20

3.9K 561 72
                                        

Hore, akhirnya rampung juga.. Bismillah...

Pdf TERIKAT LUKA dah ready ya guyssssss...

Sudah bisa di pesan via wa me 089633021705 dg harga 50k 😁

Pembayaran bisa tf atau via shopeepay, di kirim versi ending/tamat ya.. sama seperti ebook...

Happy Reading...

Namima keluar dengan pakaian terbaiknya. Evran berbalik dan sedikit terpana dengan penampilan wanita itu. Sejak kejadian malam itu, Namima menghindarinya. Ditambah lagi dia harus tugas ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Hubungan mereka semakin dingin saja. Tapi, Evran tidak menyerah. Sakti menghubunginya secara pribadi untuk memintanya datang ke acara makan malam yang di adakan dikediaman pria itu sebagai ucapan terima kasih atas kebaikan hati Evran dan istrinya. Dan ini akan ia gunakan untuk membuat Namima sedikit melunak. Bukankah dia senang melihat anaknya?

Namima membuka pintu tanpa menyapa pria itu. Di dalam mobil sekalipun, tidak ada obrolan basa-basi di antara keduanya. Jelas, mereka merasa canggung satu sama lain. Keheningan yang mencekam sedikit membuat Evran geram. Bagaimanapun juga dia tidak suka di abaikan!!

Namima menyetel musik untuk membuat suasana mobil sedikit mencair. Lagu yang mengalun menemani perjalanan mereka. Tidak perlu ada pembicaraan yang tidak penting. Karena kalimat yang keluar dari mulut Evran seperti pisau yang melukai hatinya, jadi begini lebih baik.

Keduanya sampai di kediaman Sakti serta Evelyn. Sudah ada yang menyambutnya ketika sampai, yaitu pembantu yang bekerja di rumah itu membimbing mereka ke ruang makan. Sakti langsung menyambut tamunya dengan senyum ramah, begitu juga dengan Evelyn.

"Selamat datang," Sakti menyalami tamunya secara bergantian. "Bagaimana perjalanannya? Macet nggak?"

Namima tersenyum ramah. "Nggak. Perjalanannya berjalan dengan lancar. Terima kasih atas undangan makan malamnya," ucap Namima tulus.

"Aku yang harusnya berterima kasih, karena berkat pertolongan suamimu, anakku bisa sehat kembali..." timpal Evelyn lebih tulus.

"Sudah seharusnya kan. Kebetulan darah mereka cocok."

"Tapi, tidak ada kebetulan yang sengaja bukan?" Ungkap Sakti.

"Pa, kapan kita makan?" Protes bocah di belakang mereka.

Kedua orang tua yang ada disana terkekeh mendengar protes dari Langit. Evelyn menghampiri putranya.

"Kamu sudah lapar?"

"Kenapa Om dan Tante lama sekali? Aku sudah lapar!" Omel bocah itu.

"Langit, bersikap yang sopan, sayang!" Tegur Sakti.

"Nggak masalah, Mas Sakti," ucap Namima sama sekali tidak tersinggung. Wanita itu justru mengulas senyum tipis kala menarik kursi setelah Evelyn menyuruhnya duduk.

"Makanan yang ada di meja ini adalah menu kesukaan Langit. Oiya, aku sempat bertanya pada Ben tentang makanan kesukaanmu. Entah kebetulan atau apa, makanan  yang di sukai kamu ternyata sama dengan apa yang di sukai oleh Langit."

Namima langsung menatap menu makanan yang tersaji di meja makan. Benar saja, semua yang ada di sana adalah makanan kesukaannya.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang