VERSI PDF, EBOOK & KBM APLIKASI TERSEDIA YA..
PDF BISA DI ORDER VIA WA 089633021705
Bagi mereka yang saling mencintai, obat bagi orang-orang yang terluka adalah cinta itu sendiri. Tapi dalam hubungan Namima dan Evran, keduanya tidak mempunyai penawar atas luka yang mereka derita. Cinta, mereka tidak memiliki itu dalam hubungan pernikahan keduanya.
Penerimaan atas luka yang ada adalah bentuk dari kata maaf yang di terima Namima. Ia telah ikhlas menjalani takdirnya. Tidak peduli sebagaimana sakitnya luka itu, jika hal ini adalah rasa sakit yang harus ia tebus atas perbuatan mamanya, Namima akan menerimanya. Tapi, sudah cukup... sampai disini saja. Zoya telah hadir untuk menyadarkannya, bahwa ia tidak seharusnya bersanding dengan Evran.
Keputusan yang telah ia ambil sudah terpikirkan sebelumnya. Bahkan sejak saat Evran kembali merendahkannya. Jika benar, ia mencintai pria itu sedalam benci yang tertanam di hati, ia pasti tidak kecewa bahkan terluka kembali. Tapi, cintanya yang dulu telah tergerus waktu. Bagaimana tidak, semakin banyak luka, semakin banyak pula kebenciannya?!
Meski gontai, Namima tetap pulang ke rumah besar itu. Rumah yang terlihat memberikannya kebahagiaan namun bukan itu yang ia dapatkan.
Bagaimana bisa ia bahagia saat mereka berdua belum bisa mengurai luka yang mengikat keduanya?
Sesak... hanya satu kata itu yang menggambarkan perasaan Namima saat ini.
"Non, tuan nelpon..."
"Kenapa, mbok?"
"Katanya non sudah pulang atau belum... saya jawab baru saja sampai," jawab wanita gempal tersebut.
"Ya sudah, mbok istirahat saja. Saya mau masuk ke kamar."
Namima nampak menarik nafasnya dalam. Sesak yang menghimpit dadanya sama sekali tidak berkurang. Perhatian-perhatian Evran sedikit membuatnya melunak. Meski ia tidak tahu tujuan apa yang membuat pria itu berubah. Yang pasti, hal tersebut tidak merubah keputusannya.
***
Evran masih tercenung, kenapa semuanya jadi seperti ini?
Ia bahkan belum banyak berkata-kata, tapi Namima telah pergi begitu saja. Bukankah seharusnya mereka menikmati makan malam istimewa ini dengan gembira? Perayaan ulang tahun putra mereka bukankah lebih penting dari kehadiran seseorang di masa lalu?
Tapi tidak... kedatangan Zoya mengusiknya.
"Kamu pasti menunggu lama, iya kan?"
Suara itu membuat Evran menoleh dengan cepat. Zoya sudah berdiri dengan dress hitam selutut, rambut panjang yang di gerai serta makeup di wajah khas wanita itu. Tanpa menunggu respon dari pria itu, Zoya duduk di kursi yang ada di hadapan Evran—tepat dimana Namima tadi duduk di sana.
"Kenapa kamu datang kesini?" Evran bertanya bingung dengan kedatangan Zoya. Darimana wanita ini tahu keberadaannya?
"Bukannya kamu yang minta aku datang kesini?" Zoya bertanya bingung. Melihat reaksi Evran yang terlihat tidak percaya membuat Zoya berdecak sambil mengeluarkan ponselnya lantas memberikan layar yang berisi pesan atas percakapan sebelumnya.
"Kamu mengirim alamat ini serta fotomu yang sedang menungguku..."
Evran mengernyitkan alisnya. "Tapi nomer itu bukan nomerku," sahut Evran ketika melihat barisan nomer yang bukan miliknya.
"Lalu siapa? Kalau ini bukan kamu, kenapa saat aku kesini kamu terlihat sedang menunggu seseorang?"
Evran memejamkan matanya sejenak. Apa ini ulah Namima?
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Luka
RomansaSimpul luka yang sempat terikat, semakin mengikat mereka dengan erat. Semakin menyakitkan, semakin melukai. Bagaimana jadinya saat engkau mati-matian melupakan seseorang yang telah menghancurkanmu, namun kini pria itu hadir dan memporak porandakan...
