebelah brankar Kenzi.

"Dek...," lirih Kalandra membuat Kenzi menatap heran abangnya.

Ada apa? Kenapa abangnya terlihat berkaca kaca.

"Loh? Abang kenapa? Abang sakit?" polos Kenzi menyentuh kening Kalandra yang baik baik saja.

Kalandra menatap wajah polos adiknya yang beberapa hari belakangan ini terlihat pucat dan sayu. Binar mata cerahnya yang tanpa mereka sadari semakin berubah dari hari ke hari.

Seperti terlihat lebih menguning?

Astaga, betapa bodohnya dia? Sampai tak menyadari segala perubahan itu.

"Abang?" panggil Kenzi sekali lagi saat tak kunjung mendapat respon dari yang lebih tua.

Kalandra menggeleng, "Abang oke, kok. Maafin Abang, ya, Ji? Maafin Abang yang udah lalai jagain lo."

KenZian [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang