"Sekalipun kebaikanmu sering diabaikan atau diacuhkan, tetaplah berbuat baik. Karena berbuat baik tidak membutuhkan pendapat manusia."
_reminderhijrah_
.
.
.
Happy Reading♡︎
Enjoy Our Imaginationシ︎
.
.
.
Seorang remaja terlihat menggeliat kecil dari gundukan selimut yang menutupinya. Matanya mengerjap ngerjap pelan guna menyesuaikan penglihatan.
Diliriknya jam biru langit yang bertengger manis di atas nakas telah menunjukkan pukul 18.00 wib. Ah sudah berapa lama dia tertidur?
Kenzi, remaja itu terus mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan bercat biru hitam yang tampak sepi itu. Merasa tak asing dengan ruangan tempatnya berada saat ini, sebelum beberapa detik kemudian senyum cerah merekah terpampang jelas dari bibir manisnya.
"Wah, Jian udah pulang!" Pekiknya terlampau senang setelah menyadari ruangan tempatnya berada saat ini tak lain dan tak bukan adalah kamar kesayangannya sendiri.
Sepertinya, Jian tadi hanya sedang mengalami proses pengumpulan nyawa sehingga terlambat menyadarinya.
Tanpa banyak basa basi lagi, Kenzi mengambil kruk elbow di sebelah nakasnya dan segera beranjak turun dari ranjangnya.
Tak sabar ingin segera keluar menemui papa dan para kakaknya agar segera bisa pamer dan mengatakan 'Jian udah pulang wleekk' pada mereka semua.
Tak peduli dirinya keluar tanpa membasuh muka sedikitpun, yang terpenting saat ini adalah keinginan menemui keluarganya. Dan berbagi kebahagiaan betapa senangnya dia saat ini.
"Gapapa, Jian tetep ganteng, kok," gumamnya percaya diri sembari menuruni anak tangga itu dengan hati hati.
Setelah berhasil mencapai dasar tangga. Niatan Kenzi untuk pamer berbagi kebahagiaan itu justru tergantikan dengan rasa kesalnya saat melihat semua anggota keluarganya beserta keluarga Fernando tengah asik berkumpul ria tanpa dirinya.
Kenzi mengerucutkan bibirnya, dilengkapi tatapan sinis yang dia lemparkan pada sekumpulan orang di depannya yang bahkan tak menyadari keberadaan bayi mereka saat ini.
"Papa!" Pekiknya terlampau kesal yang berhasil membuat seluruh mata beralih fokus padanya.
Rendra tampak terkejut melihat keberadaan bungsunya yang tengah meletakkan tangan di pinggang dengan penampilan semrawut seperti itu.
Bahkan Kenzi tampak tak menyadari bahwa sekarang Kayafas dan Ghibran sudah siap dengan kamera hp nya guna memotret si kecil yang tetap pada posisinya.
Penampilan kusut disertai muka bantal khas bangun tidur, lengkap dengan berdirinya helaian rambut yang membuatnya terlihat seperti singa tarung. Membuat dua sejoli itu tak ingin menyia-nyiakan momen langka ini.
Jika saja bukan keluarga, mungkin bisa saja orang yang tidak mengenal Kenzian akan mengira bahwa anak itu seorang gembel bawah selokan. Iya selokan, karena gembel jembatan saja terlalu bagus untuk penampilannya saat ini.
"Ada apa, Nak? Sini duduk. Kenapa berdiri di situ?" tanya Rendra menyuruh si bungsu agar duduk di sofa kosong sebelahnya.
Kenzi mendengus sebal. Mendudukkan bokongnya kasar, dan dengan tak sabaran menenggelamkan wajahnya di dada bidang Rendra. Serta kedua tangannya yang memeluk erat pinggang sang papa yang dengan senang hati dibalas pelukan hangat oleh Rendra.
"Kenapa, hm?" tanya Rendra menunduk, mengelus surai lembut itu.
"Kok Jian ga dibangunin?! Papa lupa Jian udah pulang??" sengitnya dengan suara teredam pelukan, namun masih bisa terdengar jelas oleh semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
KenZian [END]
Short StoryBukan cerita romansa yang berisi kisah perjuangan cinta, Bukan pula cerita BXB atau sejenisnya. Ini hanya cerita bertema Brothership, Kekeluarga an!. ❁---------------------------------------------❁ Menceritakan hangatnya sebuah keluarga yang penuh d...
![KenZian [END]](https://img.wattpad.com/cover/279051529-64-k605996.jpg)