27

3.2K 528 42
                                        

"Setelah pesta ulang tahun Langit, aku ingin kita makan malam," ucap Evran sebelum ia turun dari mobil pria itu.

Evran memintanya untuk tidak membawa mobil agar ia yang mengantar serta menjemput wanita itu. Siang ini sekitar jam 2 nanti—mereka akan ke kediaman Sakti dan Evelyn. Acaranya akan di mulai sekitar jam 3. Sementara mereka ingin sampai sebelum jam tersebut.

Tiba-tiba saja, Namima mengulum senyum. Sejak kedekatannya bersama Langit, Evran seperti sedikit melunak. Apa itu artinya, pria tersebut sedikit demi sedikit melepaskan simpul tali yang mengikat mereka dengan erat?

Entahlah.

Namima tidak banyak berharap lebih. Apalagi tentang hubungannya. Ia cukup mandiri untuk menghidupi dirinya sendiri, perihal Evran ia tidak begitu peduli. Saat ini, ia hanya memikirkan bagaimana caranya memberitahu Langit kalau dia adalah ibunya tanpa menyakiti hati putranya?!

Dia tidak mungkin bersembunyi dengan status mereka yang seperti ini. Evelyn dan Sakti pasti menaruh curiga jika ia terus-terusan berbuat baik tanpa alasan!

"Bu, klien kita datang..." Angel memberitahunya.

"Oh, iya.." Namima berdiri sambil membawa tab yang biasa ia gunakan. Kemudian keluar dari ruangannya.

Sambil mengulas senyum, ketukan di heels yang Namima pakai berhenti seketika saat melihat sosok yang tidak asing ia lihat. Bahkan senyum yang tadi sempat menghiasi wajah wanita itu tergantikan dengan ekspresi dingin alih-alih tersenyum pada customernya.

Jantung Namima juga memompa lebih keras, ingatan saat mereka bertemu di mall juga terngiang di kepalanya. Zoya menyeringai saat melihat senyum di wajah Namima menghilang.

"Butik yang bagus untuk wanita penghancur hubungan sepertimu, Namima," ejekan tersebut seakan menohok hati Namima.

Penghancur?

Diakah penghancur hubungan saat ia sendiri menjadi korban pelecehan kakaknya?

Namima memaksakan tersenyum, meski miris. "Tapi paling tidak, aku mendapatkannya! Selain itu, rumah yang kalian bangun juga menjadi milikku," balas Namima sengit yang semakin membuat Zoya geram.

"Angel," panggil Namima pada karyawannya. "Apa ibu Zoya ini adalah klien saya?"

"Atas nama ibu Mariana, Bu. Tapi berhubung ibu Mariana ada halangan, jadi ibu Zoya datang menggantikannya..."

Namima mengangguk mengerti.

"Untuk menemuimu secara langsung, aku nggak mungkin menggunakan namaku sendiri kan? Kamu pasti langsung menolak bertemu denganku..."

"Ya, kamu lebih tahu dari aku, Kak Zoya.. apa yang membuatmu datang ke butikku ini, hmm? Apa kamu tidak mendapatkan respon dari SUAMIKU?" Namima sengaja menekan kata suamiku agar Zoya merasa kesal. Dan benar saja, Zoya nampak marah begitu Namima menyebut Evran sebagai suaminya.

Kemudian lagi lagi Zoya menyeringai. "Pasti Evran belum bicara padamu kan?"

"Tentang apa? Kami membicarakan banyak hal... tentang anak kami, tentang masa depan..." ungkap Namima bohong.

"Oiya... Wah, nampak menyenangkan ya? Tapi sepertinya hal menyenangkan itu akan berubah, Namima.."

Namima menatap Zoya dengan kening berkerut. Berpikir tentang apa yang sebenarnya di pikirkan oleh Zoya saat ini...

"Begini, kuberitahu, ya... kalau sebenarnya aku dan kak Evran belum benar-benar bercerai!"

Seketika Namima mendelik.

"A-apa?"

"Aku memintanya kembali padaku?! Hubungan kita belum benar-benar berakhir. Evran masih suamiku.. dan aku bisa menggugatmu dengan pasal perselingkuhan, Namima.."

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang