Semoga cerita ini makin tidak mbulet. Do you know mbulet? Muter-muter kek gangsing. Saya membaca semua komentar dan pesan yang masuk meski tidak membalas satu per satu. Thanks sudah suka dengan ide cerita ini. Hihihi. Happy weekend, ya!
***
Kedai itu memiliki bentuk yang sederhana dengan atap lebar khas rumah tradisional Jepang. Desain depan yang memiliki pelataran agak luas dengan kolam ikan koi kecil membuat senyum terbit di wajah Sakura. Mereka memasuki area luar kedai, kemudian duduk di deretan kursi dari bambu. Suasana perbatasan desa Konoha yang berada dekat hutan membuat Sakura memejamkan mata. Bagaimanapun ia menyukai hembus angin dari pepohonan di dekat kedai, membuat segalanya terasa damai. Tentu ia yang duduk di kedai bersama Kakashi dua hari lalu masih terekam jelas di ingatan.
"Kau sering datang ke sini?" tanya Iruka saat Sakura sibuk mengamati pemandangan di sekitar kedai yang tampak hijau, jauh berbeda dengan pusat desa yang dipenuhi pemukiman padat penduduk.
"Eh?" Sakura agak tergagap, lalu buru-buru mengalihkan pandangan pada Iruka yang menunggu. "Tidak juga. Aku menyukai suasana di tempat ini. Menurutku, tempat ini jauh lebih menenangkan dibandingkan dengan pusat desa."
Iruka mengawasi sekeliling, kemudian ia manggut-manggut sebab menyadari tidak ada orang lain selain mereka.
"Biasanya hanya warga sekitar perbatasan yang singgah di kedai," ucap Iruka memandang Sakura, "beberapa orang yang suka keluar masuk hutan untuk mencari ubi dan beberapa tanaman obat kurasa."
Sakura mengangguk. "Oh ya, Iruka-san tadi mau makan sup misohiru, 'kan?"
"Ya, aku akan mentraktirmu."
"Uhm. Apa itu tidak berlebihan, Iruka-san?"
Bagaimanapun Sakura menyadari bahwa ia berstatus jounin yang lebih tinggi dari Iruka, tetapi menolak secara langsung akan membuat harga diri Iruka terluka. Ia jelas tahu bahwa Iruka acap mentraktir Naruto saat mereka masih gennin dulu. Bekas luka yang ada di hidung laki-laki itu membuat Sakura tertegun sebentar. Ia pernah mendengar bahwa Iruka mendapatkan luka itu sebelum invasi Kyuubi dekade lalu, kemudian kehilangan kedua orantua akibat ulah Kurama. Namun, ia salut Iruka tidak membenci Naruto, bahkan Iruka merupakan sosok ayah bagi sahabatnya itu.
"Sakura, kau baik-baik saja?" tanya Iruka tiba-tiba. "Ada sesuatu yang mengganggumu, atau kau punya jadwal lain sore ini."
Sakura terperangah agak malu sembari melambaikan lima jari. "Tidak, tidak, Iruka-san. Aku baik-baik saja. Aku hanya ...."
"Hanya?" ulang Iruka penasaran.
Bekas luka itu kembali membuat Sakura tersenyum getir. "Tadi aku hanya memikirkan seseorang. Bekas luka di hidungmu," Sakura merasa tidak enak, tapi Iruka tampak tidak keberatan, "kenapa kau tidak mencoba menghilangkannya. Maksudku, kau keren dengan bekas luka, tapi rumah sakit Konoha sudah memiliki teknologi canggih untuk menghapus luka di tubuh para ninja, lho! Maksudku, sebagian orang mungkin merasa kurang percaya diri dengan adanya bekas luka di tubuh."
Iruka tertawa aneh, lalu menggaruk bagian belakang kepala yang tidak gatal. Ia memperhatikan manik hijau di depan yang begitu indah bila dipandang dari dekat. Tentu ia tidak pernah melihat Sakura sebagai sosok yang lain saat mengajarnya di bangku akademi dulu. Sakura masih berumur dua belas tahun waktu bergabung dengan tim gennin Kakashi, sedangkan ia yang mengajar di bangku akademi sejak usia dua puluh dua tahun. Jarak usia yang tidak terlalu jauh, apalagi ia melihat gadis itu tumbuh dewasa sekarang.
"Hmm, kau menyebutku keren dengan bekas luka ini. Jadi, bagaimana aku bisa menjadi kurang percaya diri?" Iruka yang pura-pura batuk menyedot atensi Sakura.
KAMU SEDANG MEMBACA
Blue
FanfictionSaat Hatake Kakashi menolak perintah pernikahan dari Godaime, Sakura harus mencari cara agar pria itu mau memberikan sperma demi kelangsungan klan Hatake. Berawal dari pil biru pemberian Tsunade, Sakura harus menerima imbasnya. Rate M +18
