7

4.6K 539 61
                                        

Hallo, versi pdf, ebook & KBM aplikasi sudah tersedia ya...

Pdf bisa di order via wa di 0889-7368-9642 dg harga 50k (harga satuan)

Untuk Promo pdf 100k dpet 12 pdf masih berlaku... (Kuota terbatas)
Payment bisa melalui tf bank atau shopeepay. Pdf akan d kirim via email/wa...

No tipu2... no php...

Happy reading

***

"Lho, kok kalian keluar dari kamar itu?" Listy terkejut bukan main membuat Namima dan Evran baru saja keluar secara bersamaan lantas terlihat gelagapan. Kebetulan Listy hendak mengetuk pintu kamar yang di tempati Namima, namun ia terkejut mendapati keduanya keluar dari kamar yang sama.

Apa mereka tidur bersama?

"Aku bisa jelaskan, Tan..." jawab Namima gugup. Ia lebih dulu maju untuk mendekati Listy.

Tapi begitu melihat Evran memasang ekspresi dingin dan tidak mengenakan, Listy menggelengkan kepalanya.
"Sudah sudah... nanti saja menjelaskannya," ucap Listy. "Namima, pacar kamu ada di meja makan. Tante kesini untuk memberitahu kamu, kalau Ben ada disini!"

"Apa?" Namima tambah terkejut. Terlihat dari matanya yang terbelalak.

Listy mengangguk. "Iya! Itu pacar kamu nyusulin kamu. Dia ada di meja makan sekarang untuk ikut sarapan."

"Sepagi ini, Tan?"  Namima masih tidak percaya bahwa sang kekasih menyusulnya.

"Iya..." ucap Listy. "Dia telpon kamu dari semalam tapi kamu nggak angkat. Mungkin nanya sama mama kamu, dan bilang ada disini. Dia bilang berangkat sejak subuh buat nyusulin kamu..."

Tanpa menghiraukan tante Listy, Namima langsung berlari ke meja makan di ikuti oleh Listy dan juga Evran di belakang wanita itu.

Dan benar saja, Ben sedang duduk di kursinya. Pria itu sedang mengobrol bersama Gisela.

"Ben.." sapa Namima lirih sambil mendekati pria itu.

Pria itu menoleh dengan senyum yang lebar. "Hai, Namima sayang.. sini duduk di sebelahku..." tanpa menunggu lama Namima duduk di samping Ben. Sementara Evran terlihat memasang ekspresi dingin melihat keduanya.

Kenapa Ben seperti perangko yang ingin terus menempel pada Namima? Apakah sehari saja tidak bisa kalau nggak bertemu pacarnya?

"Kak Namima nggak bilang punya pacar setampan Kak Ben," goda Gisela. Sejak tadi, gadis itu tidak berhenti mengagumi ketampanan kekasih Namima.

"Oiya? Mungkin Namima lupa... dan aku bukan pacarnya, tapi tunangannya!" Jelas Ben, mengklaim sendiri statusnya sekarang.

"Iya.. aku sudah dengar dari mama. Jadi kapan rencananya?"

"Dua bulan lagi," jawab Ben. "Nanti undangannya pasti sampai, jangan lupa datang, ya?"

"Harus... aku akan dandan yang cantik di acara kalian nanti. Oiya, tapi Kak Namima juga jangan lupa ya, pesananku semalam..."

Namima mengulum senyum. "Baik... akan kakak usahakan!"

"Apa, sayang?" Tanya Ben penasaran tentang yang di bicarakan Gisela bersama Namima.

Namima mendekatkan wajahnya tepat di telinga Ben. "Gaun pesta sweet seventeen!" Bisik wanita itu. Dan gerak-gerik keduanya tidak luput dari penglihatan Evran. Rasanya pria itu ingin berdecih keras melihat kemesraan keduanya. Tapi yang di lakukan Evran hanya bersikap tenang dan diam sambil menikmati sarapannya.

"Oh.. sebentar lagi Gisela ulang tahun..." komentar Ben.

"Iya, Kak. Jangan lupa datang ya sama Kak Namima..." kata Gisela menimpali ucapan ben.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang