Laki-laki berjaket hitam melajukan motor nya dengan kecepatan penuh. Ia tidak peduli dengan kendaraan lain yang hampir di tabrak nya. Albara panik setengah mampus, ketika mendapat kabar bahwa Zahra masuk ke rumah sakit.
Sesampainya di parkiran rumah sakit, Albara langsung berlari masuk ke dalam gedung tersebut. Keringat dingin di dahi nya terus bercucuran, dia takut, dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Zahra.
Albara tidak mengerti dengan perasaan nya sendiri. Dia seakan di permainkan, ini benar-benar sulit. Disaat Albara berencana serius pada Aisyah, saat itu juga Zahra datang tiba-tiba. Hal itu mengacaukan pikiran nya, Albara tidak ingin menyakiti Zahra, disisi lain dia juga tersiksa karena pernikahan ini.
Meski begitu, Albara takut, takut kehilangan gadis bermata biru meneduhkan itu.
"Dari mana aja kamu?" Tanya Gunawan, menatap tajam putra tunggal nya. Melihat wajah Albara yang babak belur, pria paruh baya itu langsung dapat menyimpulkan.
"Tawuran lagi?" Selidik Gunawan.
"Zahra kenapa bisa masuk ke rumah sakit Pa? Apa yang terjadi sama Zahra? Apa luka nya parah?" Tanya Albara bertubi-tubi, rasa panik kian menyergap.
"Punya istri itu di jaga, bukan di tinggal kelayapan gak jelas! Kamu nggak pernah punya tanggung jawab sama Zahra. Suami macam apa kamu ini sebenarnya?!"
"Maafin Bara, Pa"
"Minta maaf itu ke Zahra, bukan ke Papa. Kalo Mama kamu tau hal ini, habis kamu!"
Ceklek
Wanita paruh baya dengan Jas putih, keluar dari ruangan Zahra. Gunawan dan Albara langsung menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan menantu saya dok?"
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya kedua nya, bersamaan.
"Alhamdulillah, pasien dan kandungan nya tidak mengalami cedera berat karena kecelakaan itu"
"A-apa dok, k-kandungan?"
"Ya, istri anda sedang hamil, dan usia kandungan nya sudah berjalan 8 minggu" jawab dokter itu.
Air mata Albara mengalir begitu saja, pasokan udara dalam dada laki-laki tersebut kian menipis, rasa sesak bercampur haru kini memenuhi lubuk hati nya. "Jadi istri saya beneran hamil dok?"
"Benar Mas. Tolong di jaga baik-baik istri nya, sebab usia kandungan nya masih sangat kecil. Janin dalam kandungan istri anda termasuk kuat, karena biasanya jika kandungan di usia tersebut rentan keguguran,"
Albara mengusap bersih air mata nya, "boleh saya masuk dok?"
"Silahkan."
***
Zahra duduk di atas blankar sambil mengusap perut nya, ia sama sekali tidak pernah berpikir bahwa diri nya sedang hamil. Mual-mual yang beberapa minggu ini dia rasakan, ternyata tanda-tanda kehamilan.
Pintu berdecit tiba-tiba, menampakkan seorang laki-laki yang sejak tadi Zahra cari karena tiba-tiba menghilang tanpa kabar.
"Dari--"
Albara berlari menghampiri perempuan dengan perban di kepala nya dan langsung memeluk Zahra erat, laki-laki itu membenamkan wajah nya di ceruk leher Zahra sambil menangis tersedu-sedu. Gadis itu mengusap lembut ranbut basah Albara dengan sayang.
"Ma-maafin aku Ra. Aku--"
"Nggak perlu di maafkan Zahra!"
Albara dan Zahra menoleh ke arah sumber suara, Diana berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam. Wanita paruh baya itu terlihat sangat marah. Diana berjalan menghampiri mereka, Albara semakin menguatkan pelukan nya di pinggang istri nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALBARA✔
Fiksi Remaja● SPIN OFF ARSENIO ● "𝚃𝚎𝚛𝚗𝚢𝚊𝚝𝚊 𝚋𝚎𝚗𝚊𝚛 𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚝𝚊 𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐-𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐. 𝙼𝚎𝚗𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒 𝚜𝚎𝚜𝚎𝚘𝚛𝚊𝚗𝚐 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚑𝚊𝚛𝚊𝚙𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚎𝚑𝚊𝚍𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚊𝚔𝚒𝚝."-𝓝𝓪𝓯𝓲𝓼𝓪 𝓐𝔃-𝓩𝓪𝓱𝓻𝓪. L...
