16

3.7K 565 80
                                        

Hallo, pdf nya ready yaa... harga 50.000

Ebook & kbm app tersedia yaa...

Order pdf bisa via wa di 089633021705

Bagi pengguna iphone atau yg tinggal di LN dan terkendala gabsa ke playstore... jika berminat beli tinggal WA saja ya, bisa klik link wa di bio...

***

Mama benar, hidup Langit terjamin. Anaknya pasti bahagia. Lihatlah, untuk kedua kalinya Namima berdecak kagum melihat begitu megahnya rumah Evelyn saat ia menginjakan kakinya di halaman rumah.

Haruskah ia merisaukan keadaan putranya? Dia pasti bahagia dengan kemewahan yang di berikan oleh keluarga Sakti dan Evelyn saat ini. Jangankan uang, kasih sayangnya pun pasti berlimpah untuk putranya. Namima meringis ketika mengingat bahwa ia begitu mencemaskan putranya padahal Langit jelas berada di tangan yang aman.

Ketika kakinya melangkah masuk, ia menatap sekelilingnya. Keluarga Evelyn tampak hangat ketika ia masuk ke dalam ruangan yang telah di sulap menjadi tempat pesta.

Wanita itu nampak asing ketika tidak ada seorangpun dari mereka yang di kenalnya. Evran benar, tidak seharusnya dia datang ke acara orang asing.

"Kak," panggil Namima lirih sambil menyentuh ujung jas Evran. Pria itu menoleh dengan alis bertaut.

"Kenapa?"

"Apa sebaiknya kita pulang saja?" Ragu, Namima mengedarkan matanya ke seluruh ruangan. Di sudut lain ia melihat Ben sedang berbincang hangat dengan seseorang. Orang tua pria itu ada di sudut yang berbeda—sedang berbincang hangat juga.

Arah mata Evran mengikuti kemana wanita itu memandang lantas menyeringai.

"Untuk apa kita pulang? Bukankah kamu ingin datang kesini? Lihat disana.. mantan kekasihmu. Bukankah kamu belum bisa melupakannya?" Ucapan Evran mengambil alih perhatian Namima. Wanita itu menatap tajam Evran.

"Apa maksud kakak?"

"Bukankah selain bertemu dengan anakmu, kamu juga bisa sekalian melihat mantan kekasihmu? Kenapa harus pulang? Kita ini pengantin baru.. akan lebih baik kalau kita menyapanya!"

Tarikan di tangan Evran membuat Namima terperanjat dan mau tak mau, Namima mengikuti langkah pria itu karena Evran dengan paksa menyeretnya menuju dimana Ben sedang berdiri sambil berbicang.

"Selamat malam, Ben," sapa Evran. Pria itu langsung menoleh—terlihat terkejut mendapati Evran yang menyapanya bersama Namima yang di gandeng paksa oleh pria itu. Lihatlah, Evran bahkan menggenggam tangan Namima.

"Oh, hai..." Ben berhasil menguasai dirinya. "Gimana kabar kalian?"

"Oh, tentu kami baik-baik saja."

"Baguslah.."

Namima merasa risih bergerak gelisah, ia juga berusaha melepas cekalannya namun tidak berhasil karena tenaga Evran lebih kencang.

"Gimana dengan Gisela?" Evran bertanya dengan polos, pertanyaan tersebut jelas mengusik Ben.

"Kami baik-baik saja..."

"Apa keluarga tante Listy sudah tahu?" Kali ini Evran melirik ke sampingnya, berharap Namima menjawab pertanyaan yang ia lemparkan.

Sekilas Namima dan Ben bersitatap, keduanya nampak canggung. Apalagi saat mata pria itu jatuh pada jemari Namima yang saling menggenggam. Rasanya, aneh melihat mereka berdua menikmati hubungan tersebut. Bahkan Ben sama sekali tidak bisa membaca situasi, dimana Namima nampak cemas dengan kedekatan yang terjadi antara dirinya dan Evran.

Terikat Luka Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang