18

3.9K 565 72
                                        

Hallo, info pdfnya dah ready ya... harga 50k

"Serahkan tubuhmu padaku, puaskan aku.... dan layani aku di ranjang saat aku menginginkamu!"

Mendengar kalimat itu, Namima terduduk lemas di lantai dengan tatapan kosong. Ia melihat Evran menyeringai kejam. Ingatan delapan tahun lalu berputar seperti kaset rusak saat Evran menjamah tubuhnya dengan paksa. Tiba-tiba saja bibirnya bergetar namun demi menutupi ketakutannya, Namima menggigit bibir bawahnya.

"Bagaimana? Kalau kamu setuju, aku akan memberikan darahku untuk Langit!"

Sekali lagi, Namima menatap Evran sambil menelan ludahnya kelu. Ia dilema, di satu sisi dia trauma dengan masa lalunya, di sisi lain, Namima harus menyelamatkan putranya.
Tapi apa yang lebih penting dari dirinya sendiri? Detik ini, putranya sedang berjuang di dalam sana, sementara ia harus melawan rasa takutnya.

"Cepat, Namima..." desak Evran. "Waktumu nggak banyak!"

Namima mendongak untuk menatap pria itu dengan sendu, hatinya berkecamuk tentang tawaran pria di depannya. Tapi apa hatinya lebih penting dari nyawa putranya? Dengan pertimbangan berat, Namima menganggukan kepalanya. Sementara Evran menyeringai sambil berjongkok untuk menyentuh pipi Namima, mengusapnya lembut. "Bagus, Sayang. Kamu mengambil keputusan yang tepat," ucap pria itu dengan seringaian khas Evran.

Namima menunduk sedih, ia menangis setelah Evran berdiri kemudian berderap pergi.

Pria itu berjalan dengan enteng, tapi seringaian yang barusan menghiasi wajahnya berganti dengan ekspresi dingin. Ingatan pria itu kembali pada saat di pesta Evelyn, dimana Evran melihat Ben dan Namima berpelukan!

***

Namima berjalan gontai ke arah sepasang suami dan istri. Setelah berhasil menenangkan pikirannya serta menguasai hatinya yang berkecamuk, Namima kembali menemui Evelyn.

Kaki wanita itu sempat terhenti ketika melihat Sakti terus berada di samping Evelyn untuk menguatkan wanita itu. Lihatlah... mereka berdua, dua orang tersebut tidak mempunyai ikatan darah dengan Langit, tapi mereka begitu mencintai putranya. Mereka bahkan rela berkorban demi putranya tetap hidup. Lalu, apa yang ia lakukan? Pengorbanan atas permintaan Evran bukankah tidak sebanding dengan kasih sayang mereka? Kenyataan itu saat ini seakan menohok hati Namima!

Derap langkah mendekat berhasil menginterupsi pasangan tersebut. Evelyn langsung melepaskan pelukan suaminya begitu tahu Namima tengah bergerak mendekati mereka.

"Terima kasih, Namima.. kalau bukan karena suamimu, aku tidak tahu bagaimana dengan nasib putraku!" Evelyn memeluk Namima ketika wanita itu sampai.

Sekilas Namima bersitatap dengan Sakti yang menatapnya. Kemudian Namima balas mengusap punggung Evelyn.

"Sama-sama, Eve..."

Pelukan keduanya mengendur. "Aku tidak tahu bagaimana Langit tanpa donor darah dari suamimu, aku sangat berhutang budi, Namima..."

Itu sudah menjadi kewajiban Evran untuk menyelamatkan putranya, Eve! Batin Namima.

"Tidak, Eve.. jangan seperti itu. Kita teman, sudah seharusnya aku membantumu saat sulit seperti ini, kan?"

Evelyn mengangguk. "Benar, kita teman. Sekali lagi, terima kasih Namima..."

***

Sakti menatap Evran dengan banyak pertanyaan di kepala pria itu. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Evran. Tapi, keadaan sama sekali tidak mendukungnya. Evelyn nampak kalut begitu mengetahui kalau putranya jatuh dari tangga dengan darah dimana-mana, istrinya begitu mencintai Langit dan ketakutan akan kehilangan putranya sangat besar.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang