10

5.2K 588 89
                                        

Buat yg minat baca cepat.. 

Pdf ready yaaa dgn harga 50k
Ebook tersedia di playstore

Promo pdf bayar 100k dapat 12 judul bebas pilih judul, yang mau chat aja via wa yaa, kuota terbatas :)

Bisa d order via wa 0889-7368-9642 / 089633021705

***

Namima pulang dengan wajah sembab. Wanita itu berjalan dengan gontai memasuki kamarnya dengan tubuh basah kuyup. Wanita itu sempat berhenti di taman komplek untuk duduk di sana sementara hujan turun dengan deras.

Dia sama sekali tidak menyangka jika hidupnya akan seperti ini!

Ben bilang mencintainya, tapi kenapa pria itu meninggalkannya begitu tahu bahwa dia mempunyai masa lalu yang pahit?

Siapa yang mau hidup seperti ini? Apa semua itu salahnya?

Dia menyesali bahwa tidak berkata jujur karena takut Ben terluka. Tapi nyatanya, pria itu terluka karena orang lain memberitahu kenyataan tersebut.

Dan orang itu adalah Evran.

Namima tidak tahu, kenapa Evran begitu tega membeberkan aibnya pada Ben. Namima tidak mengerti dengan jalan pikiran pria itu? Fakta yang di sebutkan oleh Ben sangat membuatnya terluka. Jadi, pernikahan yang terjadi sekalipun sudah di rencanakan oleh kakak tirinya itu?

Namima berjalan sampai ia berada di depan pintu kamar Evran. Ini sudah dini hari, jadi Namima yakin pria itu berada di kamarnya alih-alih berada di kamar hotel yang sebelumnya telah di siapkan untuk malam pengantinnya bersama Ben. Karena acaranya kacau, Namima yakin kalau pria itu berada di kamarnya saat ini.

Pintu terbuka tanpa Namima ketuk lebih dulu. Memunculkan wajah dingin Evran. Kemarahan yang meluap di dada wanita itu membuat Namima melayangkan sebuah tamparan di pipi Evran.

"Jahat!" Desis Namima sambil menatap sengit pria di hadapannya itu.

Evran terdengar terkekeh sambil memegang pipinya. Rasa sakit tamparan tersebut tidak ada apa-apanya.

"Sebenarnya apa maumu, Kak? Apa ini rencanamu?"

"Iya..." jawab Evran lugas, menyorot dingin wanita di depannya.

Namima menatap pria itu dengan pandangan sulit di percaya. Tidakkah Evran terdengar gila?

"Kamu gila, Kak!" Namima tidak sungkan mengatakan kalimat itu. Menurutnya, Evran sudah sangat keterlaluan!

Pria itu terlihat menyeringai, entah penglihatannya yang salah atau bagaimana, Namima sempat melihat tatapan Evran melembut sejenak sebelum kembali menatapnya tajam. "Benar. Aku gila memikirkan kamu bahagia bersama pria lain, sementara aku menderita!" Teriak Evran kalap.

Namima mengambil langkah mundur.

"Kamu gila, Kak!" Tuding Namima lagi. Benar, Evran terlalu gila. Apalagi saat pria itu maju untuk meraih pergelangan tangannya dan mencengkeramnya erat. Namima berontak, Namun Evran jauh lebih kuat.

"Terserah kamu mau berkata apa! Kamu harus tahu bagaimana sakitnya kehilangan orang yang kamu cintai, Namima!"

"Kepergian Kak Zoya bukan salahku!"
Ucapan Namima berhasil membangkitkan amarah Evran hingga cengkeraman di tangannya semakin kuat. "Salahmu, kalau saja kamu mau tutup mulut waktu itu," Balas Evran berteriak. "Kalau saja kamu diam, saat ini kamu hidup dengan melihat pertumbuhan anakmu, Namima! Tapi mulut sialanmu itu memilih untuk mengakui kesalahanku di depan semua orang dan rasakan itu!"

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang