25

3.5K 510 45
                                        


Bismillah...

Pdf TERIKAT LUKA dah ready ya guyssssss... ebook sudah tersedia di Playstore....bisa di cek yaaa..

Sudah bisa di pesan via wa me 089633021705 dg harga 50k 😁

Pembayaran bisa tf atau via shopeepay (Dana atau gopay saya ga punya karena terkendala memori penuh😁)

Happy Reading...

Kaki Evran terpaku saat melihat pemandangan di depannya. Wanita itu sedang menatap putranya yang tengah makan dengan kagum. Bagaimana tidak? Anak yang selalu hadir dalam mimpinya sekarang sedang duduk di depannya saat ini, menyantap makanan yang di hidangkan sebelumnya.

Tenggorokan Evran tercekat, bahkan untuk sekedar menyapa Namima. Melihat binar di mata wanita itu seakan menyadarkannya bahwa selama ini, ia telah merenggut kebahagiaan wanita itu secara paksa! Ingatan itu kembali lagi saat melihat Namima meraung sambil menangisi kepergian anaknya di hadapan Intan! Lewat video cctv yang sengaja ia pasang sebelum kejadian di rumahnya, Evran memutarnya berulang-ulang dan itu menjadi kepuasan tersendiri untuknya.

"Oh, itu om Evran!" Suara Namima yang menyapanya menyadarkan Evran. Pria itu terlihat mengerjapkan matanya sebelum menarik seulas senyum tipis pada bocah yang menoleh dengan senyum di bibir Langit.

"Selamat siang, Om..."

"Sini, Kak. Kita makan siang bersama," ajak Namima dengan ceria, wanita itu bersikap hangat pada suaminya di depan Langit. Padahal di hari-hari biasa, mereka bersikap saling mengabaikan.

Evran bergerak mendekat, menarik kursinya dan duduk disana. Terhidang makanan kesukaan Evran dan Langit dalam satu meja. Namima mungkin tidak sempat memasak, tapi ia menghidangkan makanan kesukaan anak dan suaminya. Jaman sudah canggih, ia memesan makanan lewat ponselnya ketika di perjalanan menjemput Langit.

"Maaf om aku makan duluan.. soalnya laper banget. Tadi ada kegiatan olahraga di sekolah!"

"Nggak masalah, Langit. Jangan merasa sungkan begitu. Om Evran nggak keberatan kamu makan lebih dulu, benar kan, sayang?"

Evran mengangguk kaku, ia masih terlalu terkejut mendapati sikap manis Namima terhadapnya. Juga, mengetahui bahwa sang putra duduk di meja makan bersamanya. Mereka terlihat seperti keluarga?

Evran mengerjapkan matanya dengan dada yang sesak. Rasa bersalah seakan mencokol hatinya. Melihat senyum Namima, melihat putranya makan dengan lahap. Harusnya ia melihat ini setiap hari di rumahnya kan?
Bukan malah melihat wajah murung dan dingin Namima, serta rumah yang sepi tanpa anak-anak.

Ah, kenapa ia merasakan perasaan semacam ini?

Kenapa tiba-tiba ia merasa melankolis?

"Kenapa dia disini?" Evran bertanya lirih pada Namima.

"Mamanya Ben masuk rumah sakit. Evelyn panik dan menghubungiku untuk menjaga Langit sebentar. Jadi, aku meng-iyakan permintaannya. Nggak ada salahnya kan membantu? Toh, aku senang bisa dekat dengan Langit," jawab Namima menjelaskan.

Evran mengangguk. Mereka mulai makan dengan tenang. Sesekali Langit bertanya kemudian di jawab. Bocah itu cepat sekali akrab dengan orang lain dan Namima menyukainya.

***

"Tante punya kado buat kamu," ucap Namima.

"Kado apa, Tan? Ulang tahunku kan masih lusa..."

"Ya, anggap saja ini kado ulang tahun kamu.. tante nggak sabar lihat reaksi kamu!"

"Kenapa di berikan sekarang?" Cegah Evran. "Bukannya lebih baik besok saja?"

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang