Side Story

691 69 10
                                        

Ten x Ruby

Suara gemericik dari kamar mandi yang tertutup rapat membangunkan Ten dari tidur lelapnya. Susah payah pria itu berusaha membuka kelopak mata yang terasa berat, menyesuaikan pandangan dengan cahaya yang mulai masuk dari jendela kamar. Ten mengedipkan matanya berkali-kali, menatap lurus pada langit-langit kamar.

Ini bukan kamarnya. Dan lagi, dia masih mengenakan jas lengkap sama seperti semalam.

Pria itu kemudian merubah posisinya menjadi duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur, memperhatikan seisi kamar yang nampak asing namun juga familiar. Kepalanya masih terasa pusing, sebenarnya berapa banyak alkohol yang ditegaknya semalam? Ten kembali memijat pangkal hidungnya pelan.

"Kau sudah bangun?" Tanya si pemilik kamar yang tak lain adalah Ruby. Perempuan itu keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe dengan selembar handuk yang membungkus rambutnya.

"Kau yang menjemputku?"

Perempuan itu mendengus. "Apa itu masih perlu ditanyakan, Tuan Lee?" Sarkasnya sembari memakai lotion seolah tak terganggu dengan sosok lawan jenis yang masih berada di kamar.

"Sebaiknya kau mandi, asal kau tahu saja baumu itu lebih busuk dari kuma yang belum mandi sebulan." Suruh Ruby melemparkan handuk yang baru saja diambilnya dari lemari.

Ten terkekeh pelan, pria itu tak membantah. Ia kemudian bangkit melepas jas, menggulung lengan kemeja dan melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

"Je, aku ingin teh madu!" Teriak Ten tak lama kemudian dari dalam kamar mandi membuat Ruby mendelik kesal.

"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!"

Tiba-tiba Ten menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Kenapa? Karena itu panggilan spesial dari Jaden buatmu?" Goda Ten menaik turunkan alisnya.

"Ya! Chittaphon! Diam kau!" Teriak Ruby melempar bantal yang akhirnya mengenai pintu kamar mandi karena Ten yang berhasil mengelak.

"Augh, haruskah aku menambahkan racun diteh madunya?" Gumam Ruby dengan kekesalan yang masih diubun-ubun.

Setengah jam kemudian dua manusia berbeda jenis kelamin itu sudah duduk berhadapan di meja makan dengan minuman mereka masing-masing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Setengah jam kemudian dua manusia berbeda jenis kelamin itu sudah duduk berhadapan di meja makan dengan minuman mereka masing-masing.

"Sejak kapan kau menjadi pemabuk?" Tanya Ruby menyesap kopi hitamnya.

Ten mengaduk teh madu buatan Ruby. "Berlebihan sekali sampai menyebutku pemabuk. Aku hanya minum sedikit." Elak pria itu.

Ruby memutar bola matanya malas. "Terserah kau saja." Balas perempuan itu malas.

Sebenarnya bukan tanpa alasan Ruby yang menjemput pria itu semalam. Tadinya bartender di sana menghubungi Juyeon, namun Juyeon yang sudah kesal langsung menghubungi Ruby dan meminta perempuan itu untuk menjemput atasan mereka. Ruby tahu ada yang salah dengan Ten, karenanya dia tidak menolak saat dihubungi Juyeon.

Paper HeartsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang