15.

4K 520 47
                                        

Pdf sudah ready ya, dgn harga 50k
Bisa di order via wa di 089633021705

Ebook & Kbm aplikasi juga tersedia...

Happy read

***

Intan berdecak kagum melihat interior rumah Namima serta furniture yang ada di dalamnya.

"Nggak sia-sia kamu menikah dengan Evran. Lihat, kamu mendapatkan segalanya," puji wanita itu. Senyumnya nampak sumringah begitu mengetahui bahwa putrinya menempati rumah baru yang di berikan sang suami.

Bagaimana tidak merasa bangga, rumah ini sangat besar dengan halaman yang luas?!!

Malam ini, Evran sengaja mengundang kedua orang tuanya untuk makan malam di rumah barunya. Tidak lupa, Evran juga mengundang Amel dan Evan.

"Selamat ya, Kak..." Evan memeluk kakaknya usai mengucapkan selamat atas rumah baru yang di tempati oleh Evran.

"Thanks..."

Kemudian mereka berkumpul di meja makan untuk menyantap hidangan yang telah tersedia.

"Tante bangga sama kamu, Vran.. rumah ini akan ramai dengan anak-anak kalian nanti."

Namima tersedak mendengar penuturan mamanya sendiri.

Anak?

Mereka bahkan tidak berencana untuk memiliki momongan. Lagipula, siapa yang mau di sentuh oleh pria seperti Evran?

Evran diam sambil terus menikmati makanan di depannya tanpa berniat merespon ucapan ibu mertuanya.

"Dua atau tiga anak cukup untuk meramaikan rumah ini," lagi, Intan berseru senang. "Mama nggak sabar gendong cucu. Anak-anak kalian pasti senang tinggal di rumah besar ini iya kan, Mas?"

"Iya," jawab Erlangga.

"Kapan-kapan mama boleh nginap kan, sayang?"

Namima mengangguk kaku. "Silahkan..."

"Siapkan kamar khusus buat mama ya, Mima..."

Amel menatap prihatin Namima. Pasti berat menjalani hidup dengan pria yang seumur hidupnya di benci oleh Namima. Tapi mau bagaimana lagi?

***

"Kamu terlihat tertekan," komentar Amel sambil duduk di sebelah Namima.

"Kakak bisa melihatnya kan?"

"Apa semuanya baik-baik saja?"

"Tidak, Kak. Aku nggak baik-baik saja. Kak Evran masih menaruh dendam padaku, rumah ini tadinya untuk Kak Zoya, tapi malah untuk kutempati bersamanya.."

"Apa dia membahasnya?"

Namima mengangguk. Terdengar wanita itu menghela nafasnya berat. "Beban di pundakku sangat berat, Kak. Bolehkah aku mengeluh? Rasanya penderitaanku nggak ada habisnya!"

"Mengeluhlah, Namima.. itu hal yang manusiawi." Amel menyentuh punggung tangan Namima untuk memberinya kekuatan. "Telpon kakak kalau sesuatu terjadi padamu," beritahu Amel.

"Terima kasih banyak, Kak. Selama ini, kalian sudah baik padaku...."

"Kita keluarga, Namima. Sudah seharusnya kita saling membantu..."

"Oiya, Kak... boleh aku meminta tolong?"

"Apa itu?" Kilat penasaran tercetak jelas pada netra amel.

***

Disinilah mereka sekarang—saat ini Amel tertegun melihat deretan baju di walk in closet  di kamar Namima dan Evran.

"Bisakah Kakak pilihkan gaun yang pas untuk acara anniversary pernikahan?"

"Acara siapa?" Amel maju untuk menyentuh gaun-gaun yang ada. Ia meraih satu gaun berwarna maroon dan memasangnya di tubuh Namima. "Ini bagus!" Komentar Amel. "Temanmu yang mana?"

"Ibu asuh Langit, Kak..."

Mata Amel sempat membeliak tidak percaya mendengar jawaban Namima.

"Benarkah? Jadi, kamu melihatnya?"

Namima tersenyum, kilat bahagia nampak jelas di wajahnya. Matanya jelas menunjukan bahwa ia senang bisa melihat putranya.

"Iya kak... Evelyn menemuiku dan mengundangku ke acara anniversary pernikahannya. Aku sangat antusias sampai nggak bisa tidur..."

Melihat kebahagiaan terpancar di wajah iparnya, Amel ikut merasa senang. Bagaimana tidak? Sejak di pisahkan dari putranya, ia tidak pernah melihat kilat bahagia di wajah Namima. Sekalipun tersenyum, Namima yakin hal itu terpaksa di lakukannya sebagai formalitasnya bersama klien atau beberapa orang yang di anggapnya penting. Seringkali, Amel memergoki Namima melamun apalagi saat wanita itu kumpul keluarga. Melihat anaknya tumbuh adalah harapan wanita itu.

"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Aku ikut senang, Namima... kalau begitu, Kakak pilihkan gaun dengan warna yang cerah, kamu mau anakmu terkesan kan? Aku yakin, dia bangga mempunyai ibu sepertimu... kamu wanita kuat, kamu hebat, Namima..."

Namima menggeleng. "Aku bukan wanita kuat kak.. aku juga nggak hebat. Lihatlah,aku lemah.. hingga mampu menyerahkan putraku pada orang lain untuk mereka rawat. Langit pasti kecewa padaku..."

"Tidak, Namima.. kalau Langit tahu cerita yang sebenarnya, dia pasti akan mengerti. Suatu saat nanti, Tuhan akan memberikanmu kesempatan untuk membuktikan pada Langit bahwa kamu tidak seperti yang dia pikirkan..."

***

Intan menemui Namima di kamarnya. Begitu wanita itu masuk, Amel pamit undur diri.

"Mami bangga sama kamu, sayang..." Intan langsung memeluk putrinya. "Paling tidak,kehilangan Ben nggak membuat kamu kecewa kan? Lihat, Evran memberikanmu istana sebesar ini..." pelukannya mengendur. Kabahagiaan yang terpancar di wajah mamanya sama sekali tidak membuat Namima senang.

"Tapi rumah ini terlalu sepi untuk di tempati berdua saja," komentar Namima. "Andai aku mendapatkan segalanya.. anakku, ayah dari anakku dan rumah ini..."

Raut wajah intan berubah masam saat Namima menyinggung soal anak.

"Kalian bisa membuatnya lagi kan?"

"Tapi Langit tak tergantikan, Ma!"

"Iya ya... tapi dia sudah bahagia kan? Lagian, dia nggak akan senang tumbuh dengan ibu labil sepertimu, Namima. Keputusan mami untuk memberikan dia pada keluarga barunya adalah hal yang benar. Kabar terakhir yang mama terima, dia tumbuh dengan baik... keluarganya sangat menyayangi dia! Jangan risaukan anak itu lagi, di rumah ini... kamu bisa membuat banyak anak!"

Namima masih tidak percaya dengan pemikiran mamanya sendiri. Kenapa wanita itu masih saja meremehkan perasaan orang lain?

"Mama akan pulang," pamit Intan pada Evran dan Namima kala mereka mengantar kedua orang tuanya di depan pintu. "Berbahagialah kalian... rumah sebesar ini harus di tempati oleh orang-orang yang bahagia! Selamat malam anak-anak!" Intan melambaikan tangannya sambil bergerak pergi saat Erlangga memberikan kode lewat klakson mobilnya.

Bahagia Intan bilang?

Evran berdecak kesal sambil berbalik pergi. Tidak jauh beda dengan Namima.

Apanya yang bahagia?

Mereka terikat luka dengan hubungan ini? Bagaimana bisa orang-orang yang hatinya penuh luka, bisa bahagia? Sedangkan mereka saling melukai!

***

Monmaaf bru up yaa gaessssss 😆😆

Gimnaaa masih nunggu kan???hahhaa

Y

g mau ikutan PROMO BAYAR 100K DAPAT 12 JUDUL,  Bisa di order via wa di 0896-3302-1705 / 0889-7368-9642

Yg mau beli langsung chat saja yaa, kuota terbatas ;)

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang