Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pukul 00:43 Azura terbangun dari tidurnya. Dirasakan sakit pada kepala lantas memegangnya, begitu mereda Azura menatap sekitar dan mendapati dirinya sudah berada di kamarnya sendiri. Tak usah di tanyakan siapa yang membawanya pulang, sudah pasti Zero.
Bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Membasuh wajahnya agar kantuknya menghilang. Azura menatap wajahnya di cermin, Ingatan kehidupannya yang dulu telah kembali sepenuhnya. Ada bagusnya dia mabuk kemarin.
"Samuel dan Putri ... hahaha pasangan yang sangat serasi. Di kehidupan lalu maupun kehidupan sekarang mereka tak bisa terpisahkan," cibirnya.
Azura keluar dari dalam kamar mandi, berjalan ke arah komputer, mengaktifkan benda elektronik itu dan membuka pesan yang dikirim bawahannya.
"Hihi ... tinggal dua lagi. Aish, nenek tua, sebaiknya kau berbaik-baik hati padaku, agar belas kasih ku membiarkanmu hidup lebih lama."
Namun kemudian ide usil terlintas di kepalanya. Akan memberikan sapaan pada nenek kesayangannya itu.
______
"Besar juga rumah nenek tua ini, kalau dia sudah mati aku akan menyuruh Daddy memberikan mansion ini padaku, hahaha. Dan aku akan membuat markas di sini."
Memang sangat cocok untuk dijadikan markas, mansion terletak agak jauh dari pemukiman dan hanya di kelilingi pepohonan.
Gadis itu masuk lewat jendela yang dengan mudah di bobol, masalah CCTV Azura sudah mengurusnya. Kali ini Azura hanya mengenakan pakaian serba hitam tanpa mengenakkan topeng, tapi mengenakkan cadar hitam. Dia tidak membawa katana hanya membawa dua buah belati untuk jaga-jaga.
Setelah berputar-putar cukup lama di mansion, akhirnya Azura menemukan kamar Lania.
Diketuknya tiga kali mengetes kalau nenek tua itu sudah tidur apa belum. Dia terkikik geli dengan pikirannya, sudah pasti nenek tua itu sudah tidur.
Azura kembali membobol pintu kamar Lania tanpa merusak engselnya. Saat membuka pintu hanya ada kamar dengan lampu remang-remang. Di sana, di tempat tidur, Lania tidur dengan nyenyak, Azura menyeringai melihatnya.
Azura melihat lebih dekat dan menumpukan tangannya di sisi ranjang. Dia menarik bantal yang di gunakan Lania guna membangunkannya. Dan berhasil, mata wanita tua itu mengerjap lalu terbelalak kala melihat Azura.
Azura tersenyum manis dari balik cadarnya."Selamat..." Azura melihat jam di dinding. "Selamat subuh nenek tua. Aku yakin pasti kau senangkan? Aku membangunkanmu?" kekeh Azura setelahnya.
"Si-siapa kau?!" seru Lania ketakukan. Ingatannya langsung teringat marga Parker di bantai dan dia juga adalah Parker. Apa, orang yang di depanmu ini akan membunuhnya?! Tidak!!"