Evran baru saja sampai di depan butik saat dilihatnya Evelyn dan Sakti beserta kedua anaknya keluar darisana.
"Itu suami kamu," beritahu Evelyn. "Datanglah besok bersama suamimu, ya.. aku sangat terkesan bila kalian bisa hadir di acara ulang tahun Langit..."
Namima sempat melirik Evran sekilas. "Terima kasih atas undangannya... kami usahakan hadir dalam acara tersebut."
Evelyn tersenyum. Usai kepergian keluarga tersebut. Namima memasang wajah dingin pada pria itu.
"Ada apa?"
Evran balas menatap dingin. "Kupikir kamu belum tahu..."
"Tentang?"
"Acara ulang tahun Langit..."
"Aku ibunya, Kak. Aku mengingat tanggal lahir putraku sendiri!"
Evran mengangguk-anggukan kepalanya.
"Mau apa kakak kesini?"
"Mau memintamu ikut pulang bersamaku, apa salah?"
"Aku nggak mau.. aku lebih nyaman tinggal di apartementku sendiri. Rumah itu bukan untukku kan? Jadi, aku sama sekali nggak nyaman tinggal disana..."
"Untukmu atau bukan, kamu adalah istriku, Namima... ada baiknya kamu tinggal disana!"
Namima mendesah keras. Ia hendak masuk kembali ke butik, berniat mengabaikan Evran namun tangan pria itu mencekalnya.
"Aku akan temani kamu cari kado ulang tahun untuk Langit, gimana?"
Sorot mata Namima menatap intens pada Evran, mencari kesungguhan atas ucapan pria itu. Tapi, semakin lama menatap,Namima tidak menemukan keraguan. Pria itu benar-benar menawarkan dirinya untuk bergabung mencari kado untuk putranya.
"Baiklah. Aku akan pulang ke rumah kakak.. tapi dengan syarat," ucap Namima.
"Apa itu?"
"Bersikaplah baik pada anakku! Bagaimanapun juga, hanya dia anakmu!"
Evran melepaskan cekalan tangannya. "Akan aku usahakan..." jawab Evran datar.
Wanita itu menyeringai. "Aku masuk dulu, mau ambil tas dan ponselku.. Kakak bisa pulang lebih dulu, aku akan pulang sendiri..."
***
Seperti janji pria itu yang akan mengantarnya mencari kado untuk Langit, Evran benar-benar menemaninya pergi ke Mall untuk membeli apa yang Namima butuhkan. Mereka bahkan bertukar pendapat soal kado yang akan di berikan oleh Namima.
"Sakti pasti pernah membelikannya, jangan yang itu..."
Namima membrengut sebal. "Terus kita mau kasih apa?"
"Iya dia sukanya apa?"
"Robot, aku tahu karena Langit menyukai robot koleksi Ben. Kenapa kita nggak membeli itu saja..."
"Kamu yakin?"
"Iya," ucap Namima. "Tapi disini sepertinya nggak ada. Nanti aku akan coba hubungi Ben.."
"Nggak perlu," sambar Evran cepat. "Aku juga punya kenalan orang yang menjual hal-hal semacam itu," ucap pria itu datar. "Sebentar aku telepon..."
Namima mengangguk bahkan membiarkan Evran sedikit menjauh. Tahu begitu mereka nggak perlu pergi jauh-jauh kan? Toh, mereka hanya perlu menelpon, janjian lalu pembayaran... tapi baru sebentar Evran bergerak menjauh, bahkan ketika Namima sedang fokus pada ponselnya sebuah tangan merebut paksa dari tangan Namima. Wanita itu jelas terkejut bahkan ketika matanya bersiborok dengan seorang perempuan yang telah lama ia kenal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Luka
RomanceSimpul luka yang sempat terikat, semakin mengikat mereka dengan erat. Semakin menyakitkan, semakin melukai. Bagaimana jadinya saat engkau mati-matian melupakan seseorang yang telah menghancurkanmu, namun kini pria itu hadir dan memporak porandakan...
