32. New Mama?

2.9K 220 16
                                        

"Yang pergi biarlah pergi. Tapi sampai kapan pun, dirinya tak akan pernah terganti"
.
.
.
Happy Reading♡︎
Enjoy Our Imaginationシ︎
.
.
.

Kenzian mendengus kecil, melirik sinis pada sang papa yang masih menatap intens dirinya. "Apa sih, Pa? Bercandanya gak lucu. Papa garing kalau bercanda, semut aja gak bakalan ketawa." ujarnya merenggut kesal.

"Dek, Papa serius, Nak?" Rendra kembali bersuara dengan hati hati.

"Mending Papa belajar ngelawak dulu sama om Sule, baru deh Papa boleh ngeluarin bercandaannya Papa." jawab Kenzian kembali dengan sikap acuhnya.

Yang lain hanya terdiam membisu. Tidak tau harus berbicara apa, karena jujur saja, mereka juga masih tak siap jika membicarakan hal yang cukup sensitif seperti ini dihadapan adik bungsu mereka.

"Adek, dengarkan Papa dulu, sayang."

"Nggak. Papa diem dulu, Adek mau fokus non--"

"Papa serius, Kenzian." ucap Rendra sedikit tegas memotong perkataan Kenzian, yang lagi lagi seperti akan membantah.

Kenzian kembali menoleh, netranya ia fokuskan menatap mata tegas sang ayah. "Oke, silahkan. Papa mau bicara apa? Jian dengerin, kok." ujarnya tersenyum simpul.

"Papa minta pendapat Adek, jika--"

"Papa beneran mau nikah? Sama siapa, Pa?" Kenzian bertanya lirih.

Mama baru, ya? Terdengar cukup menyedihkan.

"Aunty Laura?" lanjut Kenzian menebak.

Kenzian melihat diamnya sang papa. Cukup lama, hingga bungsu Bimantara itu menganggap diamnya sang ayah sebagai jawaban yang jelas. Lantas anak itu mengangguk angguk pelan. "Oke, berati iya."

Anak itu mendongak sejenak, menghalau genangan air mata yang hampir saja terjatuh dari pelupuk mata. "Papa, serius?" tanya anak itu mulai bergetar.

Rendra mengangguk samar. "Bagaimana?"

"Mas ikut apa kata Papa. Jika itu yang membuat Papa bahagia, Mas setuju." jawab Kayafas serius.

"Abang juga,"

"Kalau itu memang yang terbaik buat Papa, Kakak oke."

"Kami semua setuju, Pa." Kalandra ikut bersuara.

"Nggak,"

"...Adek gak bisa, Papa." Bungsu itu menunduk tatkala air matanya telah lolos membasahi pipi.

"Kenapa, Dek?" sahut Kayafas bertanya.

Kenzian mendongak, masih deegan isak tangisnya, dia berkata. "Papa mau khianati Mama? Papa mau menduakan Mama?"

"Jian pernah bilang kan, Pa? Jian gak mau, Jian gak siap punya mama. Mama nya Jian itu cuma mama Raisya, bukan yang lain," jawab si kecil menggebu gebu.

Kenan, sulung keluarga itu menatap sendu keduanya. Menarik napas nya kuat dan dihembuskannya secara perlahan. "Adek? Aunty Laura itu baik, kok. Dia pasti bakalan jaga Adek kayak anak kandungnya sendiri. Jian tidak perlu takut, Dek. Adek bilang pengen mama kan waktu itu? Adek juga sudah dekat dengan aunty Laura, jadi--"

"Gak. Mama tetap mama. Aunty Laura tetaplah aunty Laura. Dia bukan mama Jian." bantah nya memekik.

Rasanya seperti dejavu, situasi seperti ini pernah terjadi tiga tahun yang lalu. Perdebatan hebat dimana sang nenek berniat menjodohkan papa dengan aunty Laura, yang ditolak mentah mentah oleh Kenzian dengan alasan yang sama.

KenZian [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang