12

4.2K 598 55
                                        

Pdf Terikat Luka ready ya... ebook dan KBM tersedia...

Harga 50k saja..

Promo pdf 100k dpet 12 pdf masih ready... isi sama kaya ebook, lengkap! Bebas pilih judul yaa... list judul d kirim via wa

Minat?

Bisa di order via wa di 089633021705

***

Gisela langsung bersimpuh di hadapan Namima dan meminta maaf, membuat Namima mau tak mau mendudukan dirinya di hadapan Gisela.

"Apa yang terjadi? Hei..."

Gisela terpaksa mengangkat wajahnya dan rasa bersalah kembali menggelayuti perasaan gadis itu. "Maafin aku, Kak... maafin aku..." kembali terdengar tangisan gadis itu lagi.

"Iya, Sela. Tapi apa yang terjadi?"

Namima tidak bodoh. Dia tahu semuanya dari Evran. Tapi dia hanya ingin mendengar langsung dari mulut orang yang bersangkutan. Benarkah?

Apakah yang di katakan Evran benar? Tapi mendapati keberadaan Gisela di rumah ini seakan meyakinkan Namima bahwa pria itu tidak berbohong.

"Aku hamil, Kak..."

Mata Namima mendelik sementara tenggorokannya tercekat. Bagaimana bisa?

Hamil?

"A-apa?" Namima berhasil menemukan suaranya meski lirih.

"Aku hamil anak Kak Ben, Kak... aku hamil..."

"Bagaimana bisa?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari bibirnya.

Bagaimana bisa? Apakah Gisela harus menjelaskannya secara rinci padanya padahal satu kalimat saja berhasil melukai hati Namima.

Gisela menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tidak sanggup menjelaskan apa yang telah terjadi sebelumnya.

Namima hendak kembali bertanya saat seseorang menginterupsi keduanya.

"Namima, apa yang kamu lakukan disini?" Suara Ben membuat Namima mendongak, begitupun dengan Gisela. Kedua perempuan itu menatap Ben secara bersamaan.

Dunia seakan berhenti berputar disana. Lelaki yang saat ini berdiri tak jauh dari mereka adalah penyebab hidup kedua wanita itu berantakan. Bagaimana dunia seakan mempermainkan hidup mereka?

Ketika tatapan mereka beradu, Ben bisa melihat kekecewaan di mata wanita itu. Ya, Namima pasti tahu satu alasan yang membuatnya menjadi pengecut.

"Apa benar, Ben?" Wanita itu berdiri sambil menuntun Gisela agar ikut bangkit dari posisinya. Meski hatinya remuk redam, Namima masih merangkul Gisela yang menunduk, tidak berani menatap pria itu.

Ben mengusap wajahnya gusar.

"Maaf..." hanya kata itu yang keluar dari bibir Ben. Dan satu kata tersebut berhasil membubuhkan luka di atas luka yang ada.

Namima tersenyum getir. "Kita impas bukan?" 

Ben menatap Namima dengan sorot kecewa. Bukankah mereka satu sama?

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang