Waktu seakan berhenti saat tatapan antara Evran dan Namima terkunci. Di satu sisi, Namima merasa lega bahwa Evran memiliki kekasih, dan di satu sisi yang lain Namima merasa gelisah dengan kehadiran pria itu di butiknya.
"Yang itu bagus.. tapi saya punya gaun edisi terbaru. Mau mencobanya?"
"Boleh," sahut Ariana senang.
Evran melihat Namima memutar tubuhnya ke samping kemudian ia mengambil gaun edisi terbaru yang ia maksud. Setelah itu memberikannya pada Ariana.
"Kamu bisa mencobanya sekarang," pinta Namima yang di sambut baik oleh Ariana.
Tanpa menunggu lama, kekasih Evran memasuki kamar ganti, menyisakan dua orang itu disana dengan suasana canggung.
"Kamu mempunyai butik sebesar ini... pasti karena papa kan?"
"Siapa lagi? Dia meminta maaf atas perbuatan anaknya dengan cara memberiku banyak kemudahan... sedikit menguntungkan.." Namima menjawab dengan nada jengah. Sebisa mungkin dia menutupi perasaan gelisah yang mulai merayap masuk.
"Apa uang ini sebanding dengan harga dirimu?" Evran menyeringai ketika di lihatnya Namima menatapnya tajam. Jelas. Wanita itu terluka dengan kata-katanya.
"Hartamu tidak bisa membayar waktu dan harga diriku yang kamu nodai, Kak... Kamu tahu itu..."
Evran bahkan tidak menunjukan perasaan bersalah sama sekali. Pria itu bahkan memberikan senyum mengejek yang lagi-lagi melukai harga diri Namima.
"Nama butikmu unik..." komentar Evran.
Nama yang di pakai oleh Namima mengingatkan dia pada seseorang. Dan dia tahu betul alasan Namima menamai butiknya dengan nama tersebut.
"Iya.. itu adalah nama anakku..." Namima menyahut dengan bangga.
Evran mengatupkan bibirnya ketika beberapa detik kemudian suara Ariana menginterupsi mereka.
"Aku suka yang ini, Vran..." seru wanita itu senamg sambil memutar tubuhnya.
"Syukurlah kalau kamu suka..." sahut Namima mengulas senyum.
"Kamu hebat sekali. Gaun yang kamu ciptakan sangat indah, Namima..." pujian tulus itu datang dari hati Ariana. Tentu, Ariana tidak tahu bagaimana dulu—Namima dan Evran pernah terikat hubungan yang membuat keduanya menjadi canggung seperti sekarang.
"Terima kasih, Ariana... silahkan, kalian bisa urus pembayarannya bersama kasir."
Setelah bicara demikian, Namima berbalik pergi sambil menarik nafasnya sesak. Ia mencoba menormalkan detak jantungnya ketika menghadapai Evran.
Namima memasuki ruangannya, setelah sampai di meja kerjanya, Namima menghela nafasnya lega. Ia meletakkan tasnya di meja, kemudian menjadikan meja tersebut sebagai tumpuan tubuhnya. Sejak mengetahui Evran berada di luar, Namima berusaha menahan gemetar tubuhnya. Ia takut menghadapi pria itu.
Dia terlalu takut...
***
Malam ini, Namima tampil dengan cantik menggunakan gaun yang ia rancang sendiri. Make-up yang di poles di wajahnya membuat Ben tersenyum bangga.
"Kamu cantik sekali," bisik pria itu. Dan Namima cukup tersipu.
"Benarkah? Apa pakaianku cocok?"
"Ini bagus... cocok buat kamu..."
"Wah, mereka saling berbisik dan lihat binar di mata mereka..." Erlangga menginterupsi Namima dan Ben. Semua orang setuju dengan ucapan pria itu.
"Maaf, Om. Saya cuma sedang memuji kecantikan Namima..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Luka
RomantizmSimpul luka yang sempat terikat, semakin mengikat mereka dengan erat. Semakin menyakitkan, semakin melukai. Bagaimana jadinya saat engkau mati-matian melupakan seseorang yang telah menghancurkanmu, namun kini pria itu hadir dan memporak porandakan...
