30. CEMBURU BERLEBIHAN.

1.3K 141 82
                                        

"Bagaimana keadaan bayi dalam kandengan saya dok?" Tanya Zahra sambil memegangi perut nya, air mata nya tidak berhenti mengalir sejak tadi.

"Ibu Zahra tidak perlu khawatir, bayi dalam kandungan anda kuat, jadi tidak mengalami cidera yang berat. Perut anda kontraksi memang wajar karena kerasnya benturan"

Zahra tersenyum senang, dia lalu menghapus air mata nya, "alhamdulillah, terima kasih dok"

"Iya sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu"

"Iya dok." Tak lama setelah kepergian dokter kandungan tersebut, Alexander datang menghampiri Zahra.

"Terima kasih ya pak, sudah bantu saya" ucap Zahra, seraya tersenyum.

"Sama-sama. Kalau saran saya, seharusnya kamu tidak perlu mempertahankan rumah tangga kamu bersama laki-laki itu. Dan kamu bisa melaporkan tindakan kekerasan suami kamu kepada pihak berwajib" ujar Alexander.

"Allah tidak menyukai perceraian pak, saya akan berjuang sekuat yang saya bisa. Jikalau di tengah jalan, hati saya tidak mampu, maka saya akan pasrahkan semua kepada Allah" jawab Zahra, tanpa sadar di menceritakan isi hati nya kepada seseorang yang belum lama di kenal nya.

Kamu seperti ibu mu, nak..sangat mirip.

"Baiklah, kalau kamu butuh bantuan. Jangan sungkan-sungkan hubungi saya"

Zahra tersenyum, "terima kasih."

***

"Shit! Mau apa mereka?" Puluhan motor mengikuti taksi yang ditumpangi Albara. Mereka asing bagi Albara, sebab dia tidak pernah melihat rombongan mereka.

Brak!

Brak!

"BERHENTI LO ATAU GUE PECAHIN KACA MOBIL INI?!" ancam salah satu dari mereka sambil mengangkat tinggi-tinggi sebuah batu di tangan nya.

"Gimana ini mas? Apa kita berhenti saja?" Tanya supir taksi tersebut, panik.

"Berhenti saja, pak" jawab Albara, kemudian supir itu menghentikan taksi nya di pinggir jalan.

"Tunggu di sini dulu, pak" ujar Albara yang langsung diangguki oleh supir taksi tersebut. Laki-laki itu turun menghampiri puluhan pria yang sengaja menghadang nya.

"Siapa kalian? Kenapa menghadang jalan gue?"

"ARGHH! BACOT LO! SERANG DIA!!" intruksi sang ketua. Puluhan anggota nya langsung menghajar Albara habis-habisan. Albara kalah telak, karena kondisi fisik yang belum sehat sempurna dan ia juga mustahil menang melawan 50 orang sekaligus.

"HABISI DIA! PASTIKAN NYAWANYA IKUT MELAYANG! kALAU TIDAK KITA AKAN BERURUSAN DENGAN MANTAN KETUA MAFIA, TUAN ALEXANDER"

"HA--"

"BERHENTI! TOLONG JANGAN SERANG KANG BARA LAGI!" Seorang perempuan bergamis dengan perut besarnya, berlari tunggang langgang menghampiri Albara yang terbaring penuh darah di aspal jalanan.

"Kang Bara, ba-bangun kang..." Zahra memangku kepala Albara di atas paha nya seraya menepuk pelan pipi laki-laki itu.

"Kang...hiks!" Kelima puluh pria yang menghajar Albara berdiri diam di tempat nya sambil menatap iba ke arah Zahra.

"Bantu perempuan itu" ujar salah satu dari mereka, kemudian membantu Zahra mengangkat Albara ke dalam taksi.

***

"Sudah Ra. Jangan nangis terus, Albara pasti akan baik-baik saja" tutur William. Namun, Zahra belum juga berhenti menangis.

"Mending makan dulu Ra, kamu belum makan kan dari tadi?"

ALBARA✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang