23. Sebiji Siomay

4.2K 291 25
                                        

"Lihatlah, Betapa polosnya si kecil ini. Percayalah, dia tak pernah berubah. Justru kalianlah yang merubahnya."
.
.
.
Happy Reading♡︎
Enjoy Our Imaginationシ︎
.
.
.








Setelah kejadian beberapa waktu lalu yang sempat membuat keluarga Bimantara dilanda kekhawatiran, sekarang mereka semua sudah dapat bernapas lebih lega.

Kondisi Kenzi semakin hari kian membaik. Bahkan si bungsu kecil itu sudah bisa kembali berceloteh ria seperti biasa.

Tak ada lagi ketakutan, tak ada lagi tekanan. Semua terasa seperti sedia kala.

Seperti siang ini, ada Kayafas yang terlihat tertekan dengan tingkah sang adik.

Hari ini memang hanya dirinya seorang yang mendapat giliran menjaga si bungsu. Karena, memang hanya Kayafas yang sedang santai tak ada jadwal.

Dan entah kenapa, takdir memang sepertinya sedang mencoba menguji kesabarannya saat ini. Sedari tadi, Kenzi tak berhenti merengek meminta banyak hal.

Bahkan terhitung sudah lebih dari tiga kali adiknya itu mengeluarkan air mata, lengkap dengan sesenggukan nya.

Padahal, hari masih menunjukkan pukul 11 siang.

Dan sekarang, lagi dan lagi manik mata indah itu sudah bersiap akan mengeluarkan cairannya. Membuat Kayafas semakin frustasi dibuatnya.

Sungguh, harus kalian ingat. Bahwa Kayafas adalah oknum pemilik kesabaran yang lebih minim dibanding saudara saudaranya yang lain.

Lantas kenapa takdir seolah sedang mempermainkannya hari ini?

Dimulai dari bangunnya sang adik yang diawali dengan tangisan karena sakit yang kembali datang pada kaki adiknya. Berlanjut pada kejadian sang suster yang memeriksa adiknya sempat mencubit gemas pipinya hingga menimbulkan tangisan dari sang empu, karena tak ingin disentuh yang bukan muhrim.

Hingga kejadian kejadian sepele lainnya yang seolah menjadi kejadian besar bagi Kenzi, serta bencana bagi stok kesabaran Kayafas.

Dan kali ini, bungsu Bimantara itu tengah menguji kesabarannya lagi dengan permintaan sederhana namun sulit dilakukan.

"Mau abang, pokoknya!" rengek Kenzi dengan bibir dimanyun manyunkan.

Kayafas menghela napas sabar, mencoba menetralisir kekesalannya. "Kan Mas udah bilang, Dek, abangnya lagi sekolah." Sudah tak terhitung lagi jawaban yang sama keluar dari mulut Kayafas.

Tapi tetap saja, jawaban itu sama sekali membuat Kenzi tak kunjung puas.

Permintaan si kecil kali ini ingin segera bertemu Kalandra. Sedangkan yang diinginkan sedang pergi menuntut ilmu dan akan pulang pukul 3 atau 4 sore hari sesuai jadwalnya.

Sedangkan sekarang masih pukul 11. Tak salah?

"Ya Adek tau. Tapi tetep mau abang! Telfon abangnya, Mas." kekeuhnya.

"Iya, udah, nih. Udah gue telpon gak diangkat, gak aktif. Lagian lo chat sendiri 'kan bisa?"

"Centang satu abangnya!"

"Ya berarti masih belajar Dek abangnya, Allahu Akbar! Sabar dikit nanti juga kesini." Kayafas mulai tersulut emosi, lagi.

"Aaa~~ suruh cepetan abangnya, hiks," rengek Kenzi.

"Iya, nanti kalo dah bubar sekolahnya."

"Cepet, suruh bubarin." Jawaban yang terdengar seperti tak ada beban, bukan?

KenZian [END] Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang