19

3.9K 560 34
                                        

Bismillah...

Pdf TERIKAT LUKA dah ready ya guyssssss... ebook sudah tersedia di Playstore....bisa di cek yaaa..

Sudah bisa di pesan via wa me 089633021705 dg harga 50k 😁

Pembayaran bisa tf atau via shopeepay (Dana atau gopay saya ga punya karena terkendala memori penuh😁)

Entah keberapa kalinya ia merasa bodoh dan dungu. Kata murahan saja rasanya tidak cukup menggambarkan dirinya!
Suara dengkuran halus dari Evran membuat Namima sama sekali tidak menoleh  setelah berhasil orgasme, Evran tersenyum senang dan berbaring di sampingnya hingga tertidur.

Namima bangkit untuk memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai dengan gontai lantas pergi ke kamar mandi. Kaki wanita itu melangkah menuju shower, ia berdiri disana usai menyalakan air hangat untuk mengguyur tubuhnya. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri hingga menggosok-gosokkan tubuhnya yang telah di sentuh oleh Evran dengan geram.

Takdir... kenapa ia kembali mempermainkannya?

Kenapa Langit harus kecelakaan dan membuatnya merendahkan diri di depan Evran?

Satu jam Namima berada di sana hingga bibirnya membiru, ia meringkuk sambil terus mengutuk dirinya sendiri hingga seseorang masuk ke kamar mandi dan menatapnya prihatin.

Pria itu Evran, dia bergerak mendekat setelah meraih handuk, tangannya mematikan shower lantas berjongkok di hadapan Namima setelah menutupi tubuh telanjang wanita itu dengan bathrobe, Namima mendongak, ia menatap tatapan sendu yang Evran berikan padanya. Tidak ada seringaian itu lagi di wajah pria itu. Tanpa menunggu persetujuan darinya, Evran membantu memakaikan bathrobe nya lantas membopong Namima. Keheningan kembali tercipta, entah apa yang di pikirkan oleh Evran hingga memberikan perlakuan manis ini untuknya. Dari jarak sedekat ini, Namima bisa melihat rahang tegas Evran. Pria yang telah merendahkannya sekitar sejam yang lalu kini seperti bukan pria yang sebelumnya.

Namima tersadar saat Evran menurunkannya di ranjang dengan perlahan.

Sejenak pria itu menatapnya. "Ambil lah pakaianmu..  aku akan buatkan teh hangat untukmu!"

Namima tidak mampu berkata-kata untuk membalas ucapan Evran. Sungguh ia terpana dengan perubahan sikap pria itu terhadapnya. Bagaimana tidak? Dalam waktu sesingkat itu, setelah berhasil merendahkannya, Evran terlah berubah sikap. Namima menggigil ketakutan, memikirkan rencana yang ada di kepala pria itu untuknya.

Tidak sampai 10 menit, Namima telah berpakaian dan Evran sampai dengan segelas teh hangat untuknya yang pria itu berikan untuk Namima.

"Minumlah, ini bagus untuk tubuhmu..."
Namima menerima dengan gamang, tanpa banyak bertanya lebih atas perubahan sikap Evran, wanita itu perlahan meniup teh hangat di tangannya sebelum meminumnya secara perlahan. Keadaan masih hening bahkan ketika wanita itu menyesap tehnya dengan jantung berdebar. Sungguh, ia bahkan merasa aneh dengan sikap Evran. Terdengar pria itu mendesah keras sebelum berbalik pergi meninggalkan kamar usai meraih rokok di atas nakas. Kelegaan membanjiri hati Namima...

Aneh

***

Namima menggeliat atas tidurnya, ia membuka mata secara perlahan lantas ingatannya kembali pada kejadian semalam. Sejenak Namima kembali memejamkan matanya dengan ingatan yang berputar di kepala wanita itu.

Sial

Kenapa dia semalam bodoh sekali? Lagi, namima kembali mengutuk sikapnya.

Semalam setelah Evran pergi, pria itu tidak kembali lagi bahkan saat akhirnya matanya terlelap. Entah kemana pria itu.. mungkin Evran tidur di kamar lain.

Dering ponsel menginterupsi wanita itu, Namima meraba bagian nakas untuk menggapai ponselnya. Matanya mengerjap bingung saat nomer baru masuk di pagi hari seperti ini.

"Hallo.." sapa Namima tanpa ragu. Entah siapa yang pagi-pagi begini menghubunginya.

"Selamat pagi, Namima... ini aku Evelyn. Bisakah kamu datang ke rumah sakit? Langit sudah siuman..."

"Aku akan datang, Eve..."

"Terima kasih, aku tunggu ya,"

"Hmm.."

Sambungan terputus, sementara Namima gegas beranjak dari posisinya. Ia harus segera mandi dan berdandan untuk pergi ke rumah sakit. Kabar atas bangunnya Langit seakan menghapus kesedihan di wajah Namima. Anaknya telah kembali, dia baik-baik saja!

***

Namima sampai di loby rumah sakit sebelum ponselnya kembali berdering yang membuatnya menghentikan langkahnya.

Nomer angel yang tertera disana hingga wanita itu memilih mengangkat panggilan tersebut. "Iya hallo, ngel..."

"Selamat pagi, Bu... ibu dimana? Ada bu roseline disini,katanya ibu ada janji temu dengan beliau untuk membahas gaun pertunangan!"

"Oiya.. astaga.. aku hampir lupa, Ngel! Apa Roselin sudah menunggu lama.. sial aku berada di rumah sakit sekarang. Aku akan kembali segera!" Namima langsung memutus sambungannya, ia berbalik pergi menuju parkiran. Bukan tanpa alasan, Roselin—di kenal sebagai wanita yang tepat waktu, seharusnya ia tidak melupakan hal itu. Ia bisa menemui Langit nanti siang atau sore, paling tidak ia sudah mendengar kabar baik atas sadarnya bocah itu.

***

Namima di sibukan dengan pekerjaan hingga ia lupa dengan kunjungan ke rumah sakit. Tidak ada waktu untuk wanita itu pergi kesana. Bahkan untuk sekedar membalas pesan saja Namima hanya mampu membalas sekadarnya saja. Panggilan telepon terabaikan karena dia sengaja mensilent ponselnya agar tidak terganggu.

Roselin meminta agar gaun yang di pesan segera jadi. Dia menghandle pembuatannya secara langsung hingga tidak mempunyai waktu untuk bersantai. Sebenarnya ia ingin menyempatkan waktu untuk mengunjungi Langit tapi pekerjaan begitu menyita waktunya. Mungkin lain kali, dia akan datang berkunjung ke rumah Evelyn.

Namima meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku saat memasuki ruangannya. Ia mendesah keras ketika duduk di kursi. Meraih ponsel yang sejak tadi dibiarkan berada di atas meja, Namima mengecek beberapa pesan yang di kirim mamah dan papanya, juga panggilan tak terjawab dari Evran. Ada satu nama Evelyn yang terselip diantara panggilan tak terjawab lainnya. Ia hendak berniat untuk kembali menghubungi Evelyn sebelum akhirnya nomer Evran masuk menjadi pemanggil utama.

Sejenak Namima menatap malas panggilan tersebut sebelum mengangkatnya. Sejak malam ini, Namima sedikit menjaga jarak.

"Hallo,"

"Pulang jam berapa?"

"Sebentar lagi. Ada apa?"

"Aku jemput," kata Evran. Namima hendak membantah, namun kalimat terakhir Evran membuatnya bergeming. "Evelyn dan Sakti mengundang kita makan malam... sebaiknya kamu berdandan yang rapi. Sebentar lagi aku sampai, bersiaplah... anakmu menunggumu!"

Jantung Namima berdesir hangat meski panggilan terputus secara sepihak. Suara hangat pria itu ketika memintanya datang untuk bertemu putra mereka sedikit membuat Namima tersentuh. Apakah Evran sudah mampu menerima Langit sebagai putranya?

***

Gimana gimana?? Apakah Evran sudah luluh... bab nya lumanyan panjang. Ada 42 bab + ekstra part yaa
Pdfnya sudah ready, ebooknya ada di playstore...

Apakah Evran berubah pikiran??? Sudah menyayangi Langit??? Hmmmm 

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang