30. Pasti bisa

3.3K 225 8
                                        

"Hidup itu, layaknya roda berputar. Akan ada masa dimana berada di atas dan juga di bawah."
.
.
.
Happy Reading♡︎
Enjoy Our Imaginationシ︎
.
.
.

"Sekarang makan dulu, ya? Habis itu minum obatnya. Biar cepet sehat jagoannya bunda," tutur lembut Ghina mengambil semangkuk bubur yang telah disediakan rumah sakit di atas nakas.

Saat ini mereka semua memang berada di ruangan Kenzian. Terkecuali Kevino dan juga Kenan yang entah pergi kemana sejak sekitar satu jam yang lalu dan belum juga kembali.

Yang lain hanya diam menyimak. Sejak kedatangan mereka kemari, tak ada satupun yang menyinggung soal sakit Kenzi. Semua kompak menutup mulut, bersikap tak terjadi apa apa.

Karena tak ingin membuat hati mereka kembali bersedih atas kenyataan di depan mata, terlebih lagi bagi si kecil Kenzian.

"Emm, harus mam, ya, Bunda?" tanya nya dengan bibir yang mulai melengkung ke bawah.

Ghina tersenyum lembut sembari mengangguk. "Iya sayang, biar Adek cepet sembuh. Terus bisa cepet dibolehin keluar. Katanya tadi udah pengen pulang 'kan?"

Kenzi mengangguk antusias, "Iya, pulang."

"Nah, jadi, ayo dimakan dulu. Buka mulutnya, aa~~" ujar Ghina menyodorkan sendok berisi bubur hambar itu.

Dengan pelan Kenzi mulai membuka mulutnya, menerima satu suap dari bunda.

Kembali ia lengkung kan bibir ke bawah, menatap orang sekitar dengan mata berkaca kaca. Tenggorokannya terasa ingin terbelah, lantas bagaiman bisa dia menelan makanan ini?

"Kenapa, Nak?" Kenzi hanya menggeleng, tak menjawab pertanyaan sang papa.

"Tenggorokannya sakit, ya, buat nelen?" tanya Kalandra menghampiri dijawab anggukan lesu dari Kenzi.

Wahh, kalandra memanglah tipe orang yang mudah peka.

"Pelan pelan aja nelannya, hm? Sambil dibantu air, ya? Abang suapin airnya, biar Bunda yang suapin buburnya." Tuntun Kalandra.

Dengan pelan, akhirnya Kenzi berhasil menelannya meskipun sempat terbatuk beberapa kali menambah kekhawatiran mereka.

Kalandra mengusap air mata yang keluar dari ujung mata Kenzi, adik kecilnya tengah berusaha tak menangis karena ini.

Hebat sekali, bukan?

"Pelan pelan, Dek. Kalo udah ga mau gapapa, jangan dipaksa," sahut Kayafas tak tega.

Kenzi mengangguk, "Udah, ya, bunda? Sakit," jawabnya serak.

"Iya udah, nanti makan lagi, ya?"

Tak menunggu jawaban Kenzi, Ghina menyodorkan beberapa butir obat obatan yang lumayan banyak itu untuk Kenzi minum.

"Uhukk, huwekk. Ish, eunghh," keluh Kenzi saat merasa mual dan perih saat menelan butiran itu.

Kalandra mengusap punggung sang adik. "Pelan pelan Dek, adek Abang pasti bisa."

Sedangkan yang lain hanya menatap sendu pemandangan itu. Melihat Kenzi yang beberapa kali terbatuk dan ingin memuntahkan obat obat itu, membuat mereka tak tega.

"Huhh, yeay... udah hehe," cengir Kenzi setelah berhasil menelan semuanya.

Memecahkan suasana sedih yang beberapa menit lalu tercipta karena dirinya.

Rendra tersenyum, memeluk lembut putra kesayangannya. "Jagoan Papa hebat. Sekarang istirahat, ya," ajak Rendra membantu sang anak beristirahat dengan nyaman.

KenZian [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang