35

4.6K 655 97
                                        

Karena banyak yg nanyain promo... silahkan, yg tertarik ikutan promo 100k dpet 12 judul (sudah termasuk TERIKAT LUKA di dalamnya ya) bisa chat aku aja ya via wa 089633021705 untuk harga satuan TERIKAT Luka 50k saja 😁

Isi cerita sampai tamat.. sama kaya versi ebook.

Payment melalui Tf bank atau shopeepay, bebas... kalian bisa pilih sndiri 😁

WARNING!

Siapin tissue yaa 😁😁

HAPPY READING

***
Namima sudah meminum paracetamol untuk menghilangkan nyeri di kepalanya. Ia tetap bekerja seperti biasa setelah nyerinya sedikit berkurang. Waktu seakan bergerak lambat, mungkin karena ia sedikit pusing, mual juga mendominasi kondisi tubuhnya saat ini. Sesekali Namima berhenti untuk menyeka keringat dingin yang keluar di dahinya.

"Bu, istirahat saja. Saya bisa cancel pertemuan dengan customer!" Angel membawa air hangat untuk Namima sesuai intruksi wanita itu.

"Boleh, deh. Saya kayaknya nggak bisa lanjutin kerja, Ngel. Kalau ada yang cari, bilang saja saya pergi, ya?"

"Baik, bu. Istirahat saja..." Angel pamit undur diri, begitu pintu tertutup, Namima menyandarkan punggungnya pada sofa. Kepalanya nyeri, perutnya mual. Ia sepertinya masuk angin karena beberapa hari terakhir Namima begadang. Dan pagi tadi juga Namima hanya menyantap sarapannya sedikit sebelum Zoya datang.

Di tambah lagi, pagi tadi kepalanya di jambak dan efek tarikan di rambutnya membuat Namima sakit kepala.

Sial, kenapa Zoya sekarang tidak setenang dulu? Bahkan saat memutuskan untuk menggugat cerai Evran, wanita itu bersikap sangat tenang sekali. Sekarang Zoya berubah menjadi perempuan yang meledak-ledak.

Namima membuka matanya ketika ponselnya bergetar. Ia meraih benda tersebut, sedikit menaikan alisnya karena nama Ben yang tertera sebagai id call nya.

"Iya, Ben.." sapa Namima, wanita itu kembali menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa.

"Ke rumah Evelyn? Kenapa mengajakku?"

"Supaya kamu punya alasan untuk pergi kesana," jawaban Ben membuat Namima duduk tegak. Benar juga, kemarin saat Namima datang kesana, Evelyn mengabaikannya. Barangkali, kalau dia datang bersama Ben—Evelyn tidak punya alasan untuk mengabaikan kedatangannya. Atau paling tidak, Eve tidak bisa mengabaikan sepupunya kan?

Begitu panggilan terputus, Namima bergerak gesit membenarkan dandanannya. Ia memoles lipstik agar wajah pucatnya sedikit tersamarkan. Hari ini, ia tak terlalu banyak menggunakan makeup, pagi tadi bedak saja cukup dengan warna lipstik yang tidak begitu terang. Bahkan biasanya Namima akan menggunakan alis untuk sedikit mempertegas wajahnya, tapi pagi tadi adalah pengecualian.

Dirasa dandanannya cukup, Namima keluar dari ruangannya, membuat Angel yang berjaga di kasir sedikit tercengang melihat bossnya.

"Bu, mau kemana?" Angel menghentikan Namima dengan pertanyaannya.

"Saya pergi dulu sebentar, ya.. kalau saya nggak kembali, berarti saya pulang."

"Tapi kondisi badan ibu masih nggak sehat. Ibu yakin mau nyetir sendiri?"

"Oh, badan saya udah agak mendingan kok. Mobil saya tinggal disini biar nanti supir yang ambil. Saya di jemput temen... pergi dulu ya, ngel!" Pamit wanita itu sambil melenggang pergi. Tidak lupa, Namima mengulas senyum di bibirnya padahal pagi tadi, Namima datang dengan wajah masam. Angel bahkan bingung melihat perubahan pada perasaan Namima.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang