28

3.2K 513 41
                                        

"Dia anakku, Ben... Dia anakku..." 

Dunia Evelyn seperti berhenti berputar. Ia menatap nanar kedua orang yang sedang berada di depannya yang kini menatap putranya yang sedang bermain. Kakinya bergerak mundur dengan mata berkaca-kaca. 

Apa yang di dengar dari mulut Namima pasti salah kan? 

Ini nggak mungkin kan? 

Orang yang selama ini dekat dengannya adalah ibu kandung Langit. Apakah Namima datang untuk mengambil Langit darinya? 

Kaki Evelyn bergerak mundur dengan tubuh gemetar oleh rasa takut. Kemudian berbalik dengan air mata yang menetes di pipi. Pemikiran tentang Namima yang hendak mengambil Langit darinya menghantui Evelyn. Wanita itu duduk di kursi yang ada di ruang makan. Pandangannya kosong begitu mengetahui fakta bahwa selama ini Namima ada di hidupnya untuk mengambil Langit?! Kenyataan itu benar-benar menggetarkan hidupnya. 

***

Ben masih tidak percaya, tapi senyum miris serta kesungguhan yang ada di mata Namima meyakinkannya. 

"Ba-bagaimana bisa?" Tenggorokan Ben tercekat oleh fakta yang di beberkan Namima. 

Memang nama Langit adalah Langit Abraham, tanpa Wijaya di belakangnya. Tapi, jika itu kebetulan, kenapa kebetulan yang sama? 

"Dia anakku, Langit..." jeda sejenak, Namima nampak menghela nafasnya sesak. "Aku percaya Evelyn bisa menjaga anakku dengan baik setelah melihat profil keluarganya, aku yakin kalau disini—anakku tidak kekurangan apapun, kasih sayang dan juga cinta. Lihat, bagaimana jika anak setampan dan secerdas dia tumbuh bersama ibu seperti aku, Ben?" 

Ben menggeleng ketika mendengar Namima meragukan dirinya sendiri. "Dia juga akan tumbuh dengan baik, Mima... tapi mungkin kamu benar, sepupuku jauh lebih bisa memberikannya banyak cinta." 

Namima mengangguk. "Ada banyak kata terima kasih untuk sepupumu, Ben.. maaf, karena aku baru memberitahumu. Aku hanya ingin, seseorang mengetahui siapa ibu kandung Langit tanpa harus memberitahu putraku. Aku malu... aku malu bisa hidup baik-baik saja padahal aku telah menelantarkan anakku!" 

Ben menyentuh bahu Namima sambil menggeleng. "Nggak, Namima. Itu nggak benar. Kamu terpaksa melakukannya, bukan karena kamu ingin, tapi keadaan yang membuatmu menyerahkan Langit. Aku akan bicara baik-baik dengan Evelyn, dia harus tahu siapa ibu kandung Langit, paling tidak kalian bisa menjalin hubungan baik kan?" 

"Eve pasti marah kalau tahu aku adalah ibunya, aku menyusup diam-diam sebagai teman, padahal aku adalah ibu dari anak yang dia cintai!" 

"Nggak, Eve nggak seperti itu. Dia wanita baik dan penyayang." 

Ada sedikit harapan di mata Namima. 

"Aku tahu, dia seperti itu..." jawab Namima. Dering ponselnya menginterupsi mereka. 

Nomer kantornya tertera disana. 

"Hallo... atur jadwal pertemuanku bersama klien, Ngel.. aku sebentar lagi ke kantor?!" 

"Ibu dimana?" 

"Ada apa?" 

"Pak Evran disini... dia sedang menunggu ibu." 

"Katakan saja kalau aku sudah pergi." 

"Baik, Bu..." 

***

"Bagaimana katanya?" Tanya Evran masih bersikap sabar. Bukankah mereka sudah berjanji untuk datang bersama? 

"Ibu sudah pergi, Pak. Sejak tadi," jawab Angel. 

"Iya, pergi kemana?" 

"Sepertinya ke tempat acara," jawab Angel lagi. Sungguh Namima tidak mengatakan ia pergi kemana. 

"Sial," umpat Evran kesal. "Kenapa dia pergi tanpa bilang-bilang?" Gerutu Evran sambil berjalan keluar butik menuju mobilnya. Sebelum membuka pintu, Evran sempat menempelkan ponselnya di telinga hendak menghubungi Namima. Namun, sayang sekali.. dia berakhir di abaikan! 

"Kenapa sih moodnya cepat berubah? Tadi pagi dia setuju-setuju saja pergi bersamaku?" Evran membuka pintu mobilnya, meski perasaan kesal mendominasi dirinya, ia sempat melirik kado di kursi sebelahnya. Seharusnya Namima senang bahwa ia menyiapkan kado tersebut sendirian untuk ulang tahun putra mereka. 

***

Evran memasuki rumah Evelyn seperti tamu lainnya, setelah memarkirkan mobil—pria itu keluar sambil menenteng kado untuk putranya. Ia sempat bingung, haruskah memberikan kadonya sendiri? Harusnya jika ada Namima, wanita itu yang akan memberikannya pada putranya. 

Evran berdecak, ia masih kesal karena di tinggalkan pergi oleh istrinya. Apalagi Namima sama sekali tidak mengangkat telepon darinya.

Ck, kemana sih wanita itu? Tapi kata Angel tadi, Namima sudah pergi ke rumah Sakti dan Evelyn lebih dulu. Dengan keyakinan penuh bahwa Namima berada di dalam, Evran melangkah masuk. Matanya mencari-cari keberadaan Namima, namun tidak menemukannya dimanapun. Hanya ada suara tawa serta sepatu anak-anak yang bermain. 

"Hai," Sakti menyapanya. 

Pria itu terpaksa mengulas senyum tipis. "Hai..." 

"Cari siapa?"

"Istriku," jawab Evran. "Apa kau melihatnya?" 

"Hmm, sepertinya Namima nggak datang kesini. Sejak tadi, aku nggak melihatnya. Biasanya dia akan berada di dekat istriku..." 

Evran semakin bingung. Lalu, untuk apa dia datang kesini? Harusnya Namima yang datang ke acara semacam ini, dia datang karena ingin membuat Namima senang. 

Tunggu, untuk apa ia membuat Namima senang? Bukankah dia membenci kebahagiaan yang ada di hidup wanita itu? 

Evran meninggalkan Sakti untuk memberikan kado yang ia bawa pada Langit. 

"Hai," sapa Evran pelan. Langit menoleh dengan senyum di bibirnya. 

"Hai, Om.. apa kabar?" Tanya bocah itu dengan ceria. 

"Baik..." sekilas Evran menatap Evelyn yang memegang bahu putranya. Wanita itu bersikap waspada, sedikit aneh pikirnya. "Apa Namima sempat datang kemari?" 

"Iya, dia pulang setelah mengobrol bersama sepupuku, Ben..."

Evran mengangguk meski sedikit terkejut dengan kenyataan yang ada. 

"Ini kado untukmu dari Om dan Tante..." Evran mengulurkan bingkisan yang di bawanya pada Langit. Bocah itu menerimanya dengan senang hati. 

"Makasih, ya Om... harusnya Om nggak usah kasih kado lagi, kan kemarin sudah."

"Nggak masalah. Tantemu suka memberikan kado," jawab Evran. Tatapan Evelyn yang sedang menguncinya membuat Evran merasa risih. Biasanya wanita itu akan tersenyum ramah, tapi melihatnya memicingkan mata padanya membuat Evran bertanya-tanya alasan apa yang membuatnya bersikap seperti itu. 

"Bisakah kita bicara?" Kali ini suara Evelyn menginterupsinya. 

"Dimana?" 

"Nanti aku atur tempatnya, ini penting..." 

"Atur saja waktunya, kamu bisa menghubungiku..." 

***

Nah lho

Evelyn tahu... tapi sepertinya berubah pikiran😟😟😟😟

Mau eve jahat sama Namima?

Jauh bangett dari kata bahagia sepertinyaaa cerita ini tuh.. 😅

Gimana gimanaaaa??

Pdf ready yaa... harga 50k saja, promo byr 100k dpet 12 judul yaaa di 089633021705
Ebook tersedia di playstore
Kbm app juga ada

Komennya yg greget dong...

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang