empat puluh

454 32 5
                                    

Yuna, Ryujin dan Yujin melirik Winter yang sedang menatap Karina yang berjalan menuju gerbang Kampus dengan tatapan sedihnya.

Tak tega melihat sahabatnya itu sedih Ryujin pun menepuk pundak Winter.

"Win lo gapapakan?" Tanya Ryujin hawatir.

"Gue boleh ga sih nangis?" Tanya Winter dengan mata yang sudah berkaca kaca.

"Nangisin aja Winter gausah pura pura kuat, gue juga bisa ngerasain apa yang lo rasain." Celetuk Yuna.

"Bener kata Yuna nangisin aja Win gapapa." Lanjut Yujin.

Winterpun langsung menangis sekencang kencangnya di pelukan Ryujin.

"Kalau gue tau ujung hubungan gue sama Karina bakal gini, seharusnya gue gausah melibatkan perasaan gue dalam bisnis waktu itu." Ucap Winter menyesal.

"Udah Win gausah nyalahin diri lo ga baik, sekarang lo harus bisa iklasin ini semua." Jawab Ryujin menenangkan.

"Ga semudah itu Ryu." Balas Winter menangis.

"Yuna, maaf hari ini gue gabisa anterin lo pulang gue pingin sendiri dulu sampe hati gue bener bener tenang, gapapakan?" Tanya Winter ke Yuna.

"Gapapa Winter gapapa, aku ngerti kok kalau kamu lagi pengen sendirian, tapi jangan aneh aneh ya, hati hati di jalannya." Jawab Yuna.

"Makasih Yuna, Guys kalau gitu gue pulang dulu."

Dirumah Karina saat ini ada Jeno dan juga Bunda, mereka bertiga terlihat sedang membahas sesuatu yang sangat serius.

"Tante Jeno mau langsung ke intinya aja, kalau Jeno sama Karina udah ngomongin sesuatu." Kata Jeno gugup.

"Ngomongin apa?" Tanya Bunda dengan nadanya yang dingin.

"Kita berdua mau menikah tante." Jawab Jeno.

"Karina apa itu betul?" Tanya Bunda ke Karina dengan ekspresi kaget.

"B-betul Bunda." Jawab Karina yang dari tadi menunduk karna menahan air matanya.

"Jeno pernikah itu bukan main main kamu yakin mau menikah? Hubungan kalian juga baru berjalan dua bulan, maaf bukannya Bunda ga percaya sama kamu, tapi Bunda belum yakin sama pernikahan kalian berdua." Ujar sang Bunda.

"Gapapa Tante belum percaya sama Jeno, Jeno bakalan bikin Tante percaya, tapi ijinkan Jeno menikahi Karina, Jeno ingin memiliki Karina tanpa di ganggu oleh siapapun Tante." Kata Jeno yang meyakinkan Bunda Karina.

"Bunda tanya Karina dulu, Karina kamu bener bener pingin nikah sama Jeno?" Tanya Bunda.

"Engga Bunda." Batin Karina.

"Mau Bunda." Jawab Karina.

"K-kamu yakin?" Tanya Bunda kedua kali.

"Yakin." Balas Karina.

"Ga Bunda ga yakin!" Batin Karina sesak.

"Kalau gitu Bunda merestui kalian berdua menikah, jadi kapan kalian mau menikah?" Tanya Bunda.

"Karina kamu tidak pintar berbohong kenapa kamu lakuin semua ini nak?" Batin Bunda sedih.

"Bulan sekarang Bunda." Jawab Jeno.

"Ga terlalu kecepetan?" Tanya Bunda kaget.

"Lebih cepat lebih baik." Jawab Jeno tak sabar.

"Gimana Karin?" Tanya Bunda.

"Aku terserah Jeno aja Bun."

"Tenang Tan masalah, gedung, dan yang lain lain udah Jeno siapin, tinggal cari baju buat kita berdua aja." Kata Jeno bangga.

Business FriendTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang