"Kamu hebat. Dirimu, berhasil menunjukkan pada dunia, bahwa kamu bisa mengalahkannya."
.
.
.
Happy Reading ♡︎
Enjoy Our Imagination シ︎
.
.
.
Beberapa pasang mata terlihat cemas menatap ruang operasi dengan nyala lampu yang sedari tadi terpancar, pertanda operasi tengah di laksanakan.
Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain pasrah, berdoa, dan juga menanti. Menanti kabar baik dari sosok bungsu yang tengah berjuang mempertahankan hidup dan mati.
"Mas, duduk dulu. Kamu gak capek berdiri terus?" tegur Rendra pada Kayafas yang sedari tadi tak lelah mengitari depan ruang operasi.
"Mas khawatir, Pa." jawab Kayafas dengan wajah muramnya.
"Iya, Papa ngerti, Nak. Kita doakan Jian sama sama, ya? Ayo sini duduk dulu." Rendra kembali membujuk.
"Mas mau nunggu, Adek!" tekan Kayafas tak ingin dibantah.
Kevin yang mendengarnya hanya memutar bola mata malas. Terlalu lelah jika harus turut berdebat dengan oknum yang bernama Kayafas.
"Yakin, Mas? Lo mau berdiri di situ terus?"
"Yakin lah, gua mau nunggu Jian."
Kalandra menghela napas lelah. Kayafas memanglah keras kepala. "Kata aa' operasi sirosis hati bisa memakan waktu enam sampai dua belas jam. Ya gapapa juga sih kalo lo emang gak mau duduk. Gws deh buat kakinya, semoga gak buntung tiba tiba," cibirnya melirik Kayafas dengan air muka meledeknya.
Sepertinya, cibiran Kalandra cukup membuahkan hasil. Terlihat lelaki keras kepala itu mulai mendudukkan dirinya disebelah Rendra dengan kesal. "Lama banget, sih!" sungutnya tak sabaran.
"Sabar, Mas. Astaga kamu ini, ya." ujar Rendra gemas.
"Mas itu khawatir, Pa!"
Rendra mengangguk memaklumi. "Iya, Nak. Papa ngerti kalau Mas khawatir. Mas doain Jian, ya. Percaya sama Papa, bungsu kita insya Allah bakal baik baik aja." tutur Rendra pelan dengan usapan lembut pada bahu anak itu.
Sejak kedatangannya kemari, Kayafas telah terlihat sibuk sendiri. Sibuk mengitari dan mengintip celah celah kaca pintu ruang operasi untuk melihat kondisi si bungsu.
Tadi, kondisi Kenzian terlihat semakin menurun, maka dengan terpaksa, operasi transplantasi hati yang seharusnya dijadwalkan minggu depan itu kini harus dimajukan dan dilaksanakan malam ini.
Kayafas yang baru saja tiba itu pun tak dapat mengontrol dirinya. Pria yang baru saja beranjak dewasa tersebut tampak kalang kabut mendengar sang adik yang harus segera dioperasi.
Rasa takut terus saja mendominasi hatinya.
Kayafas tak ingin kembali merasakan kepedihan yang bernama ditinggalkan. Kayafas, tidak pernah siap jika harus kehilangan. Dan tak akan pernah.
"Fafas takut, Pa..." Kayafas kembali bersuara dengan kepala yang tertunduk dalam.
"Fafas takut adek bakal ninggalin Fafas, kayak mama ninggalin Fafas waktu itu,"
"Fafas gak siap buat kehilangan lagi, Pa..."
"Fafas gak siap..." gumam lelaki itu lirih.
Rendra segera membawa tubuh bergetar itu dalam rengkuhan hangatnya. Sedikit memberi rasa tenang pada daksa rapuh milik Kayafas.
"Adek pasti sembuh. Percaya sama Papa, kamu gak akan kehilangan adek kamu, Nak."
"Hiks..."
"Fafas takut..."
KAMU SEDANG MEMBACA
KenZian [END]
Storie breviBukan cerita romansa yang berisi kisah perjuangan cinta, Bukan pula cerita BXB atau sejenisnya. Ini hanya cerita bertema Brothership, Kekeluarga an!. ❁---------------------------------------------❁ Menceritakan hangatnya sebuah keluarga yang penuh d...
![KenZian [END]](https://img.wattpad.com/cover/279051529-64-k605996.jpg)