BAB 19

114 22 17
                                        

Pagi-pagi sekali, Haifa dan Afzal tengah bersiap-siap untuk berangkat menuju kota Bandung. Kemarin Abi Arsyad memberitahu jika mereka akan mengadakan kumpul-kumpul dengan keluarga besar Afzal yang tinggal di Jawa. Mau tak mau Haifa dan Afzal pun harus datang meskipun Haifa sedikit enggan karena takut tidak diterima dengan baik oleh mereka.

Afzal sendiri sebenarnya belum benar-benar sembuh. Tubuhnya masih terasa lemas dan sesekali rasa pening masih menyerang. Namun, Afzal tetap memaksakan datang. Masa ia tidak ada di sana, sementara tujuan mereka datang adalah untuk bertemu dirinya dan Haifa karena waktu acara pernikahan, keluarga Afzal yang berada di Jawa tidak sempat ikut.

Kali ini, perjalanan menuju Bandung cukup lancar, tidak terjadi macet sama sekali. Mungkin karena masih pagi dan tidak banyak kendaraan yang memadati jalanan. Mobil yang dikendarai Afzal kini mulai memasuki kawasan komplek perumahan yang cukup asri. Di sisi kiri jalan terdapat beberapa pohon berukuran sedang yang berhasil memberikan kesan sejuk di sekitar sini.

Tepat pukul setengah sembilan, mereka akhirnya sampai di kediaman orang tua Afzal. Di depan teras, Abi Arsyad dan Umi Yamila sudah siap menyambut kedatangan putra beserta menantu mereka dengan senyum cerah. Umi Yamila sudah benar-benar merindukan sosok Haifa karena setelah acara pernikahan tempo hari, ia belum sempat bertemu lagi dengan menantu kesayangannya itu.

"Assalamu'alaikum," ucap Afzal dan Haifa berbarengan, lantas keduanya bergantian menyalami punggung tangan Umi Yamila dan Abi Arsyad.

"Wa'alaikumussalam," sahut Umi Yamila dan Abi Arsyad bersamaan. "Umi kangen banget sama kamu, Sayang." Umi Yamila langsung memeluk hangat Haifa.

Perempuan itu balas memeluk, sambil tersenyum tipis. "Haifa juga kangen Umi."

"Sama abi enggak kangen?" Abi Arsyad ikut menyahut.

"Abi apaan, sih?" balas Afzal seolah tak terima Abi Arsyad berkata seperti itu.

"Kenapa? Kamu cemburu?" tanya Abi Arsyad dengan mata menyelidik. "Cemburu, kok, sama abi."

Haifa dan Umi Yamila seketika tergelak melihat interaksi kedua pria berbeda usia itu. Abi Arsyad ikut tertawa pelan, sementara Afzal nampak memutar bola mata malas. Afzal melongok sekilas ke dalam rumah yang masih nampak sepi. Ternyata keluarga dari Jawa belum juga sampai.

"Kapan kira-kira mereka sampai ke sini, Mi?" tanya Afzal pada Umi Yamila.

"Sebentar lagi kayaknya," jawab Umi Yamila, "kalian istirahat aja dulu. Pasti capek, kan?"

Afzal pun mengangguk pelan. "Ya udah, Fa. Ayo, ikut saya."

"Eh, mau ke mana?" Umi Yamila langsung mencegah Afzal yang ingin membawa Haifa.

"Katanya istirahat. Afzal mau nyuruh Haifa istirahat di kamar Afzal," sahut Afzal sambil menautkan satu alisnya.

"Enggak boleh. Umi masih mau sama Haifa."

"Aduh, Umi. Haifa harus istirahat. Umi sama Abi aja, ya." Afzal tersenyum menggoda pada Umi Yamila. "Ayo, Fa."

"Eh, Afzal!" teriak Umi Yamila saat Afzal benar-benar membawa Haifa menuju lantas atas.

"Udah, Umi. Biarin aja mereka istirahat," ujar Abi Arsyad.

"Tapi Umi masih rindu sama Haifa."

"Nanti, kan, bisa ngobrol lagi, Mi."

"Iya, juga, ya."

Abi Arsyad hanya mampu menghela napas pelan. "Dasar, Umi!"

🌹🌹🌹

Sejak tadi, Haifa terus saja menunduk sambil memilin ujung jilbabnya karena merasa tak nyaman berada di antara keluarga Afzal yang tengah berkumpul di ruang tamu. Haifa benar-benar merasa asing di sini, apalagi mereka nampak sibuk masing-masing dan tidak menghiraukan kehadiran Haifa. Tadinya Haifa ingin membantu beres-beres saja di dapur, tetapi Umi Yamila langsung menolak dan malah menyuruh perempuan itu untuk duduk-duduk saja.

Pilihan Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang