34

3.3K 531 65
                                        

Double Up yaa.. spesial 😁 komen yg buanyaaaakkk

Happy reading...

***
Kali ini, Evran menatap Namima sendu. Pria itu terlihat menghela nafasnya berat. Meski pulang dalam keadaan mabuk, Evran tidak sedang bergairah meski pria itu mendatangi kamar Namima.

Mereka telah pisah ranjang saat Namima memutuskan untuk menggugat cerai Evran. Hari ini, Namima mengiriminya pesan bahwa untuk malam ini, dia akan menginap karena terlalu lelah. Pikirannya berkelana ketika berkendara hingga tanpa sadar ia telah sampai di rumah besar Evran.

Evran masih ingat betul, malam dimana ia kembali menyentuh Namima dalam keadaan sadar. Saat Namima pasrah menyerahkan tubuhnya untuk di sentuh. Malam itu, ia mengamati setiap inci tubuh Namima. Tatapannya jatuh pada bagian perut wanita itu, tepatnya sebuah sayatan bekas operasi 7 tahun yang lalu—saat wanita itu melahirkan secara caesar.

Saat itu, Evran tersentak. Luka dari pisau operasi yang ia lihat menyadarkannya— bahwa disini—bukan hanya dirinya saja yang terluka. Setiap kali, Namima pasti kembali mengingat dimana ia pernah melahirkan lewat luka tersebut. Melahirkan bayi yang sama sekali tidak pernah mereka harapkan hadir di kehidupan mereka berdua.

Evran mungkin bisa mengabaikan keberadaannya. Tapi, sebagai seorang ibu, Namima tentu tidak bisa melupakannya begitu saja. Bayangan akan perutnya yang membesar, luka yang membekas di perutnya takkan pernah hilang. Meski, Namima bisa saja menghapus jejaknya, tapi alih-alih melakukannya—Namima membiarkan luka itu membekas disana sebagai pengingat bahwa ia pernah mempunyai anak yang di pisahkan darinya secara paksa.

Evran tahu, sejak saat itu ia sadar. Bahwa dirinya terlalu kejam. Bukan hanya dia saja yang terluka, tapi ia banyak melukai orang yang sama—yang tidak seharusnya menanggung lukanya.

Pria itu bersimpuh di lantai dengan air mata yang meleleh. Simpul yang ia ikat pada Namima terlalu kuat, meski begitu—wanita yang menjadi sasaran kebenciannya ini justru berdiri tegak terlihat tak merasa sesak sama sekali.

Dia kalah

Evran tahu... saat melihat Namima nampak tegar meski harus mengorbankan hatinya demi sang buah hati.

Evran telah kalah... kebenciannya di kalahkan oleh kasih sayang seorang ibu pada putranya. Perlahan, Evran melepas simpul yang mengikat mereka, sesak di dadanya berkurang. Ia tidak hanya melihat kekurangan dalam diri Namima, tapi kelebihan wanita itu.

Perlahan.. kebencian yang tadinya hitam pekat dalam hatinya sedikit memudar. Evran tahu, ia harus menghapus kebencian pada wanita yang tak seharusnya mendapatkan perlakuan buruk darinya.

Hari ini Sakti menampar lewat kata-katanya. Dimana mereka, sebagai orang tua Langit— tidak pantas untuk mengakui bahwa diri mereka adalah orang tua.

"Kau tidak pantas di sebut sebagai ayah, Vran!" Kata-kata Sakti terngiang-ngiang dalam benaknya. "Sebagaimanapun kau berusaha, kau tidak pantas menyebut dirimu seorang ayah di depanku!"

Sakti benar. Ayah mana yang tega membiarkan anaknya di rawat oleh orang lain, meski orang tersebut menginginkan seorang bayi dan merawat anaknya dengan layak?! Dia bukan manusia!

Bahkan binatang sekalipun, pasti merawat anaknya sendiri, bahkan tidak mengizinkan binatang lain untuk merawat anaknya selama nyawa mereka masih ada. Sementara dia? Hidup nyaman setelah berhasil merenggut paksa anaknya dari sang ibu, hingga membuat ibunya menderita.

Hatinya sekeras batu kala itu, tertutupi kabut kebencian yang membelenggu. Sekarang, Evran sedang berusaha keluar dari kebencian yang mengikatnya. Perlahan... jika ia mampu keluar dari sana, ia harap masih memiliki kesempatan dari Namima. Meski itu sedikit terlambat, ia terus mencobanya.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang