Double up karena kemarin nggak sempat dipublikasikan (´∀`)
Di sinilah Azura dan Ozzy sekarang, ralat, di sinilah mereka sekarang, di pasar malam.
Ozzy memandang teman-teman laknatnya dengan jengah, niatnya mengajak Azura jalan-jalan dengan sembunyi-sembunyi agar mereka tak tau. Tapi entah bagaimana caranya saat mereka sampai di pasar malam, Zero, Dittam, Gevin, Juno, dan Geran sudah berdiri di samping motor, seperti orang yang memang lagi menunggu.
"Az, ke sana yuk," ajak Ozzy kala melihat harum manis atau gulali.
Azura yang diajak pun hanya mengikuti, lagi pula nanti bukan dia yang bayar jika mereka membeli. Zero, Dittam, Gevin, Juni, dan Geran, mengikuti ke mana pun kedua orang itu pergi, mereka seperti mengikuti induk ayam.
_____
"Mmm, gue mau ke toilet bentar."
Tanpa menunggu persetujuan dari mereka Azura beranjak dari sana, dia sudah kebelet karena sedari tadi ditahannya.
Gadis itu bernafas lega setelah membuang hajatnya, tapi saat hendak keluar dari dalam toilet dirinya kembali dibawa masuk dan seseorang itu membekap mulutnya. Azura memberontak, tempatnya yang sempit membuatnya susah bergerak.
"Diam, ini gue."
Azura terdiam kaku, dia merinding mendengar suara berat Geran. Sekelebat ingatan di bar waktu lalu terlintas di kepalanya membuat Azura panas dingin.
Geran melepaskan tangannya dari Azura, laki-laki membalikan tubuh gadis itu mengarah padanya.
"Lo kenapa kayak ngehindarin gue?" tanya Geran sambil menatap dalam mata Azura.
Gadis itu membuang pandangannya kearah lain. "Sialan!" batin gadis itu. Dia tak bisa mematap mata Garen.
Memang, akhir-akhir ini Azura menghindari Geran
"Jangan liat lain, liat gue."
Geran menarik dagu Azura agar gadis itu memandang nya. Laki-laki menatap wajah cantik Azura, dari dulu hingga sekarang kecantikan itu masih sama.
"Apa kau Azura-ku?"
"Siapa? Siapa yang lo bilang?" tanya Azura dengan heran. Kenapa laki-laki ini?
"Kau, kau tak mengingat ku, hm?" Geran merapatkan tubuhnya pada Azura, sontak gadis memundurkan tubuhnya hingga bersandar di tembok.
"Gu-gue nggak tau," ujar Azura lirih. Jika seperti ini tak bagus untuk jantung, seakan mau meledak.
"Lo bisa undur sedikit nggak? Gue nggak bisa nafas," pinta Azura. Ya, gadis itu menahan nafasnya.
"Kenapa?"
Azura menggeram, dia memberanikan menatap Geran. Tapi sedetik kemudia dia terbelalak, laki-laki itu dengan cepat menyambar bibir merah muda milik Azura.
Awalnya hanya sebuah kecupan lama, tapi lama kelamaan menjadi lumatan menuntut namun lembut. Gadis mencoba mendorong tubuh Geran sekuat tenaga tapi usahanya sia-sia, laki-laki terlalu kuat. Sedangkan Geran, laki-laki menahan tengkuk dan memeluk pinggang Azura agar lebih menempel pada tubuhnya.
Geran mencoba menerobos kedalam mulut Azura, tapi sayang gadis itu tak mau membuka mulutnya. Dengan paksa Geran mengigit bibir bawah Azura dan akhirnya gadis itu membuka mulutnya. Dengan cepat lidah Getan menerobos masuk dan mengabsen seluruh organ mulut Azura, membelit lidah gadis membuat Azura mendesah.
"Mmhhh..."
"Ger ... gue nggak bisa nafas," ujar Azura disela ciuman mereka. Dengan terpaksa Geran melepaskan ciuman mereka dan menyatukan keningnya juga kening Azura.
Azura mengatur nafasnya yang tersengal-sengal akibat permainan Geran sungguh liar dan tak memberikan Azura cela untuk bernafas. Tapi entah kenapa itu membuatnya menikmatinya, sudah lama dia tak merasakan ciuman itu lagi.
Garen menatap bibir Azura yang sedikit membengkak, dia menghapus jejak saliva yang berada di dagu gadisnya. Gadisnya, benarkan? Tak salah dia menyebut begitu.
"Azura, diamlah."
Tiba-tiba tubuh gadis itu tak dapat di gerakan, perintah Geran seakan tak bisa dibantah. Dia mengerang saat merasakan hisapan dan gigitan di bahunya, Geran memberikan tanda disana. Hanya satu, tapi sangat terlihat jika memakai pakaian yang menampilkan bagian itu.
Setelah melakukan aksinya membuat tanda kepemilikan pada Azura, laki-laki menatap dalam mata Azura membuat gadis itu bisa bergerak kembali.
Azura menatap Geran dengan tatapan tak bisa diartikan, gadis itu tersadar kala melihat senyum manis laki-laki itu.
"Ayo, mereka udah nunggu," ajak Geran sambil menarik tangan Azura yang masih terdiam mencerna semua.
Gadis melipat bibirnya kedalam, dia kembali berciuman dengan Geran. Kenapa dia baru sadar?! Dia tak lagi mempunyai muka di depan laki-laki itu, Azura berjalan dengan menunduk hingga sampai di tempat Zero dan lainnya.
_____
Seorang gadis menikmati semilar angin malam, menjernihkan pikirannya karena kejadian sebelumnya. Dia masih tak percaya apa yang dilakukannya tadi. Gadis itu adalah Azura, mungkin besok dia tak lagi bisa berdekatan Geran. Dan itu membuatnya frustrasi sendiri.
Azura menoleh karena ada yang mengikutinya sedari tadi, dia berdecak melihat dua mobil hitam mengikutinya.
Gadis itu menaikan kecepatan motornya, meliuk-liuk di jalan yang padat dengan kendaraan, dia tak lagi-lagi peduli dengan umpatan para pengguna jalan. Siapa juga yang peduli di saat yang genting seperti ini?
Azura mengendarai morotnya membawa ke tempat tak ada motor atau mobil yang melewati.
Dor!
Satu tembakan di lepaskan oleh mereka untungnya Azura dengan cepat menghindar. Berapa tembakan terus di lepaskan oleh mereka, tapi jangan remehkan gelarnya sebagai Rabbit. Gadis dengan gerakan cepat.
Gadis itu memutar motornya membuat decitan pada aspal, menarik gasnya membawa motornya berjalan kearah mobil itu. Dia menyeringai dibalik helm fullface-nya, melepaskan kedua tangan dari stang motor, mengambil dua buah pistol dari balik jaket yang dipakainya dan melepaskan dua peluru beturut-turut setelah lewat tepat di tengah-tengah kedua mobil. Dengan cepat gadis itu memasukan kembali pistol itu kedalam jaketnya.
DUARRR!!
Kedua mobil itu meledak beberapa meter di belakang Azura, gadis itu tersenyum licik. Mengendarai motornya pulang kerumah membiarkan api berkobar di belakangnya.
"Ayo kita lihat apa kalian bisa membunuhku."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.