14

4K 594 71
                                        

**

Pdf ready yawwww dg harga 50k

Minat? Bisa order via wa di 089633021705

Versi ebook & kbm app tersedia

Namima menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. Evran lebih banyak diam seperti biasa. Dan mereka tidur satu ranjang meski tidak melakukan kegiatan suami dan istri. Hanya ada 1 kamar di apartement tersebut yang mengharuskan keduanya untuk berbagi ranjang. 

Tidak peduli bagaimana perasaan masing-masing. Hanya itu pilihan yang tersisa. 

"Aku mendapatkan undangan," beritahu Namima pada Evran. 

Pria itu mendongak sekilas lantas kembali fokus pada piringnya. Nampak tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. 

Merasa di abaikan oleh pria di hadapannya, Namima melanjutkan, "Evelyn, ibu asuh Langit mengundangku untuk datang ke acara Anniversary pernikahan mereka." 

Evran terdiam sejenak sambil mencerna setiap kalimat yang keluar dari bibir Namima. 

"Dia harap aku dan kakak ikut hadir ke acara bahagia mereka..." 

"Sebaiknya kamu saja yang datang..." putus Evran, terlihat enggan merespon lebih. 

"Kenapa?" Kali ini Namima menatap Evran. Kilat penasaran terpancar di matanya. Begitu enggan kah Evran bertemu dengan putranya?

Pria itu meraih gelas lantas menyesap air putih di dalamnya. 

"Aku sibuk akhir-akhir ini.. kamu bisa datang sendiri kan?" Bukankah Evran tidak perlu bertanya? Karena dia memang tidak berniat hadir dalam acara tersebut. Toh, buat apa? 

Namima mendengkus keras. "Apa kakak nggak tertarik menemui anak kita?" Kali ini Namima terdengar memprotes. Meski sebenarnya, ia merasa tidak pantas melakukan ini. Tapi lihatlah, sebagai orang tua, mereka tidak pernah memberikan apapun untuk Langit. Lantas, hanya sekedar menerima undangan saja, kenapa Evran tidak mau? 

"Bukankah dia sudah bahagia? Kudengar, keluarga angkatnya berasal dari kalangan orang yang berada, mereka pasti sangat menyayangi anakmu..."

"Benar. Evelyn begitu mencintai anakku sampai aku merasa malu." Tenggorokan Namima tercekat saat itu--merasa malu dan kecewa. "Aku malu karena tidak mampu memberikan kebahagiaan layaknya ibu kandung sementara ibu asuhnya lebih mencintai dia.. aku iri!"

Ketegasan dalam suara Namima tidak bisa menutupi kesedihan di mata wanita itu, membuat Evran menatapnya jengah. 

"Berhenti bersikap melankolis, Namima. Bersyukurlah karena Evelyn mencintai anakmu lebih dari yang kamu bayangkan..."

"Apa kakak tidak pernah merasa sedih?" 

Kenapa Namima bertanya saat ia tahu jawabannya? Tapi bukankah wanita seperti itu? Bertanya tentang apa yang ia ketahui lalu melukai hatinya sendiri? 

"Untuk apa?" 

Benar, untuk apa? 

Untuk apa ia bertanya pada Evran? 

"Atas segala sikap yang selama ini kakak berikan? Apa kakak tidak pernah sekali saja ingin memeluknya dan meminta maaf?" 

Evran berdecih keras. "Hanya membuang waktu saja!" Pria itu berdiri. "Berhenti membahas anak itu disini... aku tidak suka mendengarnya!"

Namima melongo, bukankah ini rumahnya? 

Kenapa Evran bersikap seolah-olah dia lah yang menumpang hidup di rumahnya sendiri? 

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang