tiga puluh

511 51 0
                                    

Malam harinya Winter terbangun dari tidurnya dan melihat ponselnya banyak sekali panggilan tak terjawab dari Karina.

Takut Karina marah akhirnya Winter pergi ke rumah Karina dengan motornya yang di warisi oleh kakeknya untuk Winter.

Winterpun sampai di depan rumah Karina dan langsung membuka ponsel miliknya.

"Gue telepon aja kali ya siapa tau masih bangun, gue takut dia marah gara gara gue ga angkat telepon." Gumam Winter panik yang berdiri di depan rumah Karina.

Saat Winter mencoba untuk menelepon Karina tiba tiba hp nya mati karna habis batre.

"Astaga pake mati segala lupa charger gue, gue samperin ke dalem aja gimana? Ahh ga sopan udah malem juga, ohh gue inget!" Gumam Winter punya ide.

Winter pun mencari cari jendela kamar Karina namun ada dua jendela kamar yang terlihat sama.

Dengan hanya mengandalkan insting Winter memilih jendela yang masih menyala.

"Semoga aja pilihan gue bener." Gumam Winter lalu melemparkan batu kecil ke jendal kamar yang di pilih Winter tadi.

"Masih ga ada jawaban gue coba lempar lagi."

"Ini sampe tiga kali gaada jawaban, gue pulang." Gumam Winter.

Saat Winter akan melempar batu kecilnya yang ketiga kali, jendela yang di lemapari Winter pun terbuka.

"Akhirnya, tapi siapa yang bukanya? Gimana kalau si Bos yang bukanya? Wah bisa diomelin gue." Kata Winter panik.

"Winter? Jadi yang lempar batu si Winter? Ngapain malem malem gini." Gumam Karina lalu membuka jendela kamarnya.

"Siapa ya?" Teriak Karina pura pura tidak tau.

Mendengar suara Karina, Winter pun loncat loncat dan melambaikan kedua tangannya.

"Karina ini Winter." Teriak Winter.

"Kamu ngapain malem malem gini lemparin batu ke jendela kamar aku?" Teriak Karina tersenyum melihat tingkah Winter.

"Ngomong apa si dia ga kedengeran." Gumam Winter.

"Karina maafin gue ga angkat telepon lo, lo ga marah kan..." Teriak Winter.

"Hah marah? Marah kenapa Win." Balas Karina.

"Karina, mending lo turun kebawah dari pada teriak teriak kaya gini nanti dimarahin tetangga, sama jangan lupa bawa jaket, diluar dingin banget." Teriak Winter.

"Iya." Jawab Karina.

Karina pun langsung berlari kebawah dengan pakaian piyama merah marunnya tanpa membawa jaket yang di perintahkan Winter.

"Winter, kamu ngapain malem malem kesini." Tanya Karina.

"Gue takut lo marah sama gue gara gara ga angkat telepon dari lo, jadi gue samperin lo kesini." Jawab Winter.

"Kenapa ga teken bel aja sih, jadikan gausah teriak teriak kaya tadi." Balas Karina.

"Gapapa kali kali biar kaya di film film hehe, tapi lo ga marahkan sama gue?" Tanya Winter.

"Engga kok engga marah, emang kamu kemana kenapa engga angkat telepon aku?"

"Gue ketiduran Rin maafin, soalnya tadi cape banget."

"Hemm iya deh gapapa, habis ini kamu mau kemana?"

"Mau pulang."

"Yaa kirain sekalian mau ngajak keluar." Gumam Karina.

"Udah malem Karin, dingin juga udaranya, gue cuman bawa motor nanti lo masuk angin."

"Tapi aku pingin coba naik motor malem malem Win, yaudah deh gapapa kalau gaakan keluar, aku mau masuk ke dalem aja." Jawab Karina cemberut.

Business FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang