Bismillah...
Pdf TERIKAT LUKA dah ready ya guyssssss... baru ada versi pdf, ebook belum tersedia..
Sudah bisa di pesan via wa me 089633021705 dg harga 50k 😁
Open promo bayar 100k dpt 12 judul, bebas pilih judul dg KUOTA TERBATAS
Yuk yang mau chat saja yaaa... no tipu2 no php yach..
****
"Kami mempunyai anak setelah Langit hadir di tengah-tengah kami..." Sakti memulai ceritanya. "Sejak Langit ada di hidup kami berdua, usahaku juga berkembang sangat pesat. Aku merasa bahwa Langit membawa rezeki yang berlimpah di hidup keluargaku..."
Mendengar penuturan Sakti, Evran tersenyum kecil. Entah apa yang pria itu rasakan saat ini ketika orang tua asuh putranya sedang memuji terang-terangan di hadapan pria yang telah mengabaikan anak itu.
"Syukurlah," ujar Evran. "Aku senang mendengarnya..."
"Oiya, apa orang tuanya masih hidup? Bagaimana kabar ibunya?"
Evran sedikit tercengang dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Sakti, namun pria itu berhasil menguasai diri. "Kenapa?" Tanya Evran masih terlihat santai.
Sakti menggeleng. "Ada beberapa ketakutan dimana kami takut kalau ibu Langit tiba-tiba saja muncul untuk mengambil Langit dari kami," Sakti tersenyum kecil. "Kami menyayangi Langit seperti anak kandung sendiri. Jadi ketakutan itu wajar kan?"
"Tenang saja, ibunya tidak akan mengambil Langit dari kalian," ucap Evran menenangkan.
"Apa kamu mengenal baik ibu Langit?" Tanya Sakti lagi. "Sepertinya kalian begitu dekat..."
Evran gegas menggeleng. "Nggak... aku nggak mengenalnya! Kami hanya bertemu sekali saja saat ia memintaku untuk mencarikan orang tua asuh, selebihnya kami tidak lagi bertemu..."
Sakti mengangguk-anggukan kepalanya, sedikit tenang mendengar jawaban Evran. Setidaknya ketakutan itu hanya mimpinya saja. Hanya saja, Sakti tidak tahu bahwa Evran telah berbohong.
***
Namima tidak berhenti mengulas senyum sepanjang jalan. Bagaimana tidak, bisa melihat Langit secara nyata adalah mimpinya. Apalagi dekat dengan anak itu. Sejak dulu ia hanya bisa melihat perkembangan Langit dari sosial media saja. Tapi sekarang Namima bisa melihatnya secara langsung. Bahkan Evelyn sudah menganggapnya sebagai keluarga.
"Gigimu bisa kering kalau senyum-senyum terus begitu!" Sentak Evran membuatnya menoleh sambil mencebik.
"Kakak tahu kan, aku bahagia sekali.. bisa dekat dengan anakku!"
"Kehilangan Ben nggak berarti apa-apa kan?"
"Kenapa harus bahas Ben?"
"Bukankah kamu mendekatinya karena Langit adalah keponakan Ben! Bagaimana kalau dia tahu, kalau anakmu adalah Langit? Bukankah dia akan sangat kecewa kalau mengetahui kamu mendekatinya supaya bisa lebih dekat dengan anakmu!"
Mata Namima menyorot tajam. "Meski benar begitu. Aku tidak merasa bersalah. Sebagai seorang ibu, paling tidak aku berjuang supaya dekat dengannya. Tidak seperti seseorang yang kukenal, dia kehilangan calon bayinya lantas ingin menyingkirkan anaknya yang lain. Apa yang lebih gila dari itu!"
Rahang Evran mengetat saat itu juga. Geram dan merasa marah pada ucapan Namima. Saat itu juga, mobil berhenti.
"Turun," perintah Evran.
Namima tidak memprotes, ia membuka pintu mobil. Dan bersyukur Evran menurunkannya disana.
***
Namima baru saja sampai ke apartementnya ketika ponsel wanita itu berdering dengan nyaring. Setelah melepas sepatu hak tinggi, wanita itu meraih benda tersebut di tasnya. Begitu melihat nama Evran tertera pada panggilan telepon, Namima mencebik kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Luka
RomansaSimpul luka yang sempat terikat, semakin mengikat mereka dengan erat. Semakin menyakitkan, semakin melukai. Bagaimana jadinya saat engkau mati-matian melupakan seseorang yang telah menghancurkanmu, namun kini pria itu hadir dan memporak porandakan...
