Chapter 20~

12.8K 1K 0
                                        

Kedua gadis itu memarkir motor mereka di depan sebuah kafe yang cukup terkenal di kalangan anak muda, apalagi perempuan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kedua gadis itu memarkir motor mereka di depan sebuah kafe yang cukup terkenal di kalangan anak muda, apalagi perempuan. Kafe bernama Chocolate itu memiliki tiga lantai. Di lantai pertama, tempat hanya sekedar mempir atau hanya ingin menikmati segelas coklat panas atau dingin, di lantai dua tempatnya nyaman dan bagus untuk bersuafoto, di lantai ketiga adalah tempat pemilik kafe tersebut.

Azura menatap kafe di depannya, masih saja penuh di jam malam seperti ini. Azura dan Sarah melangkah masuk kedalam.

Lonceng pintu berbunyi kala Azura menarik pintu itu, seorang bartender melirik cepat kearah mereka berdua.

Mereka memesan tempat di lantai dua, sekalian pesanan mereka.

"Kayaknya ini cuman kafe biasa aja Ra, nggak ada tampang-tampang mafianya, bartendernya juga ganteng, uy," ujar Sarah pelan sambil mengedarkan pandangan kesetiap penjuruh. Dia mendengus kesal, semua yang datang ke kafe ini memilik pasangan.

"Hey ladies-ladies, ini pesanan kalian."

Azura mendongak menatap seorang laki-laki mengangtarkan pesanan mereka.

"Makasih," kata Azura. Laki-laki mengangguk dan beranjak.

"Di sini nggak ada waiter perempuan apa? Semua laki-laki, mana ganteng lagi."

Celetukan Sarah membuat Azura tersenyum tipis. "Aneh nggak?" Sarah mengangguk. "Nggak mungkin kan kalo mereka hanya nerima waiter laki-laki?" Sarah kembali mengangguk.

"Tapi kenapa waiter mereka gantengnya nggak ngotak anjirr!" pekik Sarah kala seorang laki-laki tampan lewat di sebelah mereka. Mata Sarah berbinar. "Ini bakal jadi kafe favorit gue. Gue bakal datang kesini tiap hari!"

"Gila." Azura menggelengkan kepala untuk kegilaan Sarah pada laki-laki ganteng. "Malam ini kita pantau apa yang mereka lakuin, abis itu kita sapa mereka."

____

Tok tok tok!

"Azura! Sudah bangun?!" teriak Alasya dari luar kamar. Wanita itu menyerit tak ada suara dari dalam kamar. Membuka pintu dengan pelan dan terdengarlah suara air dari kamar mandi. Alasya tersenyum, kembali menutup pintu dan kembali ke bawah.

"Morning Honey," sapa Leonardo dengan memberikan kecupan di pelepis istrinya.

"Morning to," balas Alasya.

"Pagi Ma, Dad. Hoaamm..."

"Nguapnya jangan gitu ih! Masuk lalat tau rasa kamu!" decak Alasya dengan menutup mulu Zero.

Zero malah menyengir. "Maaf Ma."

Tak lama setelah Zero datang, Azura datang dengan seragam rapihnya. Dia duduk di samping Zero dan saling berhadapan dengan sang Mama. "Pagi," ujar Azura dengan tersenyum kecil. Dan di balas oleh mereka.

Saat di pertengahan mereka makan, Leonardo membuka percakapan, "Malam ini terjadi lagi pembunuhan di keluarga kita lagi." Sontak perkataan Leonardo membuat semua menghentikan makan.

Alasya menatap suaminya khawatir. "Apa pembunuhnya belum ditemukan?" tanya Alasya.

Leonardo menggeleng. "Tak ada jejak atau bukti yang kami dapatkan. Dia sangat ahli dalam hal ini," jelas pria itu.

Azura dan Zero hanya menyimak. Mereka berdua tersenyum dalam diam. "Tentu saja. Agen handal seperti Zero mana bisa tertangkap?" batin Azura.

"Beberapa hari ini, kalian berdua akan dikawal oleh bodyguard. Daddy tak mau terjadi apa-apa pada kalian," ujar Leonardo pada kedua anaknya.

"Tapi kami bisa menjaga diri," jelas Zero.

Leonardo menatap tajam. "Jika kamu itu mungkin saja, tapi Azura? Dia seorang perempuan. Anak perempuan satu-satunya di keluarga Abraham tak boleh terluka."

Memang, dalam keluarga Abraham banyak sekali laki-laki. Gen Abraham memiliki keturunan pemimpin. Tapi itu tak bisa menjamin mereka tak memperebutkan kekuasaan dalam keluarga. Contohnya Leonardo dan saudaranya. Yang rela membunuh saudaranya sendiri demi kekuasaan.

"Jadi, ini tak bisa dibantah lagi. Jika kamu tak mau para bodyguard itu ada di samping mu, maka Daddy akan menyuruh mereka memantaumu dari jauh saja," lanjut Leonerdo.

"Iya, itu benar. Mama takut terjadi apa-apa sama kalian. Mungkin belum sekarang, tak tau kan apa yang terjadi kedepannya?" Alasya ikut memberitahu.

"Yah, baiklah. Itu lebih baik daripada mereka mengikutiku. Lakukan itu juga pada Zalin, aku yakin dia tak akan suka juga jika para bodyguard berada di sisinya."

Setelah percakapan itu selesai, masing-masing mereka melakukan kegiatan mereka. Azura dan Zero ke sekolah, Leonardo dan Alasya pergi ke tempat kerja masing-masing.

 Azura dan Zero ke sekolah, Leonardo dan Alasya pergi ke tempat kerja masing-masing

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa vote (´⊙ω⊙')

Mysterious GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang