Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue masih belum percaya dengan 'nggak ada apa-apa' sama penampilan lo yang berubah ini."
Kalimat yang dilontarkan Zero tepat setelah mereka memarkirkan motor. Dia membuka helm, menyorot Azura yang membuka helm dan memperbaiki tatanan rambutnya.
"Gue benaran lagi seneng aja, emang nggak boleh gue dandan?" Azura mendelik.
Zero menyipit kesal. "Ya maksudnya, yang buat lo senang itu apa? Nggak ada niatan buat bagi ke gue, gitu?"
"Niatnya sih nggak."
"Zalin sialan! Bagi, nggak?!"
Zero turun dari atas motor dan mengejar Azura yang berlalu lebih dulu. Dia memberenggut karena Azura tidak mau berbagi padanya.
"Semalam gue ke rumah nenek tua itu."
Zero kontan ternganga. Tidak ada penting-pentingnya Azura mengunjungi rumah nenek tua itu. "Ngapain ke sana? Ngucapin selamat ulang tahun?"
Azura memutar bola mata malas. "Nggak elah, gue usilin."
"Aneh-aneh aja lo."
Berjalan di koridor, bisik-bisik tidak menyenangkan menyusupi telinga Zero. Bukan tentangnya, tapi Azura. Dari awal, tidak ada yang memerhatikan Azura, tapi kali ini semua mata tertuju padanya, karena penampilan yang tiba-tiba berubah. Zero kesal bukan kepalang.
"Itu Azura, kan?"
"Yang bener aja? Yang suka pake kacamata itu, kan?"
"Buset, cakep bener."
"Apa juga gue bilang, Azura tu cantik, ketutupan sama kacamatanya aja."
"Deketin boleh nggak sih?"
"Sialan, dia cantik banget."
"Tiba-tiba insecure gue ngeliat Azura."
"Selama ini kita ke mana nggak atau ada cewek cantik di sini?"
Zero menggeram. Dia menatap tajam laki-laki yang dengan terang-terangan menatap Zalin-nya.
"Apaan tu mata! Mau gue colok, hah?!"
Mereka tersentak, bukan hanya laki-laki tapi para perempuan juga walau bukan tertuju untuk mereka.