22. HANTU JEPANG JAHIL

450 40 0
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ᚓᚓᚓᚓᚓ⚘☆⚘ᚓᚓᚓᚓᚓ

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ᚓᚓᚓᚓᚓ⚘☆⚘ᚓᚓᚓᚓᚓ

Keesokan paginya Daraya berada di Perpustakaan Sekolah berniat membaca satu buku sebelum masuk Sekolah. Ambil 1 buku berukuran medium untuk isi kekosongan hari ini.

Daraya sengaja datang pagi-pagi buta untuk pergi ke Perpustakaan Sekolah yang terletak di Gedung Utara lantai satu sebelah kanan Koperasi untuk sekedar baca buku.

Kegiatan ringan ini, masih saja ada yang ganggu. Rambut Daraya ada yang sengaja ditiup dan pipi kanan ditoel-toel seperti bakpao.

"Diem, pergi." usir Daraya yang sudah sangat risih dengan kelakuan orang ini, bukannya ikuti malah diam

"Lucu ih, pipi kamu itu." gemas orang ini yang sebenarnya adalah Harpus. Hantu Perpustakaan yang sudah tinggal di Perpustakaan selama 12 tahun lebih.

Ciri-ciri Harpus ini adalah seorang wanita yang memakai baju seragam Jepang, rambut diurai kecoklatan, hidung mancung, berkulit krem, bermata sedikit lonjong.

Seragam yang berwarna biru tua dilengkapi pita biru, putih merah di dada. Dia juga punya goresan kering panjang di bagian mata kirinya.

Selama murid lain ke Perpustakaan, Hanya orang tertentu-lah yang akan diganggu.

Salah satunya Daraya, gara-gara sudah tidak kuat dengan pipi Daraya yang terlihat sedikit chubby.

Daraya tidak sanggup lagi di usilin seperti ini, berniat berdiri dari tempat duduk, keluar.

Saat keluar, mata Daraya menyempatkan melirik ke arah jam dinding yang bertengger di dinding putih Perpustakaan.

Jam terpampang pukul 7 kurang 15 jadi 15 menit lagi bel tanda masuk akan berbunyi. Daraya bangkit dari tempat duduknya kembalikan buku terlebih dahulu, setelah itu putusin keluar Perpus.

Harpus lihat Daraya berdiri, tumbuh rasa kecewa dihatinya. Dia yang tidak ada teman main lagi, menghilang dari Perpustakaan.

Daraya terus berjalan sendiri di lorong yang tak tampak seorangpun. Tepat tangga menuju lantai 2, ada sepasang remaja berbisik-bisik.

"Dia gila ya marah-marah gak jelas. Sendiri pula di Perpustakaan. Padahal sebelah dia gak ada orang loh," bisik wanita pakai scrunchie kuning yang sengaja diletakkan di tangan dan satu cincin di jari manis.

"Benar. Paling dia keluarin diri dari RSJ padahal belum sembuh. Gue dengar dia juga gak punya temen di kelasnya gara-gara bicara sendiri seperti tadi, stress." tuduh wanita berjam tangan emas dan berkalung perak banyak dipergelangan tangannya.

Kedua wanita berlagak sok baik ini terus aja gibah tanpa henti selama menaiki tangga. Tanpa disadari oleh mereka, orang yang digibah berada di belakangnya.

Daraya dengar kalimat kejam dari penghuni kelas lain tetap kalem, datar tidak tunjukkin kalau dia tersinggung sama sekali.

Di penghujung tangga, Daraya menerobos dua wanita rok ketat, bertubuh seksi kayak spatula gosong dan menyenggol bahu salah satu dari mereka.

"Aduh." spontan Wanita berjam tangan emas erang kesakitan disenggol Daraya barusan

Mereka berdua panik natap satu sama lain setelah tau dari tadi ngobrol ada orangnya langsung. Mereka garuk leher masing-masing yang tidak gatal.

Daraya yang sempat lihat ekspresi mereka berdua terkekeh kecil dan puas lihat wajah ketakutan jelas di muka mereka.

"Seru juga ya jahil ke Orang Dajjal kek mereka itu." batin Daraya menahan tawa berjalan ke arah bangku pojok belakang miliknya.

Kring kring..

Bel masuk berbunyi tepat waktu. Kali ini Daraya tidak terlambat masuk ke kelas. Daraya buka kedua tangannya terbuka ikuti doa sebelum belajar. Yang dipimpin guru Agama melalui mik yang terhubung ke kelas-kelas.

"Assalamu'alaikum, selamat pagi
Anak-anak." sapa guru biologi ramah

Suasana sehabis doa menjadi cerah dengan sapaan ringan Guru Biologi yang sangat pandai ekspresikan diri sendiri alias jago akting.

"Wa'alaikumusalam, Bu Ani." sahut teman kelas Daraya

Teman sekelas Daraya berikan senyuman ke salah satu guru favorit mereka di Sekolahan. Bu Ani membalas senyuman terbaiknya ke mereka semua.

Bu Ani ini sama dengan Pak Ali guru sejarah wajib kemarin. Cara mengajar beliau sangat menarik bagi kami. Tidak terlalu monoton langsung kasih tugas.

Beliau pasti jelasin dengan pemahaman materi yang sebelumnya dibaca dulu dan dijelaskan seasik, sedetail dan seenak beliau. Mereka berdua selalu selingi sedikit bercanda biar tidak bosan.

Oleh sebab itu, mereka menyukai cara mengajarnya. Selain mereka berdua ada juga yang jelaskan seperti mereka berdua. Di kelas mereka, banyak guru-guru seperti itu tidak kalah asik.

Materinya adalah Organ Pernapasan. Materi yang pernah dipelajari waktu SMP dan juga SD. Kali ini seperti mereview materi.

Pertengahan mapel lain, ada seorang pria intip dari jendela kelas Daraya. Dia memandang Daraya dari jauh dan menghela lega kalau Daraya beneran sampai ke Sekolah dengan aman dan tidak bolos.

Dia juga menonton Daraya tersenyum tipis karena dengar kekonyolan teman sekelasnya. Anak cowok yang lagi bercanda. Tanpa dia sadari, dia juga tersenyum lihat senyuman Daraya.

Setelah puas dan lega Daraya baik-baik saja, pria tampan berkulit Asia Tenggara ini bergerak maju menuju kearah kelasnya sendiri di lantai 3.

BERSAMBUNG

Terima kasih sudah mampir di cerita 'PổpcổNaNổ'. Semoga kalian suka:-). Dan sampai jumpa di chapter selanjutnya. ˁˀSee Youˁˀ.

SEMANGAT!

Jika ada kritik dan saran, silahkan beri komentar di sebelah. Saran kalian membantu cerita selanjutnya.

Buat : Rabu, 23 Februari 2022
Publik : Rabu, 6 Juli 2022

𖤓 Jadwal Update : 𖤓
• Rabu = pukul 20.00
• Jumat = pukul 18.00
• Minggu = pukul 16.00

DARANGGA [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang