Hallo, info pdfnya dah ready ya... harga 50k order bisa via wa di 0896-3302-1705 / 0889-7368-9642
***
Evran menghentikan langkah kakinya saat melihat Langit memeluk Evelyn, sementara seorang pria di samping wanita itu sedang menggendong anak perempuannya. Melihat dari kejauhan seperti ini saja tiba-tiba jantung Evran berdetak tidak karuan. Padahal seharusnya Langit sama sekali tidak membuatnya terpengaruh!
Benar, seharusnya kehadiran bocah itu tidak membuatnya gugup! Kenapa juga ia tidak mengenali putranya sendiri hanya karena gaya rambutnya berbeda dengan yang ada di foto?
Evran mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, dan tidak menemukan Namima. Kemana wanita itu?
Dering ponselnya mengalihkan fokus pria itu. Sejenak ia melihat siapakah yang menghubunginya di tengah keramaian pesta! Nama Ariana muncul sebagai id call dan pria itu langsung berbalik pergi mencari tempat yang sepi.
Sementara di sisi lain, Namima sedang menghirup udara segar sendirian di tempat yang jauh dari keramaian pesta. Acara sambutannya sekitar 10 menit lagi. Evran juga entah menghilang kemana, ia sampai lelah mencari pria itu hingga memutuskan untuk duduk sendirian di teras belakang.
Namima terdengar mendesah keras, hari ini ia merasa lelah dengan pekerjaannya dan harus datang kesini hanya demi ingin melihat Langit lebih lama. Bagaimanapun juga, ia akan mengambil kesempatan sebanyak apapun agar bisa melihat putranya. Kerinduan yang selama ini terpendam akhirnya terbalaskan hanya dengan melihatnya saja.
"Kamu melamun," sapaan seseorang membuat Namima terperanjat. Ia sedikit bergeser ketika pria itu duduk di sampingnya.
"Ada apa, Ben?" Tanya Namima lirih, aneh melihat pria itu duduk di sisinya setelah apa yang telah pria itu lakukan. Bahkan, beberapa saat yang lalu, Ben mengabaikannya.
"Apa yang kamu lakukan disini?"
"Apa maksudmu?"
"Datang ke acara sepupuku?!"
"Evelyn mengundangku! Apa kamu pikir aku datang tanpa di undang?" Sungut wanita itu, bukan tanpa alasan ia merasa kesal bukan?!
Ben mengangguk-anggukan kepalanya, sekilas Namima melihat seulas senyum di bibir pria itu. Entahlah, rasanya sudah lama sekali ia tidak mengobrol bersama Namima! Atau rasa marahnya terkalahkan oleh kerinduannya hingga ia dengan nekad mendekati wanita bersuami. Yang Ben tahu, ia masih merasa kecewa dengan apa yang terjadi, apalagi dengan masa lalu wanita itu.
"Mungkin ini agak terlambat.. bolehkan aku bertanya?"
Dengan gerakan pelan Namima menoleh. "Apa?" Jawab wanita itu.
"Kenapa kamu tidak menceritakannya sejak awal?" Ben sempat berhenti untuk melihat reaksi Namima, benar saja... wanita itu tertegun dengan pertanyaannya. "Anak itu... kenapa aku tidak melihatnya dimanapun?"
Namima memutus kontak mata di antara mereka, ia merasakan udara di sekitarnya sesak hingga ia telihat menarik nafasnya dalam.
"Aku cuma nggak mau mengingatnya, karena itu terlalu menyakitkan..." jawab Namima lirih tanpa menoleh menatap Ben. Di tempatnya duduk, Ben terlihat memperhatikan wanita itu.
"Tapi bukankah aku pasanganmu kala itu? Seharusnya kamu bisa mempercayai aku kalau aku bisa menyembuhkan lukamu!"
Nemima menoleh untuk menatap pria itu. "Tapi yang kamu lakukan adalah membuangku seperti sampah! Sama seperti apa yang di lakukan Evran padaku!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Luka
Storie d'amoreSimpul luka yang sempat terikat, semakin mengikat mereka dengan erat. Semakin menyakitkan, semakin melukai. Bagaimana jadinya saat engkau mati-matian melupakan seseorang yang telah menghancurkanmu, namun kini pria itu hadir dan memporak porandakan...
