32

3.5K 567 64
                                        

PDF... EBOOK.. KBM APLIKASI TERSEDIAAAA..

BISA DI ORDER VIA WA di 089633021705

Evran pulang ke rumah dengan langkah tergesa. Meski ia tahu bahwa Namima telah pulang ke rumah ini, pria itu tetap ingin memastikan bahwa Namima berada di kamar mereka. Begitu pintu terbuka dengan nada yang keras, Namima terlihat menghela nafasnya berat. Wanita yang kini sedang mengenakan masker wajah dengan posisi rebahan di ranjang tersebut berdecak.

"Tidak perlu membanting pintu," tegur wanita itu tanpa membuka matanya.

Dengkusan keras terdengar dari Evran yang menatap Namima dengan pandangan yang sulit di percaya. Lihat, sepanjang perjalanan ia merasa gelisah karena memikirkan bagaimana jika Namima telah pergi meninggalkan rumah tapi orang yang ia cemaskan sedang bersantai sambil merawat wajahnya!

"Jangan pernah berpikir untuk menghubungi pengacara sialanmu itu, Namima! Aku nggak akan membiarkan kamu mengambil keputusan seenaknya!"

"Itu juga yang kakak katakan pada Kak Zoya 7 tahun yang lalu kan? Tapi kakak kalah oleh keadaan!" Cibir Namima, sama sekali tidak tertarik untuk membuka matanya dan melihat bagaimana reaksi Evran yang menatapnya geram sekarang.

"Kali ini tentu berbeda..."

"Seharusnya kakak senang, orang yang selama ini kakak cintai meminta kakak untuk kembali ke hidupmu, benar? Aku tidak akan mempersulit segalanya, tenang saja..."

"Berhenti bicara omong kosong, Namima. Zoya sudah resmi kuceraikan 7 tahun yang lalu. Perihal data yang belum selesai, bisa aku selesaikan secepatnya..."

Kali ini Namima membuka matanya, dengan santai melepas masker yang sejak tadi menempel di wajah. Sambil menepuk-nepuk wajahnya wanita itu berkata, "kenapa kakak repot-repot melakukannya? Bukankah akan lebih baik kalau kita berpisah? Aku akan dengan senang hati melepas kakak!" Namima berdiri untuk membuang maskernya di tong sampah, tanpa di sadari oleh wanita itu— Evran sudah bergerak mendekat untuk meraih pinggang Namima lalu merapatkan tubuh mereka! Namima tersentak, tubuhnya berontak namun tenaga pria itu lebih besar darinya—memaksa Namima untuk memilih diam sambil balas menatap nyalang pria itu.

"Itu hanya akan ada di dalam mimpimu, Namima. Aku sudah mengikatmu, tidak akan ada yang bisa melepas ikatan kita, kecuali aku yang melepasnya!"

"Kamu terdengar seperti suami posesif yang sangat mencintai istrinya," sahut Namima sinis. "Tapi cinta yang kamu tunjukan pada semua orang ternyata palsu!"

Evran menyeringai dengan tangan kanan yang menyentuh wajah Namima, membelainya lembut menggunakan ibu jarinya. "Apa kamu ingin di cintai seperti itu, sayang!"

Namima balas menyeringai. "Aku tidak pernah memimpikan itu setelah kamu merenggut apa yang menjadi milikku!"

Evran tercekat dengan mata yang memicing. "Apa maksudmu?"

"Aku tahu siapa dalang yang membuat Langit berada di tangan Evelyn dan Sakti!"

Tangan Evran yang barusan mendekap Namima terlepas begitu saja. Namima mundur dengan tatapan terluka yang sama tiap kali mereka membahas Langit.

"Aku tahu, kakak membenciku.. aku tahu kehadiran Langit bukan inginmu. Tapi seharusnya kakak tahu, Kak Zoya kehilangan anaknya bukan karena aku! Tidak seharusnya kakak merencanakan semuanya untuk memisahkan aku dan Langit!" Air mata yang menggenang di pelupuk Namima jatuh membasahi pipi wanita itu.

"Bukan mama yang membuat Langit berada disana, tapi kakak. Papa kandung Langit yang membuatnya  bersama orang lain! Tidak ada manusia yang lebih menjijikan dari pada kakak di dunia ini, yang tega memisahkan anak dan ibunya dengan paksa!" Tudingan itu menohok hati Evran.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang