Begitu acaranya selesai, Evran pamit undur diri pada pemilik acara. Sedikit aneh mendapati dirinya berada pada acara kekanakan ini sampai selesai, bahkan Evran sempat merekam video ketika lagu selamat ulang tahun di nyanyikan oleh anak-anak serta di meriahkan oleh tepuk tangan. Evran akan mengirimkannya pada Namima dan menghardik wanita itu.
Berbeda dengan Evelyn, ia merasa badannya meriang karena hari ini, dia baru saja mengetahui fakta yang mengejutkan. Setelah acaranya selesai dan para tamu undangan meninggalkan rumah, wanita itu berjalan gontai ke kamarnya dan duduk di sisi ranjang dengan lemas.
Seharusnya ia merasa curiga sejak awal kan? Tapi, bukan itu... ia mengenal Namima sebagai kekasih Ben. Lantas mereka dekat karena dirinya yang menyukai gaun rancangan wanita itu, lalu saat ia mengetahui bahwa Namima adalah ibu kandung Langit, kenapa ia kecewa?
Apa ini ada hubungannya dengan mimpinya selama ini?
Apa Namima hadir dalam hidupnya untuk mengambil Langit darinya?
Pemikiran itu membuat Evelyn menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengenyahkan segala praduganya. Tapi, bagaimana jika benar?
"Sayang," Sakti menghampiri Evelyn dengan raut khawatir. Evelyn mendongak untuk menatap suaminya yang kini duduk di samping wanita itu. "Kata Mbak, kamu nggak enak badan. Kenapa? Apanya yang sakit?"
Evelyn tidak bisa membendung perasaannya hingga tangisnya pecah di pelukan Sakti. Pria itu kebingungan, jelas ia tidak mengetahui apa yang di rasakan oleh istrinya, Evelyn.
Tanpa banyak bertanya Sakti menepuk-nepuk pundak wanita yang pria itu cintai. Entah apa yang di rasakan oleh wanita itu, yang pasti— Eve hanya butuh pelukannya.
Sakti menunggu hingga tangisnya reda. Sampai Evelyn mengurai pelukannya, jemari Sakti merangkum wajah istrinya dengan tatapan lembut. Ibu jarinya menghapus air mata yang menitik di pipi.
"Katakan apa yang membuatmu menangis, Sayang..." ucapan lembut Sakti membuat tatapan mata mereka beradu.
"Mas pernah bilang, siapapun nggak akan ada yang bisa mengambil Langit dari kita, iya kan?"
Sakti mengangguk. Benar, tidak ada siapapun yang bisa mengambil Langit dari mereka. Karena mereka mengikuti prosedur adopsi sesuai dengan hukum yang berlaku di negara ini.
"Apa yang menganggumu?"
"Aku bertemu dengan ibu Langit, Mas. Apa dia datang untuk mengambil Langit dari kita?"
Sakti masih bersikap tenang meski jantungnya berdebar.
Ibu Langit?
"Kapan dan dimana kamu bertemu dengan Ibu Langit?"
"Tadi... bahkan kita bisa bertemu dengannya kapanpun, Mas!"
Kening Sakti mengkerut. "Siapa, sayang? Apa aku mengenalnya?"
Evelyn menganggukan kepalanya. Dan respon tersebut semakin membuat debar jantungnya menggila.
Sakti berdoa dalam hati, semoga dugaannya salah. Ia hanya terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semoga saja bukan orang-orang yang selama ini ia curigai.
"S-siapa?" Tanya Sakti gugup.
"Namima," satu nama yang meluncur di bibir istrinya membuat Sakti melepaskan tangannya yang sejak tadi merangkum wajah sang istri. Sakti menatap kosong wanita yang ia cintai, kini gantian Evelyn yang meraih jemari Sakti, mereka saling menguatkan satu sama lain. "Dia nggak akan mengambil anak kita kan, Mas?" Remasan pada jemari tangannya membuat Sakti mengerjap pelan. Pria itu nampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Nggak akan ada yang bisa mengambil Langit dari kita, Eve. Langit anak kita... dia anak kita..." kemudian Sakti memeluk istrinya. Mereka saling menguatkan satu sama lain atas ketakutan yang menghantui keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terikat Luka
RomanceSimpul luka yang sempat terikat, semakin mengikat mereka dengan erat. Semakin menyakitkan, semakin melukai. Bagaimana jadinya saat engkau mati-matian melupakan seseorang yang telah menghancurkanmu, namun kini pria itu hadir dan memporak porandakan...
