Chapter 33

8.7K 835 1
                                        

Dentuman kencang musik membuat gendang telinganya terasa mau pecah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dentuman kencang musik membuat gendang telinganya terasa mau pecah. Azura menyorot tajam, kakinya digoyang gendangan tempo cepat, sementara tangannya meremas gelas berisi minuman bersodanya sambil sesekali berdecak kesal.

Azura menggantik minumannya dengan yang lebih aman, karena takut kejadian yang lalu terulang lagi. Kalau mengingat, Azura rasanya mau muntah.

Ke sana kemari Azura mencari keberadaan Zero, bak hilang ditelan bumi, Azura tidak menemukan laki-laki itu di manapun.

Lagi-lagi Azura berdecak karena merasa jengkel, gadis itu lantas menyesap minumannya. Ingatkan dia membunuh laki-laki itu setelah ditemukan.

"Weh, Azura ngapain lo ke sini?"

Kepala Azura tertoleh mendengar suara familiar yang menyebutkan namanya. Di sana, Wiski berjalan ke arahnya sambil tersenyum dan di sebelahnya ada seorang pria yang tak dikenal.

Azura menoleh karena mendengar seseorang menyebutkan namanya. Disana ada Wiski dan seorang laki-laki yang tak di kenalnya, tapi wajah laki-laki itu seperti tak asing, dia sepertinya melihatnya di suatu tempat. Kening Azura mengerut melihat pria itu, rasa asing tak asing menyusup di hatinya.

Azura membalas sapaan Wiski, "Gue lagi jagain anak setan, tapi lepas entah ke mana, ngilang." Gadis itu membanting pelan gelas kaca di tangannya.

"Ahaha ... kalo Zero anak setan otomatis lo juga anak setan dong?" kekeh Wiski dan duduk di meja yang sama dengan Azura lalu mengajak orang yang datang bersamanya untuk duduk juga.

Azura langsung mendelik. "Mau mati lo? Enak aja lo bilang gue anak setan? Sorry to say, gue benih cinta antara Mama Alasya dan Papa Alton. Sementara Zero anak setan yang nyempil di rahim Mama gue, dia bukan kembaran gue!"

Wiski meledakkan tawanya. Zero benar-benar membuat Azura kesal sekarang. "Pasti Zero lagi 'iya-iya', kan?"

Azura mendengus mendengarnya.

Wiski kembali tertawa mendengar jawaban Azura. "Ngomong-ngomong Azura, kenalin, ini temen gue." Wiski memperkenalkan pria yang datang bersamanya.

"Oh, gue Azura." Gadis itu merasa ada yang aneh dengan pria itu, sedari tadi menatapnya dengan ekspresi yang menyiratkan kerinduan dan kesedihan. Hati Azura seperti tergelitik.

Pria itu menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis melihat Azura bergidik.

"Caesar," jelas pria itu.

Azura mengangkat alis. "Caesar? Kayak pernah dengar tapi di mana ...."

Caesar, nama ganjil dan sedikit familiar, dia seperti mendengarnya di suatu tempat.

Mysterious GirlTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang